Vlador.
Kening Triana mengkerut, lalu ia menjawab ucapan Vlador, “Orangtuaku sangat menyayangi anak-anak mereka. Mereka selalu mengusahakan yang terbaik untuk kami. Ya, mereka memang tidak sempurna karena mereka juga manusia, namun mereka adalah orangtua terbaik bagiku.”
Tawa kecil lolos dari bibir Vlador. “Mereka sangat baik hingga membiarkanmu meminta penyihir membuat kecantikanmu abadi.”
“Tuan Vlador, tolong jangan menilai orangtuaku bahkan ketika kau tidak mengenal mereka. Sebagai seorang anak, tentu kita dapat merasakan sendiri cinta orangtua kepada kita, benar?”
Kalimat Triana membuat Vlador terdiam. Rahangnya mengeras dan ia mengembalikan padangannya ke depan. Kelihatannya gadis itu memiliki hidup yang sangat menyenangkan dan orangtuanya memperlakukannya begitu manis sehingga ia membela mereka dengan seluruh harga dirinya.
Gadis itu berbicara seakan semua anak tumbuh dengan kehangatan dan kebahagiaan yang sama sepertinya. Sungguh memuakkan.
“A-aku minta maaf jika aku berbicara sembarangan. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada mendiang keluargamu. Keluargamu dibantai dan kau dikurung sendirian selama seratus tahun. Itu pasti sangat berat dan menyakitkan. Maafkan kalimat tidak berperasaanku.” Ucap Triana pelan.
Valador menoleh pada Triana lagi dan mendapatinya tengah menggantungkan kepala. Ia salah paham. Ya, tentu saja ia akan berpikir begitu karena ia tidak mengetahui masa lalu Vlador. Namun setidaknya, di samping mulutnya yang asal bicara, Triana cepat menyadari kesalahannya dan memiliki simpati untuk orang lain.
“Kenapa kau menganggap masa depanmu bergantung pada kecantikanmu?” Tanya Vlador, menyingkirkan keluarga dari perbincangan mereka.
Triana mengangkat wajahnya dan menatap Vlador. Kemudian ia menarik napas panjang dan tersenyum tipis. “Karena aku akan menikah.”
Kening Vlador mengkerut. Ia menatap gadis itu dengan tanya.
Triana kekeh kecil dan mengangguk. “Aku memiliki seorang pangeran. Sejak kecil, kami telah dijodohkan. Ia adalah pangeran tampan dan sangat baik pada semua orang. Seharusnya aku menikah di usiaku yang ke sembilan belas tahun. Namun calon suamiku belum kunjung kembali dari perang Nardehon dan tidak ada kabar pasti kapan ia akan kembali. Sedangkan, saat ini, usiaku sudah lewat dari dua puluh satu tahun. Aku takut di saat ia kembali, aku sudah terlalu tua dan penampilanku telah menurun.”
“Itu adalah alasan yang tidak masuk akal. Jika ia sebaik yang kau katakan, sedikit keriput pada wajahmu tidak akan membuatnya meninggalkanmu.” Sahut Vlador.
“Um… kami hanya tidak tahu bagaimana reaksinya nanti. Namun sangat banyak gadis bangsawan cantik yang ingin menggantikan posisiku; kami tahu itu. Karenanya, kami tidak boleh lengah. Kami telah menunggu pangeran itu selama ini. Jika ia membatalkan pernikahan, aku akan berakhir kesulitan menikah dengan pria bangsawan lain karena usiaku sudah terlalu tua.”
“Penjelasanmu membuatku akan muntah. Itu adalah pemikiran yang menyedihkan.” Ucap Vlador, terkekeh sinis.
“Mungkin menurutmu seperti itu, Tuan Vlador, namun ayahku berkata bahwa itu adalah pemikiran logis. Sebagai ayah, ia menginginkan yang terbaik untuk putrinya, yaitu tidak hidup dalam kesulitan. Tentu saja ia ingin aku menikah dengan pria berkualitas.” Triana mengangkat dagunya.
“Tidakkah kau sadar bahwa sejak tadi kau terus menyebutkan dirimu sebagai Kami? Kelihatannya tanpa kau sadari, orangtuamu telah memanfaatkanmu. Bukan hanya menginginkan kau bahagia, tapi mereka juga menginginkan kebahagiaan darimu.”
“Itu tidak benar.” Bantah Triana tegas. Kemudian ia mengembalikan wajahnya ke depan dengan pandangan merendah. “Mereka sungguh menyayangiku. Mereka ingin aku terus bahagia seperti sekarang dan aku dapat merasakannya.”
Vlador tertawa kecil. Gadis bodoh itu telah dimanfaatkan oleh kedua orangtuanya. Mereka mungkin telah membentuknya sejak kecil untuk menjadi harta mereka di hari tua.
Tidak mengherankan Triana tumbuh menjadi gadis manja, cengeng, dan tidak berguna. Ia dibesarkan untuk menikahi pria kaya dengan memanfaatkan kecantikannya, bagai boneka porselen yang dipajang di lemari emas. Sayangnya, itik bodoh itu tetap mempercayai bahwa cinta orangtuanya tulus padanya.
Namun Vlador tidak akan membahasnya lebih jauh lagi. Jika Triana memang menginginkan hidup sebagai marionette, itu bukanlah urusannya. Lagipula gadis itu juga akan kehilangan nyawanya setelah kutukan mereka terangkat karena Vlador akan langsung menyantapnya.
Tanpa sadar, mereka tiba di ujung lain lorong yang berupa dinding batu. Vlador menyentuh dinding tersebut tepat di tengahnya dengan kelima ujung kukunya. Setelah itu, jemarinya tenggelam ke dalam dan ia memutar tangannya sedikit.
Dinding tersebut perlahan bergeser terbuka hingga menimbulkan suara batu yang saling menggesek. Tidak seperti lorong di luarnya, ruangan yang bersembunyi di balik dinding itu memiliki penerangan.
“Ya Tuhan…” Gumam Triana, menutup mulutnya dengan satu tangan. Wajahnya memantulkan cahaya kekuningan.
“Terlalu banyak hal yang bisa mengejutkanmu.” Gumam Vlador, lalu melanjutkan, “Masuk.”
Ketika mereka telah berdiri di dalam ruang harta itu, pintu di belakang mereka tertutup.
Seratus tahun lamanya Vlador tidak mencium bau emas, perak, dan bebatuan permatanya. Di ruangan yang mengandalkan pencahayaan dari dua batu bintang yang dapat menyala abadi itu, ia menyimpan semua hasil rampasannya.
Dalam dua ratus tahun hidupnya, Vlador telah memenangkan banyak perang. Seperti semua perang pada umumnya, pemenang akan merampas semua harta dari yang kalah dan bahkan membunuh semua keturunannya.
Memiliki umur panjang dan tidak pernah terikat oleh peraturan keluarga kerajaan Arvadus membuat Vlador bebas menjelajahi berbagai tempat dan melakukan berbagai hal, termasuk berburu harta karun.
Selain manusia dan sesama vampir, tangan Vlador juga sering berlumuran darah monster. Ia tidak pernah mempedulikan apa pun dan siapa pun. Ia akan melakukan segalanya untuk mengumpulkan banyak harta dan pergi dari kerajaan Arvadus setelah Raja Dracount turun takhta. Sayangnya, semua rencananya gugur setelah ia dikutuk.
“Permisi, Tuan Vlador. Apakah monster itu berada di sini? Tempat ini tidak terlihat berbahaya, namun apakah aku harus mulai lebih berhati-hati?”
Suara Triana membangunkan Vlador dari lamunannya. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tipis. “Aku sarankan kau berhati-hati karena ia bisa muncul kapan saja.”
***
Triana.
Kesejukan menjalar dari punggung ke leher Triana, mendukung jantungnya untuk berdebar semakin keras.
Melangkah mendekati Vlador, Triana menoleh ke sekeliling. “Tolong ijinkan aku setidaknya berada di dekatmu. Dia… tidak akan menyerangmu, ‘kan?”
“Itu tidak pernah terjadi sebelumnya.” Jawab Vlador.
Triana mengangguk. “Tuan Vlador, aku berjanji akan menjaga nyawaku agar kita berdua tetap hidup.”
Kalimat yang Triana katakan membuat Vlador menoleh padanya dengan tatapan tanya. Sementara itu, Triana hanya memberikan senyum canggung. Ia hanya ingin menegaskan bahwa nyawa mereka saling berkaitan, sehingga suka tidak suka, Vlador harus melindunginya.
Namun wajah datar Vlador tidak sesuai dengan ekspektasi Triana. Ia pikir pria itu akan mengatakan sesuatu atau bahkan memberiksan eskpresi tidak suka. Ia tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Vlador - bahkan jika itu memang ada.
Tiba-tiba, Vlador mendekati Triana hingga membuatnya melangkah mundur. Ia menatap Triana tajam dan menghentikan langkahnya hanya ketika tumit Triana menabrak sebuah peti besar di belakangnya.
“A-apa ada sesuatu?” Tanya Triana.
Sekejap kemudian, sebuah kantung hitam dengan penutup serut melayang di depan wajahnya.
“Kau lebih mengenal jaman ini. Penuhi kantung ini dengan benda-benda bernilai tinggi dan paling mudah ditukar.” Ucap Vlador.
Mata mengerjap, Triana mengambil kantung yang memiliki ukuran hampir sama dengan kepalanya. Ia mengangguk pelan seraya menghela panjang. Ia pikir vampir itu akan melakukan hal yang buruk padanya karena merasa tersinggung atas kalimatnya barusan.
“Baik.” Jawab Triana.
Kemudian Vlador membalik punggung dan meninggalkannya. Ia juga memiliki sebuah kantung serupa dan Triana tidak tahu kapan tepatnya Vlador mengambil kantung tersebut.
‘Sebaiknya aku tidak perlu memikirkan hal tidak penting. Aku harus menjadi berguna karena Tuan Vlador telah mengijinkanku ikut masuk ke sini.’ Pikir Triana seraya menggidik bahu.
Setumpuk koin emas yang bercampur dengan perhiasan, tiara, dan batu permata duduk di beberapa sudut ruangan seukuran kamar tidur Triana, namun memiliki dua buah penyekat ruangan.
Triana mengisi kantungnya dengan koin-koin emas karena sejauh yang ia tahu, emas adalah benda yang paling mudah digunakan untuk bertransaksi.
Dengan kantung yang hampir terisi penuh, Triana berpikir untuk mencari benda lainnya yang mungkin memiliki nilai lebih tinggi. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan seraya menggerak-gerakkan tangannya yang terasa pegal.
Sebuah penyekat ruangan yang warna kaca patrinya menyerupai anggur merah tua membuat Triana menyipitkan mata. Apa yang ada di balik sana? Dari bayangan buram kaca itu, Triana melihat sebuah lemari besar berwarna hitam.
Menoleh sekilas pada Vlador yang tengah mengisi kantungnya dengan punggung mengarah padanya, Triana melangkah dengan sedikit berjinjit menuju ruangan tersebut.
Terima kasih sudah membaca! 😊🥰
![]() |
| Kacamata >>> |
![]() |
| Kacamata >>> |


Komentar
Posting Komentar