Vlador.
“Baik," Triana mempercepat langkahnya.
Mengerutkan kening, Vlador kembali melirik gadis itu, hanya untuk membuat dirinya sendiri meneguk liur dan mengeratkan rahang karena ingatan atas rasa manis darah Triana muncul di lidahnya.
Namun tiba-tiba Triana tersandung sesuatu hingga tubuhnya terpental ke depan, membuat Vlador melesatkan tangan untuk menangkapnya di perut.
PRANG!
Lentera yang Triana pegang terjatuh ke lantai batu dan pecah. Satu-satunya cahaya di lorong itu seketika padam, mengijinkan kegelapan menyelimuti mereka.
Memegang tangan Vlador yang tengah menahan seluruh bobot tubuh kurusnya, Triana berusaha kembali menapak pada kedua kakinya. “Maaf, sepertinya aku tersandung batu. Di sini gelap sekali.”
“Aku sudah berkata padamu untuk berhati-hati melangkah.” Ucap Vlador seraya membantu Triana kembali berdiri dengan benar.
Kemudian matanya bergulir pada kedua tangan kecil Triana yang masih menggenggam lengan tuniknya. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri dengan kedua pupil melebar.
“Kau menyuruhku untuk berjalan lebih cepat di lantai rusak seperti ini dan sekarang kau memarahiku karena aku tesandung.” Balas Triana.
“Aku tidak memarahimu. Aku hanya mengingatkanmu untuk berhati-hati melangkah.” Jawab Vlador lelah sebelum mendecak dan menarik tangan Triana.
“Hua!” Triana memekik.
“Sebaiknya tidak ada protes lagi darimu.” Ucap Vlador sebelum melanjutkan langkahnya.
“Ke-kenapa kau menggendongku?”
Melirikkan matanya pada gadis yang tengah duduk di atas kedua lengannya, Vlador menjawab, “Aku berani bertaruh kau akan terjatuh lagi dalam lima langkahmu yang selanjutnya. Apakah aku sebodoh itu untuk membiarkanmu berjalan dalam keadaan buta?”
Triana terdiam, menurunkan wajahnya. Kedua matanya mengerjap beberapa kali, seakan ia berusaha mencoba melihat dalam kondisi gelap total. Vlador dapat merasakan ketegangan pada tubuh gadis itu dan melihat satu tangannya mencubit sebagian kecil tuniknya.
“Aku tidak akan menjatuhkanmu meski kau merasa begitu. Salah satu tanganku memegang dua kantung koin sehingga kau mungkin merasa gendonganku seakan agak longgar.” Ucap Vlador.
“Tuan Vlador, aku minta maaf jika aku terus merepotkanmu.” Ucap Triana tiba-tiba.
Vlador mengkerutkan kening. Lalu ia menyusulnya dengan kekehan kecil. “Apakah tidak terlalu lama hingga kau benar-benar meminta maaf?”
Vlador harus menahan senyumnya saat Triana memanyunkan bibir. “Setidaknya aku menyadarinya dan meminta maaf dengan tulus. Aku harap kau menghargai itu. Jika boleh bercerita sedikit, sejujurnya aku merasa bahwa aku mungkin sering membebani orang-orang. Namun orang-orang itu telah dibayar oleh ayahku sehingga ia berkata aku tidak perlu merasa sungkan.”
“Tapi kelihatannya, kebiasaan itu membuatku tanpa sadar mudah merepotkan orang-orang yang tidak seharusnya aku repotkan.” Lanjutnya pelan.
“Kalau begitu sebaiknya kau belajar untuk menjadi mandiri sehingga tidak perlu merepotkan orang lain dan merasa menyesal pada akhirnya.” Sahut Vlador.
Triana menaikkan pandangannya pada Vlador meski matanya salah mengarah. “Apakah menurutmu aku benar-benar merepotkan hingga mungkin… membuatmu kesal padaku?”
“Hm…” Vlador berpikir sejenak. “Aku tidak tahu apa lagi yang harus aku rasakan terhadapmu. Sejak awal kau muncul di hadapanku, aku tidak pernah menyukaimu, jadi itu sama saja ketika kau terus merepotkanku.”
“Kalau begitu aku akan berusaha keras untuk tidak merepotkanmu.” Jawab Triana, kembali menundukkan wajahnya. Namun itu tidak lama hingga ia mengangkat wajahnya kembali. “Oh, benar! Aku dapat memegangi kantung uangnya. Kau pasti sangat kerepotan harus menggendongku sambil membawa mereka.”
“Tidak perlu.” Sahut Vlador.
“Tapi itu sangat berat. Bahkan satu kantung yang hanya terisi setengah sudah terasa berat.”
“Kekuatanku berada di luar nalarmu. Kau tidak perlu memikirkan hal kecil semacam ini.” Sahut Vlador sebelum menggerakan lengannya untuk memperbaiki posisi tubuh Triana karena ia merasa gadis itu agak merosot ke bawah.
“Hua!” Pekik Triana, mengalungkan kedua lengannya di leher Vlador.
“Teriakanmu hanya akan memancing pemangsa untuk datang menerkammu.” Ucap Vlador.
“Maaf. Aku sangat terkejut. Jika aku terjatuh, tubuhku akan terluka atau bahkan mengalami kecacatan.”
