Triana.
Seperti yang terlihat dari sisi luar kaca patrinya, pembatas itu memisahkan sebuah ruangan kecil.
Sekali lagi, Triana menoleh ke arah Vlador yang masih memunggunginya. Pria itu mungkin tidak akan suka jika ia menjelajahi ruang hartanya. Sejak kecil, Triana selalu diajarkan untuk tidak memeriksa atau memasuki tempat yang tidak ia kenali karena itu mungkin akan berbahaya untuknya. Namun selagi orangtuanya tidak ada di sini, ia akan melanggarnya satu kali ini saja.
Kaki ramping Triana melangkah ke balik bilik tersebut. Di sana, ia hanya menemukan sebuah lemari hitam besar dan lebar yang berdiri berhadapan dengan sebuah kursi panjang berwarna merah gelap.
Meneguk liur, Triana menghampiri salah satu pintu lemari tersebut. Perlahan, ia membukanya sambil menahan napas. Beruntung, pintu lemari itu tidak menimbulkan suara.
“Gaun?” Gumam Triana tanpa sengaja sebelum menutup mulutnya dengan tangan.
Tiga buah gaun cantik tergantung di dalam lemari itu. Semua berwarna gelap namun memiliki detail bordiran yang cantik dan rumit.
Apakah mereka adalah pakaian hasil rampasan atau pakaian milik keluarga Vlador? Atau mungkinkah dahulu ia memiliki seorang wanita? Jika dipikir, dengan wajah rupawannya, tentu aneh jika Vlador tidak memiliki seorang wanita.
Triana menutup pintu lemari itu kembali. Karena ruangan itu terlihat seperti ruang ganti yang digunakan untuk menyimpan pakaian yang memiliki arti khusus bagi si pemilik kastil, ia memutuskan untuk tidak memeriksa lebih jauh.
Namun ketika Triana hendak pergi, ia menyadari adanya sebuah gorden merah besar mencurigakan di tengah-tengah dinding ruangan.
‘Tadi kami sempat menuruni tangga. Seharusnya ruangan ini berada di bawah tanah. Tirai itu tidak mungkin menutupi sebuah jendela, kan?’
Tanpa berpikir lebih panjang lagi, ia menghampiri tirai itu. Mungkin ia akan menemukan lukisan pemilik gaun-gaun tadi. Ini memang tidak sopan, namun Triana tidak dapat memungkiri bahwa kemisteriusan Vlador sejujurnya menggelitik jiwa penasarannya.
Memegang ujung tirai itu, Triana perlahan menyibaknya hingga terbuka sedikit. Namun bukan sebuah bidang lukisan yang ia temukan, melainkan pantulan tubuhnya sendiri. Kedua matanya membesar saat ia menyadari bahwa itu adalah sebuah cermin.
Tubuh Triana mematung dengan tangan yang masih menggenggam ujung tirai tersebut. Itu adalah benda yang mati-matian ia cari selama ini. Sebuah benda yang menginjinkannya mengetahui bagaimana rupa wajahnya yang terkutuk menjadi buruk rupa.
Menekan kedua bibirnya, Triana menarik napas dalam-dalam sambil menutup matanya erat untuk mengumpulkan keberanian. Bagaimanapun, ia harus melihat bagaimana kondisi wajahnya sekarang. Ia mungkin akan menangis histeris atau pingsan, namun itu lebih baik daripada sama sekali tidak mengetahui seperti apa rupa dirinya.
Masih dengan mata tertutup, Triana mengambil dua langkah seraya membawa ujung tirai itu lebih jauh agar cermin tersebut terpampang luas. Ketika ia merasa tirainya sudah terbuka cukup lebar, ia menghadap ke depan dengan jantung berdebar-debar.
Perlahan, Triana mengintip menggunakan sebelah matanya hanya untuk membelalakkan kedua matanya sedetik kemudian.
Menyentuh pipinya sendiri, Triana mengerutkan dahi dan bergumam, “Wajahku… tidak berubah.”
“Aku pikir kau takut pada monster?”
Kedua mata Triana membesar saat suara Vlador terdengar sangat dekat di belakangnya. Ia segera berbalik badan, dan hampir memekik saat menemukan sebuah tubuh tinggi berada tepat di depan wajahnya.
Pupil mata Triana menciut saat ia mengangkat wajah, sehingga pandangannya bertemu dengan sepasang iris emas menyala yang menatapnya tajam. Kemudian keningnya kembali mengkerut. Ia menoleh ke belakang untuk melihat cermin dan menemukan dirinya berdiri sendirian di ruangan.
Lalu Triana kembali menoleh ke depan dan menemukan Vlador masih berada di tempat yang sama: di hadapannya.
“Kau… tidak ada di dalam cermin.” Ucap Triana, setengah bergumam.
