Langsung ke konten utama

14. Mengidam // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador.

Tubuh manusia tidak sama dengan tubuh vampir. Manusia mudah merasa lapar. Mereka butuh makan dan minum setidaknya sehari satu kali. Ketika energi mereka terkuras namun mereka tetap dipaksa beraktivitas, tubuh mereka akan lemas dan mereka bahkan akan kehilangan kesadaran.

Sebelum terkurung selama seratus tahun, Vlador tidak pernah bergaul dengan manusia. Sejatinya, hanya sedikit yang ia ketahui tentang mereka. Selama ini yang ia pedulikan tentang manusia hanyalah golongan mana yang darahnya terasa lebih enak dan segala keburukan sifat mereka.

“Hei, sadarlah! Jangan mati!” Ujar Vlador dengan suara agak keras seraya terus menepuk pipi Triana.

Namun meski ia telah berusaha membangunkan Triana berkali-kali, kedua matanya terus saja menutup. Vlador sungguh lupa bahwa manusia sangat lemah, dan kelihatannya gadis ini adalah salah satu dari golongan terlemah. Ia tidak mengerti mengapa Triana harus pingsan hanya karena sempat kehilangan sedikit darah dan memuntahkan isi perutnya.

“Ini tidak benar. Nyawaku terancam.” Gumam Vlador seraya bangkit berdiri.

Angin keras menghantam tubuh Vlador. Pohon-pohon melewatinya dengan kecepatan tinggi. Tidak. Yang sesungguhnya adalah; ia yang berlari dengan kecepatan melebihi laju kuda pacu.

Kedua tangannya melindungi seorang gadis manusia yang tidak sadarkan diri dari angin keras yang menghantam tubuh mereka. Selama ini, Vlador tidak pernah berlari sambil menggendong seseorang. Ternyata gaun besar yang selalu wanita gunakan sungguh menyusahkan.

Tadinya Vlador berpikir untuk menikmati suasana pagi di tengah hutan setelah lebih dari seratus tahun membusuk di ruang bawah tanah. Namun kelihatannya ia tidak bisa hidup setenang itu selama kutukan sial ini masih mengikatnya. Ia memiliki parasit yang akan terus menyusahkannya.

***

Triana.

Rasa sesak menekan dada Triana. Setiap detakan jantungnya terasa seperti pukulan balok kayu pada dadanya. Dengan kening mengkerut, ia perlahan membuka matanya yang berat.

Seperti mimpi kemarin, Triana mendapati langit-langit asing di atas tubuhnya dan rasa sakit bertalu-talu yang menyerang kepalanya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mimpi buruk ini terus berulang?

“Baguslah kau sudah sadar. Apa kau bisa mendengarku?”

Suara berat dengan intonasi mendorong tersebut membuat Triana menggulirkan matanya ke samping. Wajah pucat seorang pria dengan tatapan tajam dari mata keemasannya menyapa.

Triana mengenal pria itu. Sebelumnya, pada mimpi terakhirnya, pria itu bertengger di kaki ranjang seperti monster kalelawar. Namun sekarang, ia duduk di samping ranjang dengan raut yang, sepertinya, terlihat khawatir.

Tenggorokan dan mulut keringnya membuat Triana tidak mampu menjawab. Ia hanya mampu membuka kedua bibir keringnya sedikit untuk mencoba mengeluarkan suara, namun hanya udara kecil yang mampu ia hasilkan tanpa bisa menggetarkan pita suaranya.

Tiba-tiba sesuatu yang keras dan dingin menyentuh bibir Triana. Ia mengerutkan dahi saat melihat sebuah gelas menempel di sudut bibirnya.

“Minum. Tubuhmu kekurangan cairan.” Ucap Vlador seraya memiringkan gelas itu agar airnya bergerak masuk ke dalam mulut Triana.

Dalam posisi berbaring dan dengan kesadaran yang bahkan belum setengahnya kembali, segelas air datang menerjang tenggorokan dan lorong hidung Triana hingga membuatnya tersedak.

“Tsk…” Vlador mendecak dan segera mengangkat gelasnya saat Triana terbatuk-batuk hingga membuat air itu tumpah membasahi pipi dan lehernya.

Kesegaran dari air dingin yang dituangkan dengan semberono ke dalam mulut hingga mengenai hidungnya membuat kesadaran Triana kembali penuh. Ini bukan mimpi. Ya, pria di sampingnya adalah vampir. Namanya Vlador Lev Dracount. Mereka dikutuk bersama oleh seorang penyihir yang kini telah mati.

Meski tubuhnya terasa sangat lemah, kejutan itu membuat Triana mampu memiringkan tubuhnya dan menumpu pada satu sikunya sambil terus terbatuk.

“Apa yang salah denganmu?” Tanya Vlador, mengerutkan kening.

Kehabisan kesabaran, Triana memelototi vampir itu. “Kau… Apa kau berencana membuatku mati tersedak? Apa kau… tidak melihat aku sedang berbaring?”

Kedua mata Vlador membesar dan keningnya semakin mengkerut. “Apa yang salah dengan itu? Kau tidak bisa minum sambil berbaring?”

“Aku… sedang sakit. Aku bahkan baru sedikit tersadar,” Ucap Triana dengan suara kembali melemah.

“Yah, aku tidak tahu tentang itu. Setidaknya sekarang kau sudah sadar dan itu bagus. Wajahmu juga sudah mendapatkan warnanya kembali.” Vlador menggidik bahu.

“Oh, Tuhan… kenapa aku harus mengalami ini?” Gumam Triana pelan seraya kembali berbaring di atas bantalnya yang basah. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut semakin parah.

Tanpa menghiraukan lagi Triana, Vlador bangkit berdiri dengan gelas kosong di tangannya. Beberapa detik kemudian, ia kembali dengan gelas yang telah terisi kembali.

“Sekarang kau sudah sadar, maka minumlah dengan benar.”

Melirik ke samping, Triana berusaha mengatur napasnya yang agak terengah. Ia mencoba bangkit duduk dari tidurnya, namun ia tidak perlu berusaha keras karena tangan Vlador bergerak untuk mencengkram lengan atasnya dan menariknya duduk.

“Terima kasih,” Ucap Triana pelan seraya menerima gelas itu.

Terakhir Triana meminum air adalah ketika ia berada di dalam kereta kuda sebelum tiba di kastil milik Vlador. Berbagai hal mengejutkan yang terus memacu adrenalinnya membuat Triana terus melupakan bahwa ia sedang haus dan membutuhkan minum hingga tubuhnya benar-benar dehidrasi.

Meneguk air banyak-banyak, Triana berusaha membasahi bukan hanya mulutnya, namun seluruh organ dalam tubuhnya yang seakan memaksa dirinya membanjiri mereka dengan air segar. Ia bahkan tidak menggubris sosok Vlador yang terus memperhatikannya dalam diam.

Setelah selesai dengan tegukan terakhirnya, Triana menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya yang menciut. Lalu ia menurunkan gelas yang telah kosong itu seraya mendesah puas, “Aku benar-benar kehausan.”

“Terima kasih telah membawakanku air, Tuan Vlador.“ Ucap Triana seraya menoleh pada Vlador untuk mengembalikan gelasnya, namun tidak mendapatkan respon dari pria yang nampak mematung tersebut. “Eum… Apa… ada yang salah?”

Menyipitkan matanya, Triana berusaha mempelajari ke mana arah mata Vlador menatap. Lalu kedua matanya membesar saat ia menyadari bahwa itu adalah lehernya. Menjatuhkan gelasnya, ia membungkus lehernya yang masih basah dengan kedua tangan.

“Ka-kau sedang memperhatikan apa? Kau akan mati jika aku mati. Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu!”

“Aku tahu. Namun aku percaya kau tidak akan berkata seperti itu jika kau tahu seberapa besar usahaku untuk menahan diriku sekarang.” Jawab Vlador dengan tatapan masih terpaku pada leher ringkih Triana.

“Kau… menahan dirimu?” Ulang Triana.

Vlador mengerjapkan mata, lalu menaikkan pandangannya pada wajah Triana. “Apakah kau tidak memahami yang kutukannya katakan? Aku mengidam darahmu. Jika aku tidak menahan diriku, kau adalah mayat kering sejak kemarin malam.”

“Aku mengerti maksud kutukan itu, namun… aku tidak berpikir kau harus sebegitu keras menahannya.” Ucap Triana dengan suara semakin memelan dan pandangan menurun.

Lalu ia kembali mengangkat kepalanya lagi dan menatap vampir itu dengan kedua mata membesar. “Sama sepertimu, aku sering mengidam kudapan manis, sup hangat, atau steak. Namun aku harus menahannya untuk mempertahankan berat badanku agar tetap ideal. Dan aku selalu berhasil menahan keinginan makanku jika aku mengalihkan fokusku pada hal lain. Aku yakin kau juga bisa melakukannya, Tuan Vlador. Aku percaya, sebenarnya itu tidak sesulit yang kau katakan.”

Sebuah tawa kecil lolos dari bibir merah Vlador. “Oh, Itik… mengidam yang aku alami jauh berbeda dengan milikmu.”

Mainan Kebosanan >>>

Jas Hujan >>>




Komentar