Langsung ke konten utama

22. Hujan dan Penginapan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador.

“Tidak mengejutkan,” Vlador mengembalikan pandangannya ke depan seraya mengenakan mantel yang sejak tadi ia tenteng, dan menutupi robekan pada punggung tuniknya.

“Aku hanya satu kali mengunjungi rumah Tuan Winston beberapa tahun yang lalu, sehingga wajar sekali jika aku tidak mengingat jalan menuju rumahnya."

“Itu adalah alasan yang sementara bisa aku terima.”

“Kenapa hanya sementara?” Tanya Triana, memajukan tubuhnya agar dapat melihat wajah Vlador lebih jelas.

“Karena aku tidak yakin bisa mentoleransi jika kau memiliki kebodohan lainnya.” Jawab Vlador.

Keluar dari hutan, mereka disapa oleh jalan berukuran cukup besar yang bebatuannya tersusun rapih. Itu adalah jalanan pinggir kota yang cukup terpencil karena berdampingan dengan hutan.

Merasakan setetes air jatuh di tulang pipinya, Vlador menoleh ke atas dan mendapati langit sedang menebarkan rintik gerimis. Ini sungguh menyusahkan. Di sisi lain, Triana tidak mengetahui jalan menuju rumah pria yang bisa pembaca tulisan penyihir itu, sehingga mereka harus bertanya pada penduduk sekitar yang satu pun tidak terlihat berada di jalan.

“Hujan mulai turun.” Gumam Triana seraya menadahkan telapak tangannya di depan wajah untuk menangkap rintik air.

Melirik Triana, Vlador menyadari wajah gadis itu cukup pucat dengan pipi dan hidung merona merah. Ia terlihat lebih lemah dari penampakannya yang biasa, yang juga terlihat lemah. Kemudian ia menurunkan pandangannya untuk melihat betapa kotornya gaun yang Triana kenakan.

Menoleh ke sekeliling, Vlador menemukan sebuah bangunan dua lantai berukuran sedang.

“Jalan,” Ucapnya pada Triana sebelum kembali melangkah.

Meski berselang seratus tahun lamanya, penginapan masih memiliki ciri khas yang sama, dan Vlador sangat mengenali mereka. Hujan yang mungkin akan bertambah deras dan jalanan kosong di tengah malam tidak akan membawa mereka ke manapun selain pemakaman Triana yang tewas oleh demam tinggi.

“Kita bermalam di penginapan ini.” Ucap Vlador.

Senyum lega mengembang di wajah Triana. “Jadi kita akan beristirahat? Oh, terima kasih, Tuhan!”

Menahan kedutan di ujung bibirnya, Vlador menyahut, “Aku pikir kau akan selalu mengutarakan apa yang kau inginkan?”

“Ya… aku khawatir kau akan merasa terbebani. Bukankah aku berkata bahwa aku tidak akan menyusahkanmu lagi?”

“Sebaiknya kau bisa membedakan mana yang perlu dan tidak perlu dikatakan. Kau akan lebih menyusahkanku jika kau pingsan seperti pagi tadi.” Sahut Vlador seraya membuka pintu penginapan yang memberikan suara berdecit dari engselnya.

Memasuki pintu dengan cat coklat pudar dan terkelupas itu, mereka langsung disambut oleh sebuah meja panjang dengan seorang wanita gemuk berambut keriting yang sedang santai merajut di baliknya.

“Kami ingin menginap untuk semalam.” Ucap Vlador, berdiri di depan meja itu.

Wanita dengan iris coklat kelam itu meletakkan rajutannya seraya menghela panjang. Kemudian ia bangkit dari kursi nyamannya untuk menghadap tamunya.

Salah satu alis rampingnya terangkat saat kedua mata coklat itu dengan tidak sopan memperhatikan Vlador dan Triana dari kaki hingga kepala. “Meh… Kami kehabisan kamar.”

“Apa? Nyonya, apakah kau yakin?” Tanya Triana.