“Kini seharusnya kau mengerti mengapa tidak ada cermin di kastilku. Kami tidak muncul di cermin seperti kalian manusia.” Jelas Vlador sebelum memutar tubuh Triana menghadap cermin kembali.
Terus menatap cermin itu, Triana merasa seperti sedang bermimpi. Ia hanya melihat dirinya sendiri di dalam sana, seakan tidak ada seorang pun di belakangnya. Namun ia dapat berasakan tangan yang sedang menyentuh punggungnya dan keberadaan seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.
Selama ini, Triana tidak pernah menemukan informasi mengenai vampir yang tidak dapat muncul di cermin, padahal ia telah banyak membaca buku dan mendengar kisah dari orang-orang tua.
Namun meski fakta baru tentang vampir itu mengejutkan, Triana lebih terkejut pada penampakan wajahnya yang tidak berubah. Ia masih tetap cantik seperti sebelumnya.
Memutar tubuhnya ke belakang, Triana menatap Vlador penuh tanya. “Apakah itu sungguh wajahku atau cermin itu memiliki magis?”
“Itu adalah cermin biasa.” Jawab Vlador.
“Jadi itu artinya aku tidak terkutuk menjadi buruk rupa, benar?” Tanya Triana.
“Benar.” Jawab Vlador.
“Lalu kenapa kau berkata aku terlihat seperti monster? Kau bahkan memanggilku Itik!”
Sebuah senyum terbentuk di wajah Vlador. Triana dapat mendengar gelak tawa tipis yang tertahan di baliknya. Lagi-lagi lesung pipit terbentuk di wajah pucat tersebut, dan kini bentuknya semakin dalam.
Kini Triana dapat menyimpulkan, dari banyaknya pria rupawan yang pernah ia temui, Vlador menempati peringkat dua puluh besar. Namun betapa memalukannya ia diam-diam memberikan peringkat ketampanan pada pria. Lagipula, ia harus mendengar penjelasan mengapa Vlador menipunya.
Mendapati Vlador hanya melanjutkan tawa kecilnya, kening Triana semakin mengkerut. Ia berdehem keras, “Permisi, Tuan Vlador! Aku sedang bertanya padamu, apa kau- Akh!”
Kalimat Triana terputus saat Vlador tiba-tiba memutar pinggang rampingnya hingga ia kembali menatap cermin. Napasnya tertahan karena tubuhnya telah didekap dari belakang. Vampir itu melingkarkan satu tangannya di pinggang Triana dan satu tangannya lagi menyebrangi dada gadis itu untuk mencengkram rahangnya.
“Demi mempertahankan kecantikanmu, kau membuatku terjerat kutukan lagi. Aku rasa membuatmu berpikir dirimu jelek adalah secuil hukuman yang pantas kau terima karena sudah menyusahkan hidupku.” Bisik Vlador tepat di telinga Triana.
Menatap cermin, Triana mendapati dirinya berdiri sendirian dengan tubuh kaku yang sedikit condong ke samping. Ia dapat merasakan Vlador, namun tidak dapat melihatnya.
“Ta-tapi jika aku tidak mendatangimu saat itu, kau masih terantai sekarang. Jika aku tidak memberimu ramuan itu, kau tidak akan terlepas dari ruang bawah tanah itu, ‘kan?” Tanya Triana.
Tentu saja ia tidak terima jika terus disalahkan seperti ini. Vlador terus berbicara seakan Triana telah menghancurkan hidupnya. Padahal, sejak awal, hidup vampir itu memang sudah hancur. Kedatangan Triana hanya merubah bentuk musibah yang menimpa hidupnya.
“Ah… kau benar.” Ucap Vlador. “Jelas, kau yang membebaskanku dari kutukan itu, namun apakah kau sadar siapa yang telah kau bebaskan? Kau telah membebaskan seorang vampir yang meminum darah manusia dan memakan daging manusia untuk hidup. Kau bahkan hanya tahu sedikit tentang vampir. Dan apakah kau tahu konsekuensinya jika berurusan dengan keturunan iblis?”
Bisikan Vlador membangkitkan bulu kuduk Triana. Ia meneguk susah payah dan menyahut, “Kau akan mati jika aku mati.”
“Aku tahu.” Sahut Vlador dengan bisikan yang semakin memelan hingga hanya menghantarkan angin panas di telinga Triana.
Napas berat dan jantung berdebar keras, mata Triana terbelalak lebar saat menyaksikan rambut panjangnya bergerak sendiri dan tersibak dari pundak ke belakang punggungnya. Kemudian ia melihat dan merasakan bagian bahu pakaiannya ditarik menjauh dari pundaknya.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Triana dengan suara bergetar.
“Taukah kau: Setiap kau ketakutan, jantungmu berdebar cepat, memompa darah dengan deras hingga aku dapat mendengar desirannya di telingaku?” Tanya Vlador.
Trimakasih sudah membaca! 💜💜💜

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar