Triana.
“Oh, Tuan Vampir yang hebat, aku percaya kau tidak akan meremehkanku jika kau pernah merasakan lezatnya kue-kue, stew gurih, steak lembu lembut, dan pie daging yang baru saja keluar dari panggangan buatan koki kastilku.” Sahut Triana dengan dagu terangkat.
Tiba-tiba… Krrrrr!
Kedua mata Triana seketika membesar. Tangannya bergerak cepat memeluk perutnya sendiri. Ia tersenyum malu pada Vlador yang juga terlihat agak terkejut mendengar suara keras itu.
“Maafkan aku. Kelihatannya mengingat semua makanan itu membuatku kelaparan.”
“Aku percaya itu bukan hanya karena kau membayangkan semua makanan itu.” Vlador bangkit dari duduknya. “Berterimakasihlah, Itik naif. Aku telah menyediakan makanan untukmu.”
“Kau menyediakan makanan untukku?” Kedua alis Triana terangkat tinggi.
“Jangan mengulang kalimatku.” Ucap Vlador dalam langkahnya menuju sebuah meja di sisi lain ruangan.
Dengan jantung berdebar dan napas menggebu, Triana merekatkan padangannya pada Vlador yang sosoknya seakan nyaris menghilang di sisi gelap kamar yang hanya mengandalkan pencahayaan dari sinar matahari yang menembus celah gorden jendela karena semua lilin sudah dimatikan.
Triana memang sangat kelaparan. Kini mengetahui bahwa Vlador telah menyiapkan makanan untuknya membuat ia berpikir bahwa kelihatannya Vlador tidak sejahat vampir yang selalu diceritakan oleh orang-orang.
Kira-kira apa yang Vlador siapkan untuknya? Apakah itu roti dan stew? Atau, apakah itu hanya sup sayur biasa? Ah… Bahkan Triana akan menelan sebuah roti dengan butter belaka. Ia sungguh kelaparan untuk menelan apa saja.
Senyum lebar membentang di bibir Triana ketika Vlador tiba dengan sebuah nampan tanpa piring yang membuat keningnya sedikit mengkerut.
“Selamat makan,” Ucap Vlador, meletakkan nampan itu di atas pangkuan Triana.
Rahang menggantung, Triana menatap tumpukan daging kemerahan dengan bentuk acak-acakan di atas nampan tersebut tanpa berkedip. Itu tidak terlihat seperti makanan, melainkan sesuatu yang dibawa anjing peliharaan Paman Harvey dari hutan sebagai mainan.
“Maaf, tapi… apa ini?” Tanya Triana tanpa mengalihkan tatapannya dari daging aneh di atas pangkuannya.
“Itu adalah daging kelinci bakar. Kalian, manusia, memakan makanan matang, ‘kan? Nikmatilah,” Jawab Vlador.
“Be-begini, Tuan Vlador…” Triana mengangkat wajahnya yang terasa kaku untuk menatap vampir itu. “Sebelumnya aku sangat terima kasih untuk keramahanmu menyajikan makanan untukku. Sejujurnya, aku tidak pernah makan daging kelinci dan aku sama sekali tidak keberatan untuk mencoba. Namun… bolehkah aku tahu bagaimana caramu memanggang ini?”
“Aku membakarnya dengan api, kemudian mengulitinya.” Jawab Vlador, sedikit menyipitkan matanya, lalu melanjutkan, “Aku dapat melihat bahwa ini tidak sesuai dengan selera bangsawanmu. Namun setidaknya daging itu matang dan aku menyarankanmu untuk tetap memakannya agar kau tidak mati kelaparan.”
Triana terdiam menatap wajah dingin Vlador. Pria itu takut dirinya kelaparan hingga rela memanggang daging kelinci di api yang pada dasarnya dibenci oleh bangsa vampir. Kelihatannya ia tidak seburuk itu.
“Jika kau mati, maka aku akan mati. Aku tidak mau mati dengan alasan konyol, yaitu karena kau kelaparan.” Sambung Vlador.
‘Oh… Tentu saja.’ Triana menarik senyum kecut. Bagaimana mungkin ia melupakan itu? Ia yang bodoh.
“Yah… Setidaknya kau memiliki peralatan makan di sini,” Ucap Triana, hendak mengambil pisau dan garpu yang tergeletak di kedua sisi nampan. Namun tangannya berhenti di udara tepat sebelum ia menyentuh mereka. “Tunggu. Silver?” Ia mengalihkan pandangannya pada Vlador.
“Kau pikir kami takut ada silver?”
“Itu adalah apa yang tertulis di buku.” Ucap Triana.
“Kalau begitu, itu artinya kau masih kurang membaca.” Vlador tersenyum tipis hingga kedua lesung pipitnya menampakkan diri sejenak.
Triana berdehem seraya mengembalikan fokusnya pada peralatan makan. Sekilas ia merasa senyum itu nampak manis. Ya, banyak pria dengan senyum manis di sekeliling Triana. Milik Vlador bukan pengecualian dan seharusnya tidak perlu mengejutkannya.
“Aku akan mencobanya.” Gumam Triana seraya memotong daging kelinci itu menjadi potongan kecil.
Menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan, Triana membuka mulut dan memasukkan potongan daging itu ke dalam sana. Ia mengunyah perlahan, tanpa sadar membuat kerutan keras pada keningnya, lalu mengangguk-angguk seraya menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
“Tidak dibumbui.” Ucapnya setelah susah payah menelan.
“Cara makan kami tidak serumit bangsamu. Memasak matang daging itu seharusnya sudah membuatmu sangat berterima kasih; tidak perlu menyuruhku kerepotan membumbuinya.” Sahut Vlador seraya melipat lengan di depan dada dan menyandarkan punggung ke belakang.
“Cepat habiskan makananmu. Bukankah kau berkata akan mengantarku pada kenalanmu yang bisa membaca tulisan penyihir?” Lanjutnya.
Triana memejamkan matanya erat sejenak, lalu mengangguk. “Tolong beri aku sedikit waktu untuk menghabiskan ini.”
“Aku sedang melakukannya. Namun jika kau terus mengeluh, makanan itu tidak akan pernah habis.” Jawab Vlador.
“Aku tahu.” Triana menghela panjang. Setidaknya Vlador mengerti bahwa makanan buatannya terasa seperti mimpi buruk, sehingga ia memberikannya waktu.
Jika bukan karena perutnya kelaparan setengah mati, Triana tidak akan mampu mengunyah daging berbau gosong, amis, dan tanpa rasa ini. Ia harus mengunyah mereka sangat cepat sambil menahan napas sebelum menelannya. Ia harap ia tidak akan sakit perut setelah ini.
Namun, sebuah hal cukup mengejutkan Triana saat dagingnya telah habis setengah. Ia menyadari bahwa isi perut kelincinya telah dibersihkan.
Sejauh yang Triana tahu, Vampir makan seperti binatang buas. Mereka tidak pernah membersihkan makanannya dahulu. Pada dasarnya, mereka hanya meminum darah manusia, namun, di beberapa kasus, mereka juga memakan dagingnya. Fakta bahwa Vlador terpikirkan untuk membersihkan kelincinya sebelum menyajikannya pada Triana kembali mengubah pandangannya terhadap vampir.
Apakah sesungguhnya semua vampir tidak sekejam seperti yang dituliskan di buku, atau Vlador-lah yang berbeda?
“Kita pergi sore ini, ketika matahari tidak terlalu terik.”
Suara Vlador menyadarkan Triana dari lamunan. Ia turun dari ranjang ketika mendapati pria itu sudah berdiri di depan sebuah lemari pakaian besar.
Vlador mengambil satu stel baju hitam dan meletakkannya ke atas kursi merah marun bermotif emas. Di sampingnya, Triana berdiri memperhatikan setelan itu dengan bibir agak mengerucut.
“Permisi, Tuan Vlador, tapi apakah kau akan mengenakan setelan itu?” Tanya Triana dengan sedikit berhati-hati.
“Ya.” Jawab Vlador seraya menutup lemari.
“Jika diijinkan berpendapat, aku akan mengatakan bahwa setelan itu sudah sangat terlewat jaman. Itu mungkin populer seratus tahun yang lalu, namun pria sekarang tidak mengenakan pakaian dengan terlalu banyak renda seperti itu lagi.”
“Hmm, kalau begitu aku tidak akan mengenakannya agar tidak menarik perhatian.” Ucap Vlador.
“Dan sebenarnya… karena kita akan keluar ke pemukiman, aku berpikir untuk meminjam jubah bertudung besar padamu jika kau memilikinya.” Ucap Triana seraya memainkan jemarinya.
“Untuk apa?”
“Untuk… menutup wajahku…” Jawab Triana dengan suara pelan dan wajah tertunduk.
Valdor menatap Triana sejenak, lalu lekukan kecil terbentuk di sisi bibirnya. “Seingatku bekas pelayan wanita kastil ini memiliki jubah. Aku akan melihat apakah itu masih ada di sini.”
“Oh, itu melegakan.” Triana mengangkat wajahnya sambil tersenyum. Lalu, ia melanjutkan, “Bolehkah aku tahu ke mana semua orang di kastil ini?”
“Saat perang terbesar terjadi, beberapa dari pelayan-pelayanku kabur dan sisanya dibantai oleh prajurit manusia.” Jawab Vlador seraya menggantungkan setelannya kembali ke dalam lemari.
“Maaf untuk itu,” Ucap Triana pelan, mengaitkan kedua tangannya.
Valador memutar tubuhnya untuk kembali menghadap Triana. “Aku tidak berpikir ucapan itu harus keluar dari mulutmu.”
“Aku tidak tahu persis siapa orang-orang yang membantai para pelayanmu. Namun pada dasarnya, leluhurku adalah salah satu yang bertanggung jawab dalam pembantaian vampir. Ayahku adalah seorang duke karena kakekku sangat berjasa dalam perang itu.” Jelas Triana sambil menggantung wajahnya.
Namun, sepasang kaki yang bergerak dan berhenti tepat di depannya membuat Triana mengangkat wajahnya kembali. Matanya membesar dan ia segera melangkah mundur ketika mendapati wajah Vlador sangat dekat dengannya.
![]() |
| Tas Transparan >>> |
![]() |
| Tote Bag >>> |


Komentar
Posting Komentar