Wanita gemuk itu melirik wajah Triana malas sebelum kembali lagi menatap pakaian yang gadis itu kenakan, dan mendecak. “Aku yang menjalankan penginapan ini; mana mungkin aku salah?”

Vlador melirik Triana yang sedang berusaha menjelaskan pada wanita itu bahwa sekarang sudah tengah malam dan sedang turun hujan di luar. Lalu ia beralih pada wanita penginapan yang memberikan tatapan semakin merendahkan pada Triana dan matanya terus terfokus pada pakaian penuh nodanya.

Salah satu keburukan manusia yang Vlador sadari adalah mereka selalu menemukan hal buruk dari setiap hal. Ketimbang wajah cantik dan rambut indah Triana, wanita penginapan itu lebih memilih memberikan seluruh perhatiannya pada sebuah gaun kotor yang agak rusak.

Berdebat dengan manusia yang menilai segala sesuatu dari penampilannya saja hanya akan membuang waktu dan tenaga. Orang seperti mereka adalah pengagum kecantikan dan uang. Dengan begitu, Vlador merogoh kantungnya dan mengeluarkan satu keping koin emas.

“Kami membutuhkan kamar. Sediakan sekarang juga.” Perintahnya.

Koin berkilau yang Vlador letakkan di atas meja membuat wanita gemuk itu terdiam, tidak lagi menangkis permohonan Triana.

“A-apakah itu… emas murni?” Tanya wanita itu.

“Aku tidak tahu ada emas tidak murni di dunia ini. Kau mungkin mengambil koin itu dan memberikan kami kamar atau menolaknya sehingga kami bisa segera pergi.” Ucap Vlador dingin.

“Begini, Tuan,” Wanita itu mengubah postur malasnya menjadi berdiri tegap tanpa lupa memasang wajah ramah. “Kami sungguh telah kehabisan kamar. Jika ada pun, itu adalah kamar yang sebenarnya tidak bisa digunakan karena tungku apinya terlalu kecil, begitu pula dengan ukuran kasurnya. Festifal musim gugur akan segera tiba sehingga banyak pelancong berdatangan ke kota ini.”

“Kalau begitu buat kamar itu menjadi selayak mungkin karena kami akan bermalam di sana.” Ucap Vlador.

“Ba-baiklah...” Sahut wanita itu, lalu ia berdehem. “Dan akan akan mengambil koin ini.”

Bahkan ketika ia belum mendapatkan konfirmasi dari Vlador, tangan berlipatnya dengan cepat menyambar koin emas itu. “Aku akan segera kembali.”

Wanita itu menaiki tangga sempit yang terletak di dekat meja depan, kemudian ia terdengar samar memanggil-manggil seseorang bernama Martha untuk membantunya.

“Tuan Vlador, mereka hanya memiliki satu kamar.” Triana membuat Vlador menoleh padanya.

“Aku sudah mendengarnya.”

“Aku tahu, tapi maksudku… itu agak…” Triana tidak melanjutkan kalimatnya.

“Kau takut?” Vlador menatap Triana dengan satu alis terangkat.

Triana hanya diam dan menundukkan wajahnya. Kemudian Vlador menyentuh dagu gadis itu dan membuatnya mendongak. “Apa yang kau takutkan, hm?”

Melarikan pandangannya ke samping, Triana berdehem pelan. “Aku… aku percaya bahwa kau tidak akan membunuhku, tapi bermalam berdua dalam satu kamar dengan seorang pria mungkin akan mengundang cibiran orang.”

“Kalau begitu kau bisa tidur di luar kamar.” Sahut Vlador.

Triana menggigit bibir bawahnya. Begitu Vlador melepaskan dagunya, wajahnya kembali tertunduk.

“Mengkhawatirkan apa kata orang telah meracuni daging hingga tulangmu. Apakah orang-orang itu yang memberimu makan? Kau bahkan tidak yakin orang-orang di sini mengenalimu.” Lanjutnya Vlador, terkekeh merendahkan.

