Triana.
“Tidak… tolong lepaskan aku,” Mohon Triana, berusaha meluruskan tubuhnya hanya untuk membuat Vlador mengeratkan pelukannya.
“Aku lapar dan baumu sangat enak. Semakin lama, baumu semakin pekat tingga menusuk penciumanku.” Bisik Vlador, perlahan menurunkan wajahnya menuju leher Triana.
“Jangan bunuh aku. Kau akan mati jika aku mati. Sadarlah, Tuan Vlador! Apakah kau ingin mati?” Seru Triana, air mata sudah menggenangi matanya.
“Harus berapa kali aku mengatakan bahwa aku mengetahuinya? Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya… ingin merasakannya sedikit di ujung lidahku.” Sahut Vlador sebelum menempelkan mulutnya yang terbuka di leher Triana.
Kedua mata Triana membesar. Ketika sesuatu yang lunak dan basah membasuh lehernya tepat di luka gigitannya, tangannya refleks mencengkram lengan besar yang membentang di depan tubuhnya.
Melihat dirinya sendirian di cermin namun merasakan tubuhnya di dekap dan sebuah wajah menempel pada lehernya membuat otak Triana kewalahan. Ia mengarahkan tangannya untuk memegang wajah Vlador dan mendorongnya, namun malah mendengar sebuah geraman tipis tanpa mampu menyingkirkannya sama sekali.
“Tuan Vlador,” Lenguh Triana tanpa mendapat respon.
Lidah itu tetap mengusap lukanya hingga terasa perih, dan bergerak semakin kasar sembari menekan lukanya, seakan memaksanya untuk kembali terbuka dan memuntahkan darah.
“Sakit!” Triana meringis seraya terus berusaha mendorong wajah Vlador.
“Kau baik-baik saja.” Bisik Vlador begitu ia melepaskan mulutnya dari leher Triana. “Jangan melawan. Kau hanya membangkitkan rasa laparku semakin parah. Aku mungkin benar-benar akan menggigitmu lagi.”
Mengatupkan bibirnya kuat, Triana melepaskan tangannya dari wajah Vlador. Ia menoleh untuk menatap vampir itu, namun malah mendapati sepasang mata merah menyala sedang menatapnya tajam.
“Hanya di ujung lidahku. Setidaknya itu akan mengobati rasa laparku.” Ucap Vlador dengan suara sedikit bergetar.
Mulut Triana bungkam. Dari kedua mata menyeramkan itu, ia dapat menilai seberapa besar Valdor merasa kelaparan. Itu adalah tatapan yang sama ketika Triana pertama kali bertemu dengannya di penjara kastil.
Menghela lemah, Triana menjawab dengan bisikan yang sama, “Berjanjilah untuk tidak menggigitku. Aku benar-benar ketakutan, dan ini terasa… aneh.”
Sebuah senyum terbentuk di bibir Vlador, membuat Triana menahan napas. Namun ketika ia belum sempat memikirkan apa pun, Vlador membawanya duduk di atas lantai, masih di dalam pelukannya.
“Selama kau tidak melawan,” Ucap Vlador sebelum kembali menguburkan wajahnya di leher Triana.
Rasa perih dan berdenyut di lukanya membuat Triana harus menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara. Lidah Vlador yang terus menggores lukanya tidak hanya menghadirkan rasa sakit di sana, namun memberi tubuhnya sensasi yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak mengerti mengapa efek pada luka gigitan itu harus menjalar hingga ke sekujur perut dan rongga dadanya.
Suara geraman samar dan deru napas Vlador entah mengapa membuat pipi Triana memanas. Ia hanya bisa mecengkram tangan vampir itu, berharap dekapannya yang seperti lilitan ular sedikit melonggar.
Tiba-tiba mata Triana terbelalak saat lukanya terasa seperti ditarik. “Ah! Ja-jangan dihisap!” seru Triana, memindahkan cengkramannya ke pundak Vlador.
Namun vampir itu tidak mendengarkan dan tetap melanjutkan apa yang sedang ia lakukan. Di samping ketakutan bahwa lukanya akan kembali mengeluarkan banyak darah, Triana juga terkejut saat melihat cermin dan menemukan rona merah padam pada kedua pipinya.
***
Vlador.
Kutukan itu telah membuat Vlador tidak pernah merasa cukup meski ia telah mengisi penuh rasa laparnya dengan berliter-liter darah manusia. Ia tidak merasa haus. Tubuhnya tidak mengering seperti ketika darah di tubuhnya mulai berkurang. Namun rasa laparnya masih tertinggal dengan sebuah hasrat besar terhadap aroma darah seorang manusia yang pernah satu kali ia cicipi.
Terus menahan diri selama bersama Triana terasa semakin berat, terlebih ketika gadis itu terus mengekori langkahnya.
Padahal Vlador pikir ia bisa menenangkan diri sendirian di dalam ruang hartanya. Sayang sekali, ia malah berakhir kehilangan kendali karena aroma Triana malah memenuhi seluruh ruangan yang sirkulasi udaranya buruk.
Ketika rasa lapar Vlador tidak lagi tertahankan, ia menemukan sebuah kesempatan untuk menguji coba apakah ia dapat membuat itu terasa lebih baik.
Itik itu sendiri yang memaksa untuk ikut ke ruang harta. Ia juga dengan seenaknya masuk ke ruang pakaian. Ia yang membahayakan dirinya sendiri.
