Vlador
Rambut blonde itu menggelitik leher dan lengannya.
Matanya terbuka, hanya untuk menatap garis-garis cahaya yang semakin terik menerobos masuk ke dalam kamar gelap melalui celah daun jendela-jendela yang masih tertutup.
Vlador tidak melupakan sedetikpun hal yang berlangsung semalam, bahkan sejatinya ia tidak tertidur sama sekali. Sesuatu yang aneh terjadi padanya.
Itu bukan hal buruk, meski dirinya yang dulu akan berpikir demikian.
Itu adalah hal yang tidak biasa, namun nalurinya berkata bahwa ia harus membiasakan diri dengan hal tersebut.
Selama hidupnya, ia tidak pernah merasa sepenuh itu.
Dan semua ketidakbiasaan yang terjadi padanya berasal dari seseorang yang sedang terlelap tak berdaya di dalam pelukannya.
Kedua mata biru cerah yang semalam terbuka lebar kini terpejam erat.
Napas terengahnya kini berhembus teratur.
Dan suara rintihan kini menjadi dengkur tipis.
Triana tidur seperti bayi di dalam dekapan Vlador.
Ya, gadis itu telihat seperti bayi mungil yang sedang demam dengan bercak-bercak merah di kulit putihnya dan bengkak di bibir merahnya. Namun yang Triana miliki bukan disebabkan oleh sebuah penyakit.
Hari sudah siang, namun Triana masih terlelap. Itu wajar karena mereka baru selesai ketika pagi hampir terbit. Dan sejak itu, Vlador tidak berhenti memperhatikan Triana.
Tiba-tiba tubuh Triana tersentak dan matanya terbuka lebar. Kedua mata biru itu langsung menyorot wajah Vlador.
“Kau tidur sangat lama.” Ucap Vlador, tidak mengerti apa yang mengejutkan Triana.
Bangkit duduk, Triana nampak meringis, membuat Vlador memegang lengannya.
“Apa kau merasa sakit? Kau boleh tidur lagi jika masih lelah.” Ucap Vlador.
Triana hanya diam. Ia menatap sekeliling, lalu melihat ke bawah, pada tubuhnya sendiri.
“Kau tiba-tiba tertidur, jadi aku yang memakaikan gaun tidur itu padamu. Aku juga sudah membersihkan tubuhmu. Tidak perlu berterimakasih karena itu adalah bentuk tanggungjawabku.” Jelas Vlador.
Triana kembali menatap Vlador dengan kening sedikit mengkerut. “Kita…”
Vlador tidak mengerti mengapa ia merasa tidak nyaman di dalam dadanya saat ia berusaha tenang menunggu kata selanjutnya dari mulut Triana.
Akan tetapi, kedua bibir merah itu malah mengatup. Triana kembali diam.
“Kau terlihat bingung.” Ucap Vlador, lalu menarik napas panjang. “Apa kau ingin memastikan apa yang terjadi semalam? Kita telah melakukannya. Aku sudah mengambil kesucianmu.”
Triana menurunkan pandangannya. “Jadi itu nyata, ya?” ia bergumam.
Menghela, Vlador mengambil segelas air dari atas nakas, dan memberikannya pada Triana. “Minumlah. Suaramu sangat serak.”
Setelah selesai meneguk air, Vlador mengambil gelas yang hampir kosong itu sambil menerka isi pikiran Triana dari ekspresi wajahnya. Ia pernah mendengar bahwa manusia akan lebih sadar jika meminum air setelah bangun tidur.
“Apa kau menyesal?” Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Vlador.
Triana menggeleng pelan, lalu kembali menatap Vlador. “Apa aku akan mengandung anakmu setelah ini?”
Tawa bersama helaan napas lega menyembur dari bibir Vlador. Lehernya sudah tidak lagi tegang saat ia melihat Triana ikut tertawa.
“Ketika kau sudah siap, maka kau akan mengandung anakku.” Vlador mengusap pipi Triana dengan punggung jemarinya.
Triana bergidik dingin, lalu menarik selimut untuk membungkus tubuhnya. “Aku hanya akan mengandung anak suamiku.”
Tawa Vlador berubah menjadi senyum lembut. Ia menarik Triana ke dalam pelukannya. “Jadi aku harus menikahimu dahulu agar bisa mendapat anak, ya?”
“Jika kau ingin aku melahirkan anakmu, maka itulah syaratnya.” Triana memicingkan mata.
“Sekarang aku ragu apakah kau memang ingin melahirkan anakku atau hanya ingin aku menikahimu.” Ucap Vlador.