Melihat Triana hanya menunduk diam membuat Vlador geram. Ia tidak peduli pada kehidupan macam apa yang si itik itu miliki, namun ketakutan berlebihannya terhadap terlalu banyak hal sangat memperlambat perjalanan mereka.

“Maaf membuat kalian menunggu lama. Ada beberapa hal yang harus dibersihkan dan sedikit diperbaiki,” Wanita penjaga penginapan muncul dari atas tangga.

Dengan senyum ramah, ia kembali ke balakang meja dan membuka buku tamu. “Bodohnya aku. Aku lupa menanyakan nama kalian. Bolehkah?”

“Tuliskan Vlad.” Ucap Vlador singkat.

“Baiklah, Tuan Vlad. Silahkan ikut aku ke atas. Kamar kalian sudah siap.” Ucap wanita itu setelah selesai menulis dan mengambil kuncil.

Di lantai dua bangunan penginapan itu terdapat kamar yang terletak di paling ujung dan memiliki pintu usang. Wanita penginapan membukakan pintu tersebut dan memberikan kuncinya pada Vlador.

“Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, kamar ini sangat kecil dan agak kumuh karena biasanya tidak disewakan.” Jelas wanita itu.

“Masuklah dahulu,” Ucap Vlador pada Triana, dan dituruti oleh gadis itu.

Kemudian Vlador merogoh kantungnya untuk mengeluarkan satu keping koin emas lagi. “Bawakan gaun tidur untuk malam ini dan pakaian layak untuk seorang pria dan wanita. Dan bawakan juga baskom mandi dengan sangat banyak wewangian. Aku akan menunggu, jadi sebaiknya kalian cepat.”

Dengan mata berbinar, wanita itu menerima koinnya dan mengangguk. “Pegawai kami akan segera datang membawakan apa yang kalian butuhkan malam ini. Besok, kami akan mengantarkan pakaiannya maksimal jam delapan. Bagaimana?”

Vlador mengangguk singkat. “Aku akan memberi lebih jika kau bisa mencarikan penyewaan kereta kuda beserta kusirnya. Aku hendak pergi ke suatu tempat yang jalannya tidak aku ingat.”

“Aku mengerti. Aku akan dengan senang hati membantumu, Tuan Vlad.” Wanita itu tersenyum.

“Jangan membuatku lama menunggu. Utamakan perlengkapan mandinya dan jangan lupa dengan wewangiannya.” Ucap Vlador.

“Semua akan segera diantarkan.” Sahut wanita itu sambil tersenyum lebar sebelum pergi dengan langkah cepat.

Mengerutkan kening, Vlador menutup pintu kamarnya. Manusia sangat aneh. Terkadang ia berhadap mereka tidak memiliki ekspresi di wajah mereka.

Berbalik badan, Vlador mendapati Triana tengah berjongkok di depan perapian dengan kedua telapak tangan mengarah ke depan. Cahaya kemerahan dari api kecil yang berkobar terpantulkan pada kulit saljunya dan mempertegas bayangan di bawah bulu mata tebal dan lentiknya. Sebuah senyum nyaman terukir di bibir pucatnya.

Mengalihkan pandangannya, mata Vlador menyisir sekeliling kamar. Wanita penginapan itu benar tentang ukuran kamar mereka. Hanya terdapat sebuah ranjang di sisi ruangan yang berjarak dua langkah dari perapian usang. Di samping perapian terdapat jendela dengan penutup kaca tanpa gorden. 

Namun hal yang cukup mengganggu Vlador adalah ukuran ranjang yang sebelumnya dikatakan kecil.

Ia tidak berpikir bahwa itu ternyata lebih buruk dari perkiraannya. Itu adalah ukuran yang agak luas untuk seseorang, namun terlalu kecil untuk dua orang, terutama untuk seorang pria dengan ukuran tubuh sepertinya.

Melirik Triana kembali, mata Vlador menyipit. Ternyata tubuh kurus itu ada gunanya di saat yang tak terduga.

Trimakasih sudah membaca!! 🥰🥰



Komentar