Langsung ke konten utama

75. Panas dan Dingin // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

!! Konten Dewasa !!

 

Triana

 

Ia tidak tahu tubuhnya sudah terbiasa menahan rasa sakit.

Mungkin memang tubuh Triana sudah terbiasa pada luka yang mengucurkan darah atau Vlador yang kali ini menghisap darahnya dengan cara tidak biasa.

Tanpa Triana sadari, Vlador telah menenggelamkannya ke dalam pelukan hangat hingga Triana tidak lagi merasa kedinginan.

Kening Triana mengkerut tipis. Di telinganya, ia hanya mendengar geraman Vlador yang tidak pernah pria itu buat saat meminum darahnya. Rasa sakit pada luka gigitan yang sebelumnya mengganggu Triana berubah menjadi rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Napas semakin memberat dan jantung berdegub keras, Triana merasa seolah ia dipengaruhi oleh sihir. Sesuatu seakan menggelitik isi perutnya dari dalam dan membuat seluruh sendinya kehilangan tenaga. Tangannya lemas dan bergetar hingga gelas yang ia pegang terjatuh ke lantai.

Suara keras dari gelas yang membentur lantai membangunkan Triana dari sihir yang mengikatnya. Matanya yang terpejam seketika terbuka, begitu pula dengan akal sehatnya. Di saat itu, ia menyadari bahwa Vlador tidak lagi menghisap lukanya atau meminum darahnya. Bibir panas Vlador telah berpindah ke leher Triana. Panas yang menjalar di badannya bukan hanya perasaannya saja, melainkan berasal dari kedua tangan Vlador yang bergerak di balik gaun tidurnya.

“Ah!” Triana memekik ketika benda panas itu meremas dadanya. Ia mengerang seraya berusaha mendorong tubuh Vlador.

Pria itu bukan lagi meminum darahnya. Pria itu melakukan hal yang lain.

“A-apa yang kau lakukan?” Seru Triana.

Vlador menatap Triana dengan mata merah menyalanya. Kelopak matanya mengerjap, seakan ia juga tengah berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Ia menarik kedua tangannya keluar dari balik gaun tidur Triana yang sudah berantakan, lalu mengusap mulutnya sendiri dengan jarinya.

Menatap darah pada jarinya, Vlador terkekeh kecil. “Ternyata aku hanya terlalu naif.”

Masih berusaha mengendalikan napasnya, Triana menatap Vlador dengan kening mengkerut. “Apa maksudmu? Kenapa kau… menyentuhku?”

Pertanyaan Triana membuat Vlador menaikkan pandangan untuk menatapnya tajam. “Aku bukan haus akan darahmu. Aku haus akan dirimu, Triana.”

Kalimat itu membuat mata Triana terbelalak. Itu dia. Mata Vlador menatapnya seakan ia hendak menerkam Triana, namun anehnya, ia tidak merasakan ancaman di sana. Kini Triana mengerti apa arti tatapan Vlador akhir-akhir ini.

“Maaf sudah bersikap kurang ajar padamu. Sebaiknya kita jangan bertemu dahulu sampai kita tiba di Vidiana.” Tutur Vlador, hendak turun dari ranjang.

“Tunggu,” Triana menangkap tangan Vlador.

Terhenti, Vlador menatap tangan Triana dan mengambilnya. “Kau tahu, bahkan sentuhan jarimu bisa membuatku menghancurkanmu saat ini juga.”

Kemudian Vlador mengecup dua kali telapak tangan Triana dengan bibir panasnya yang masih memiliki noda darah. Ia menatap Triana tajam. “Kau tidak sepolos itu, ‘kan?”

Meneguk liur, Triana berusaha mengendalikan napasnya yang berat dan panas. “Aku mencintaimu. Bagaimana perasaanmu terhadapku?”

“Berhentilah mengatakan itu karena aku tidak akan bisa membalasnya. Vampir tidak bisa mencintai.” Jawab Vlador tegas.