Luka gigitan pada leher Triana masih basah dan terbuka. Ketika Vlador mendekatkan wajahnya, ia bahkan harus menahan agar ia tidak menancapkan taringnya di sana. Hanya dengan merasakan luka dan kulit Triana di ujung lidahnya, Vlador tahu bahwa caranya akan berhasil.
Namun aroma dan rasa manis titik-titik darah yang menyentuh permukaan lidahnya membuat Vlador menginginkan lebih. Gerakan meronta Triana juga membuat insting pemangsanya membengkak.
Mencengkram belakang leher Triana yang tenggelam dalam satu genggamannya, Vlador terus menghisap paksa rembesan darah dari luka itu dan menikmati aromanya.
“Akh! Sakit!”
Seruan itu membuat kening Vlador mengkerut sejenak. Namun ia tetap memejamkan matanya. Ini hanya sebentar. Ini tidak mematikan. Triana akan baik-baik saja.
“Tolong hentikan,” Jeritan itu berubah lirih.
Desiran darah yang semakin deras di pembuluh darah Triana membuat taring Vlador memanjang mengikuti instingnya. Ia menggeram sebelum memberikan jilatan terakhir pada luka itu dan melepaskannya.
“Hhh…” Triana menarik napas panjang di sela-sela napas terengahnya.
Masih menempatkan Triana di atas pangkuannya dalam posisi setengah berbaring, Vlador meraih kedua pipi gadis itu dan mempelajarinya sejenak untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.
Namun kening Vlador mengkerut. “Tubuhmu sangat panas dan wajahmu merah padam. Apa yang terjadi?”
Tidak menjawab pertanyaan Vlador, Triana menyentuh lukanya yang basah dengan jari dan memeriksanya.
“Itu hampir tidak berdarah.” Ucap Vlador.
“Tapi itu sangat menyakitkan! Kau berkata tidak akan menyakitiku!” Omel Triana, berusaha bangkit duduk.
“Aku berkata tidak akan menggigit.” Sahut Vlador, membantu Triana berdiri bersamanya. “Kita harus segera pergi. Matahari mulai turun.”
“Tunggu sebentar. Kakiku lemas sekali,” Ucap Triana, berpegangan pada lengan kokoh Vlador.
“Aku tidak sampai setetes mengambil darahmu. Tidak seharusnya kau merasa begitu.” Ucap Vlador seraya melingkarkan tangannya di punggung Triana dan menuntunnya untuk duduk di kursi.
Lalu ia mengambil kantung uang Triana dan menimbangnya sekilas. “Ini bahkan belum terisi penuh, dan kau berani bermain-main ke sini.”
“Maaf soal itu. Tadi aku pikir ada harta yang lebih berharga di sini,” Jawab Triana sambil menyandarkan punggungnya ke dinding dan memejamkan mata.
“Aku akan memberimu sedikit waktu. Saat aku kembali, kita keluar dari sini dan kau sudah harus bisa berjalan.” Ucap Vlador sebelum melangkah pergi.
Memasukkan kepingan koin emas dan beberapa permata ke dalam kantung Triana, Vlador terus termenung. Seingatnya tubuh itik itu tidak terasa panas saat ia pertama kali meminum darahnya.
Perlahan lidah Vlador menyeka permukaan bibir bawahnya dan satu taringnya. Aroma Triana seakan masih tertinggal di lubang hidungnya dan helaian rambutnya seakan masih tersangkut di antara jemarinya.
'Rasa laparku telah baik, namun kelihatannya kutukan sialan itu memberi dampak yang jauh lebih besar hingga tubuhku terasa aneh sekarang.’
Menggelengkan kepalanya sekali, Vlador bangkit berdiri karena kantung uangnya telah terisi penuh. Ia kembali ke belakang pembatas ruangan dan menemukan Triana masih dalam posisi yang sama.
“Aku sudah selesai. Ayo kita pergi,” Ucap Vlador tanpa menghampirinya.
“Oh, ya, baiklah,” Triana bangkit berdiri dan melangkah mengikutinya.
Memegangi dua kantung penuh harta, Vlador mengarahkan tangannya ke depan, dan pintu di hadapannya perlahan bergeser ke atas. Cahaya kekuningan yang datang dari arah punggungnya menandakan bahwa Triana telah mengambil lentera. Lalu mereka melangkah keluar.
“Tuan Vlador,”
“Hm?” Sahut Vlador, masih berfokus menutup pintu dinding batu.
“Kelihatannya lokasi kastil ini cukup jauh dari kota. Apakah kita akan berjalan kaki lagi?” Tanya Triana.
“Kau keberatan?” Tanya Vlador.
“Sebenarnya aku merasa sedikit lelah.” Jawab Triana, sedikit bergumam dengan wajah perlahan menunduk.
“Jika kau memang selelah itu, kita akan berangkat saat malam turun agar aku bisa terbang.” Jawab Vlador setelah menghela singkat.
“Terima kasih, Tuan Vlador. Aku sangat menghargainya.” Triana tersenyum.
Pintu ruang rahasia tertutup, dan lentera kembali menjadi satu-satunya sumber cahaya mereka. Perjalanan masuk dan keluar adalah sama, namun Vlador merasakan suasana aneh di antara mereka.
Diam-diam, ia melirik gadis di sampingnya yang terus saja bungkam. Tangan kecilnya memegangi lentera dan langkahnya agak lamban. Kelihatannya ada sesuatu yang terjadi padanya.
Namun daripada bertanya keadaan Triana, Vlador mengatakan hal yang seharusnya ia katakan sejak tadi: “Berjalanlah lebih cepat.”
Trimakasih sudah membaca, guys! 💜


Komentar
Posting Komentar