“Kita bukannya sedang berdiri di atas pohon.” Vlador memutar matanya. “Sejak tadi tubuhmu sangat kaku. Kau hanya akan membuat dirimu sendiri benar-benar terjatuh.”
“Itu karena aku memang merasa seperti akan terjatuh.” Jawab Triana, lalu melepaskan tangannya dari leher Vlador. “Maaf.”
“Berpeganganlah pada leherku kalau begitu.” Ucap Vlador.
Tangan Triana tergantung di udara, tepat di depan dada Vlador. Ia mengerjap-ngerjap beberapa kali, membuat Vlador menerka apa yang sedang gadis itu pikirkan. Lalu sepasang tangan hangat itu bergerak melingkari lehernya kembali.
“Terima kasih telah membiarkanku berpegangan.” Ucap Triana.
Tidak menjawab, Vlador hanya menatap ke depan dalam langkahnya yang agak melambat.
“Ngomong-ngomong, di mana monster yang kau katakan itu, Tuan Vlador? Aku bahkan tidak mendengar atau melihat tanda-tanda keberadaannya sedikit pun.” Tanya Triana.
Sebuah senyum tidak kuasa mengembang di bibir Vlador. “Kau sudah bertemu dengannya, Itik.”
“Benarkah? Aku tidak merasa pernah.” Triana mengerutkan dahi.
“Monster peminum darah dan pemakan daging manusia. Siapa menurutmu?” Tanya Vlador dengan satu alis terangkat.
Terdiam sesaat, kedua mata Triana membesar. Ia menoleh pada Vlador. “Betapa keterlaluannya, kau, Tuan Vlador!”
Menahan tawa kecil di dalam kerongkongannya, Vlador menjawab, “Cantik namun bodoh. Kau sama seperti wanita-wanita bangsawan itu.”
Bibir Triana cemberut. “Aku tidak bodoh. Aku adalah seorang lady berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. Lagipula bukankah kau telah menipuku dengan berkata ada monster tanpa menjelaskan bahwa itu adalah dirimu? Dan berhentilah memanggilku Itik karena aku tidak jelek. Bagaimana bisa kau menipuku selama ini?”
Tersenyum miring, Vlador menjawab, “Sebutan Itik cocok untukmu. Bagiku kau jelek, lemah, dan bodoh. Dan kebodohanmu terbukti dari betapa mudahnya kau tertipu.”
“Kau sungguh menyebalkan! Baiklah, panggillah aku sesukamu. Lagipula kita tidak akan bertemu lagi setelah kutukan ini diangkat.” Triana memalingkan wajahnya yang memerah.
Kemudian Vlador menyipitkan matanya karena merasakan sesuatu yang semakin intens. “Aku rasa ini bukan perasaanku saja, namun suhu tubuhmu terasa lebih panas.”
“Oh…” Triana memegang kening dan pipinya sendiri. “Aku memang merasa kurang sehat. Sepertinya aku agak demam.”
“Apakah itu penyakit menular?” Tanya Vlador.
“Aku tidak yakin. Namun aku rasa ini hanya demam biasa. Demam bisa terjadi jika terdapat infeksi di dalam atau luar tubuh manusia sehingga tubuh itu sendiri akan menghasilkan panas untuk membunuh bakteri.” Jelas Triana.
“Apakah penjelasan itu juga kau dapatkan dari buku?” Tebak Vlador.
Kedua mata Triana membesar. Ia tertawa kecil dan mengangguk. “Itu benar. Sepertinya aku terlalu banyak menyebutkan buku padamu, ya?” ia tertawa lagi, seakan sangat bangga soal itu.
Mengeratkan rahang, Vlador memalingkan tatapanya ke depan. Ia tidak suka melihat senyum sejenis itu. Rona merah di pipi dan mata bulat berkilauan adalah hal yang ia benci. Ia tidak menyukai kecantikan pada wanita.
“Buku adalah jendela untuk melihat dunia,”
“Apa?” Vlador kembali menatap Triana.
“Dengan membaca buku, aku bisa mengetahui banyak hal yang tidak pernah aku lihat atau alami sendiri. Dengan membaca buku, aku mengetahui berbagai jenis ikan di laut tanpa harus berlayar. Dengan membaca buku, aku mengetahui berbagai tumbuhan beracun dan hewan-hewan liar tanpa harus menjelajahi hutan. Dengan membaca buku juga, aku dapat melihat melalui berbagai sudut pandang.”
Terus menatap wajah Triana, Vlador menyipitkan mata. Meski sebuah senyum tipis terbentuk di bibir merah gadis itu, kedua matanya nampak sendu.
Triana ingin melihat dunia. Ia memiliki rasa penasaran yang tinggi. Sayangnya, ia dibesarkan dengan penuh rasa takut. Ia adalah tawanan yang dikurung dalam menara dan hanya dapat melihat dunia luar melalui jendela. Dan jendela itu adalah buku-bukunya.
“Kau menyedihkan.” Ucap Vlador.
Kening Triana mengkerut. Ia mendongakkan wajahnya meski tidak dapat menemukan apa yang ingin ia tatap selain kegelapan. “Tidak ada yang menyedihkan dari membaca buku.”
“Kau akan menyadari betapa menyedihkannya dirimu saat kau terbebas dari sangkarmu.”
Kalimat Vlador membungkam mulut Triana. Mata gadis itu membesar dan mulai berkaca-kaca.
Trimakasih sudah membaca!! 💜💜


Komentar
Posting Komentar