Lalu pria itu menyondongkan tubuhnya lebih dekat pada Triana, hingga memaksanya merendahkan punggungnya ke belakang. “Aku hanya ingin memilikimu,” ucap Vlador seraya bergerak ke atas tubuh Triana, lalu melanjutkan, “Seutuhnya. Selamanya.”

Dengan napas tercekat, Triana berbaring di bawah kukungan kedua tangan Vlador. “Jadi… itu bukan lelucon?”

Vlador menenggelamkan wajahnya di antara leher dan tulang selangka Triana. Ia menarik napas panjang sebelum berbisik dengan suara yang membuat kulit Triana meremang. “Yang mana?”

Meneguk liur, Triana menjawab, “Bahwa aku adalah milikmu, bahwa aku harus berguna untukmu, dan mungkin… bahwa kita adalah pasangan.”

Terkekeh, Vlador mengecup leher Triana. Ia menarik wajahnya kembali untuk menatap Triana dengan senyum miring. “Apa kau bisa menerima itu semua meski aku tidak bisa memberimu hal bernama cinta itu?”

Meski sedikit sebal, Triana membalas, “Jika kau tidak mungkin mencintai, namun kau bisa menemaniku selamanya, ‘kan?”

“Apa yang menjadi milikku tidak akan pernah aku lepaskan. Aku akan memberimu kehidupan yang layak di sampingku, bahkan sebagai pasanganku.” Jawab Vlador.

Diam sejenak, Triana tersenyum tipis. “Aku rasa menjadi milikmu sudah cukup bagiku.” Ucapnya sebelum mengangkat tubuhnya untuk mengecup bibir Vlador.

Bagai sebuah korek api menyala yang dilemparkan pada setumpuk ranting kering, satu kecupan Triana dibalas oleh bertubi-tubi kecupan dari Vlador. Ia membawa Triana untuk kembali berbaring sementara satu tangannya menyelinap ke belakang leher gadis itu. Kecupannya berubah menjadi lumatan yang menuntut.

Setelah berhasil membuat Triana kehabisan napas, Vlador berpindah untuk mengecup pipi, rahang, leher, dan turun ke pundak Triana.

“Akh!” Triana memekik ketika rasa nyeri menyetrumnya ketika kecupan Vlador mengenai luka gigitannya.

“Maaf sudah melukaimu. Itu tidak akan terjadi lagi.” Ucap Vlador sebelum beberapa kali menjilati luka itu dengan lembut.

Awalnya luka itu menghasilkan rasa nyeri dan perih yang sama, namun perlahan rasa sakitnya mereda dan berganti menjadi rasa panas yang menjalar ke wajah Triana.

Sementara itu, tangan Vlador bergerak membuka lapisan gaun tidur tebal yang membungkus tubuh Triana, membuat udara dingin menyentuh kulit Triana secara langsung. Namun hal itu tidak bertahan lama karena sentuhan tangan Vlador seperti api yang membakar kulitnya.

Dingin ditutupi oleh kehangatan, dan kehangatan itu berangsur berubah menjadi hawa panas yang seakan membungkus tubuh Triana. Ia dengar vampir memiliki tubuh yang dingin seperti mayat. Ia hampir melupakan bahwa Vlador setengah manusia.

Setiap jengkal tubuh keras Vlador menghangatkan tubuh Triana yang tersembunyi di bawahnya. Sentuhan jari pria itu membuat tubuh Triana bergetar dan kehilangan kendali. Kecupan bibir Vlador seperti bara yang mendidihkan darahnya.

Dalam sekejap, Vlador telah berubah menjadi rantai jangkar yang melilit Triana dan menenggelamkannya ke dasar laut ketidakwarasan, memaksanya berusaha menarik udara melalui mulutnya dan menghembuskannya dengan suara yang tidak pernah ia buat sebelumnya.

“Cinta yang selalu kau sebutkan itu.. jelaskan padaku apa artinya.” Vlador berbisik di telinga Triana, lalu menatapnya lembut.

Dengan napas tersengal, Triana menjawab, “Ketika kau… tidak memiliki alasan mengapa kau sangat peduli pada seseorang dan selalu ingin berada di dekatnya. Itulah… tanda bahwa kau mencintai seseorang, Tuan… maksudku, Pangeran-“

“Triana.” Ucap Vlador, menghentikan permainannya.