“Ya, tentu saja aku akan mengutukmu jika kau tidak menikahiku setelah apa yang kau lakukan semalam. Bahkan rasanya mustahil seorang gadis tidak hamil setelah melalui hal itu. Sekarang tubuhku sakit semua. Aku rasa aku akan kesulitan berjalan normal selama beberapa hari ke depan.” Omel Triana.
Menatap Triana lekat-lekat dengan kening mengkerut, Vlador memastikan, “Apakah separah itu? Ketahuilah bahwa aku sudah menahan diri; hal yang tidak pernah aku lakukan dalam hidupku.”
“Jika itu yang kau sebut menahan diri, maka aku pasti sudah mati jika kau tidak menahan diri semalam. Tolong jangan samakan aku dengan vampir wanita.” Triana memutar matanya.
Kalimat terakhir Triana membuat Vlador meneguk liur. Gadis itu pasti mengingat apa yang telah ia lakukan bersama Elizabeth. Pelacur itu telah mencoreng wajahnya di mata Triana. Sayang sekali ia tidak sempat memutus kepalanya saat itu.
Berdehem, Vlador berdalih, “Itu karena semalam adalah pengalaman pertamamu. Kau akan merasa lebih baik pada pengalaman selanjutnya. Aku akan lebih berhati-hati nanti malam.”
Mata Triana membesar. Ia menatap Vlador tidak percaya. “Nanti malam? Apa kau bercanda, Tuan Vlador?”
Ekspresi Triana menggelitik perut Vlador. Ia tertawa kecil, lalu melihat bekas gigitannya di leher Triana. Ia mengusapnya pelan dengan jari jempolnya. “Apakah ini sakit?”
“Sedikit.” Jawab Triana.
Kemudian Vlador meletakkan wajahnya di leher Triana dan menyeka luka tersebut dengan lidahnya beberapa kali. Setelah itu, ia mengecup pipi Triana.
“Triana, dengarlah ucapanku,” Vlador memegang kedua pundak gadis itu dan menatapnya lekat-lekat.
“Aku bersumpah akan melindungimu. Apapun yang terjadi, ingatlah itu. Aku juga akan menikahimu secara resmi di gereja jika itulah yang kau inginkan. Namun sebelum itu, aku ingin mengingatkanmu lagi bahwa aku adalah seorang vampir. Aku hidup dari darah manusia, bangsamu. Aku harus membunuh manusia agar tetap kenyang. Aku adalah imortal.” Jelas Vlador.
Triana terdiam beberapa saat, lalu menjawab. “Jika aku tua dan mati nanti, bagaimana denganmu?”
“Aku tidak tahu.” Vlador menurunkan tangannya dari kedua pundak Triana. “Selama ini aku hidup sendirian, hanya memiliki diriku sendiri dan hartaku. Kau adalah makhluk hidup pertama yang menjadi milikku.”
“Aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian. Apa mungkin… aku bisa menjadi imortal sepertimu?” Tanya Triana dengan mata mulai berkaca-kaca.
Vlador menggeleng. “Tidak. Ibuku kehilangan ingatannya dan menjadi gila. Aku tidak mau hal mengerikan itu juga terjadi padamu.”
“Pasti ada cara lain. Kita harus mencari tahu, sama seperti kutukan yang berhasil kita angkat. Aku yakin ada cara untuk menjadikanku imortal tanpa memberi efek samping itu.”
Menanggapi kalimat menggebu Triana, Vlador tersenyum, lalu mencuri kecupan dari bibir gadis itu. “Itu masih lama, lady. Sekarang kau hanya perlu menikmati hidup barumu dan melakukan apa saja yang kau impikan.”
Triana mengela berat, lalu menyandarkan kepalanya di dada Vlador. “Jika aku bisa melahirkan anak vampir, ia akan menemanimu ketika aku pergi. Dengan begitu kau tidak akan sendirian lagi.”
Vlador hanya diam dengan rasa sakit pada dadanya. Ia tidak pernah menikmati waktu bersama orang lain selain Triana. Dan pada momen itu, ia mengetahui apa yang dinamakan kebahagiaan.
Vlador bahagia memiliki Triana di sisinya. Namun kenyataan bahwa di masa depan Triana akan pergi untuk selamanya terasa seperti duri di dalam jantungnya yang hanya bisa berdetak karena gadis itu.
Namun bagaimana mungkin ia menunjukkan kekhawatiran itu di depan Triana?
“Masih terlalu dini untuk memikirkan hal itu. Masih banyak hari untuk kita nikmati. Kau tidak perlu menghawatirkan apa-apa.” Tutur Vlador pada Triana dan dirinya sendiri.
![]() |
| (Hair Clip) Lihat Produk >> |
![]() |
| (Tempat Sampah) Lihat Produk >> |



Komentar
Posting Komentar