Kata itu membuat Triana terdiam. Ia menatap Vlador yang menatapnya tajam. Dari semua hal yang Vlador lakukan, hal yang membuat lilin jiwanya meleleh adalah ketika pria itu memanggilnya dengan nama.

“Ya,” Jawab Triana.

“Mulai sekarang, panggil aku dengan hanya namaku: Vlador.”

Triana tertegun sejenak, lalu berdehem dan mengeluarkan suara serak, “Vlador.”

Senyum tipis merekah di wajah Vlador. Lalu ia mengusap kepala Triana dan mengecup keningnya cukup lama, sebelum berpindah ke rahang dan lehernya.

“Aku sudah berada di batas kesabaranku dan tubuhmu juga sudah siap.” Ucap Vlador, lalu melanjutkan, “Kau masih memiliki kesempatan terakhir untuk menghentikanku sebelum aku merenggut hal penting darimu yang tidak akan kau miliki lagi.”

Kalimat Vlador bagai sebuah bongkah gula yang diaduk ke dalam cangkir teh Triana yang sudah terlalu manis. Ia tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Gula itu hanya bertahan sebentar sebelum ikut larut dengan rasa manis yang terus berputar di dalam cangkirnya.

Hal penting? Ya, sejak kecil Triana dididik untuk menjadi wanita bangsawan terhormat yang menilai keperawanan sebagai sebuah kesucian yang hanya boleh diberikan kepada suaminya seorang.

Namun ia tidak akan kembali kepada keluarganya lagi. Ia tidak peduli siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Yang ia pedulikan hanya masa depannya bersama Vlador, satu-satunya pria yang selalu melindunginya tanpa mempedulikan siapa dirinya dan mengajarkannya untuk menjadi wanita pemberani.

“Ingatlah bahwa aku tidak bisa mengembalikannya padamu.” Vlador kembali berbisik, mengembalikan fokus Triana. Bibirnya menarik senyum tipis. “Dan aku akan memintanya lagi dan lagi darimu hingga dunia ini berakhir.”

“Apa aku akan mengandung anak vampir?”

Pertanyaan Triana membuat Vlador menatap matanya dengan satu alis terangkat.

“Kau mau?” Vlador bertanya balik.

“Mungkin masih terlalu dini untuk mengandung. Tolong pastikan itu.” Triana tertawa kecil.

Jika harus melepaskan kesuciannya, ia akan memberikannya pada Vlador, pria yang ia cintai.

Kekehan mengalir dari bibir Vlador. Ia mengecup bibir Triana sekali, lalu sayap raksasa muncul dari punggung pria itu.

“Sayapmu,” Triana bergumam dengan mata membesar.

“Aku akan menghangatkanmu,” Ucap Vlador seraya menggerakkan sayap besarnya untuk membungkus tubuh mereka.

Kegelapan membutakan pengelihatan Triana dan kesunyian menulikan pendengarannya. Hal yang bisa ia lihat dan dengar hanyalah kedua mata merah menyala Vlador dan suara deru napas mereka.

Vlador meraih kedua tangan Triana untuk melingkari leher besarnya. Pekikan nyaris terlontar dari mulut Triana ketika kedua tangan Vlador mencengkram pinggulnya dan bergerak turun ke pahanya. Ia mengarahkan kedua kaki Triana untuk melingkari pinggangnya yang keras.

“Ini akan menjadi malam yang tidak akan kau lupakan. Menjeritlah sekeras yang kau butuhkan, Triana. Tidak ada yang bisa mendengarmu.”

(Klik Lihat Produk)

(Klik Lihat Produk)



TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA 💜💜


Komentar

  1. Semngattt ya thorr update nyaa💜

    BalasHapus
  2. OMGGG😆😆 SEMANGAT TERUSS KAKK DITUNGGU UPDATE SELANJUTNYA ❤️❤️❤️🔥🔥🔥🔥

    BalasHapus

Posting Komentar