Triana.
Hawa hangat dari perapian seakan memeluk Triana, terasa seperti pelukan ibunya.
Terus mengarahkan kedua telapak tangannya yang terasa membeku ke depan, ia mulai mendapatkan indra perasa pada ujung-ujung jemarinya kembali. Ia tidak menyangka, duduk di depan perapian usang seperti ini akan terasa seperti surga. Ini adalah dua hari yang sangat melelahkan.
Suara langkah sepatu yang menginjak lantai kayu hingga berdecit membuat Triana teringat bahwa ia tidak sendirian. Ia menoleh untuk mendapati Vlador telah berdiri di sampingnya.
“Eum…” Tiana bangkit berdiri dan tersenyum canggung. “Terima kasih telah membujuk wanita itu untuk memberikanku kamar.”
“Ia berkata kamar ini memang tidak seharusnya disewakan.” Ucap Vlador.
Kedua mata emas itu seakan menyihir Triana untuk terhisap ke dalamnya sesaat. Begitu tersadar, ia segera mengalihkan pandangannya ke samping, berharap rasa panas pada pipinya hanya perasaannya belaka.
Saat pertama kali melihat Vlador merubah wujudnya menjadi manusia, Triana tidak pernah bisa menahan dirinya untuk bersikap canggung. Jantungnya terus berdegub keras saat pandangan mereka bertemu. Ia semakin gugup karena yang ia tahu, Vlador dapat merasakan desiran darah yang mengalir di nadinya.
Indah. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan rupa Vlador sebagai seorang manusia. Bagi Triana, Vlador memang memiliki wajah yang tampan sejak awal. Namun ketampanannya itu tertutupi oleh vitur vampir yang ia miliki. Dalam wujud aslinya, Vlador memiliki kulit pucat, taring, dan kuku-kuku hitam dan panjang. Matanya pun seperti dikelilingi oleh lingkaran kemerahan kelam samar yang membuatnya terlihat seperti iblis yang bangkit dari neraka.
Namun kini, semua hal yang membuat Vlador terlihat menyeramkan telah menghilang. Ia memiliki kulit yang cukup segar sehingga ia tidak nampak seperti mayat berjalan. Gigi rapih yang bersembunyi di balik bibir merahnya membuat Triana berhayal betapa indahnya senyuman yang bisa ia buat.
Vlador tidak lagi menempati peringkat dua puluh besar dari pria tertampan yang pernah Triana lihat. Ia menempati posisi tiga besar, tepatnya di peringkat nomor dua karena peringkat pertama sudah diduduki oleh Pangeran Lucius, calon suaminya.
“Apakah demamnya semakin parah?”
Kedua mata Triana membesar ketika sebuah tangan besar menyelinap masuk ke dalam rambutnya dan melekat pada leher dan rahangnya. Ia segera mengelak dengan melangkah mundur.
“A-aku pikir itu akan lebih baik setelah aku beristirahat dengan benar malam ini.” Ucap Triana, memaksa senyum tipis.
Vlador menarik turun tangannya. “Aku harap begitu.”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Vlador berbalik dan membukanya.
“Terima kasih telah bersabar menunggu, Tuan Vlad. Kami membawakan sepasang pakaian tidur dan perlengkapan mandi.” Ucap salah satu dari dua pelayan wanita.
Vlador mengangguk sekali. “Letakkan semuanya di samping ranjang.”
“Baik.” Ucap mereka.
Memperhatikan dua pelayan itu meletakkan sebuah gaun tidur wanita, tunik pria tipis, dan sebuah baskom mandi, kening Triana mengkerut. Namun ia terseyum tipis saat para pelayan itu menyapanya singkat dengan ucapan selamat beristirahat.
Begitu kedua pelayan itu keluar, Vlador melangkah ke pinggir ranjang, di mana Triana sedang berdiri tertegun.
“Bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu. Aku ingin kau sudah sehat besok, jadi beristirahatlah dengan benar.” Ucap Vlador seraya memeriksa asal benda-benda yang dibawa para pelayan itu.
“Tu-tunggu sebentar,” Triana membuat Vlador menatapnya. Lalu ia meneguk liur susah payah. “Aku… harus membersihkan diri di sini?”
“Jika kau ingin melakukannya di luar, itu terserah padamu. Namun aku yakin penginapan kecil ini tidak lebih baik dari penginapan besar yang bahkan hanya memiliki sebuah bilik toilet di setiap lantainya.” Jawab Vlador.
Triana terdiam memperhatikan baskom berisi air panas yang masih mengebul dan mengeluarkan aroma minyak parfum yang tercium agak menyengat baginya. Ia bahkan dapat melihat gumpalan-gumpalan besar minyak mengambang di atas air yang masih bergoyang itu.
“Kau harus mambersihkan tubuhmu dengan air itu. Jangan membuang waktu lagi.” Perintah Vlador.
Kembali mengangkat wajahnya, Triana berdehem. “Begini, Tuan Vlador. Sebelumnya, aku berterima kasih karena kau sudah berinisiatif menyediakan ini semua untukku. Namun aku tidak mungkin membersihkan diri di ruangan yang sama dengan pria asing. Jadi… mungkinkan kau bersedia untuk menunggu di luar?”
“Tidak.” Jawab Vlador tegas dan dingin, membuat Triana merapatkan kedua bibirnya. “Membuang waktu di penginapan, menyediakan fasilitas untukmu, dan bersabar pada sikap manjamu sudah sangat mencoreng harga diriku sebagai pangeran. Kini kau menyuruhku menunggu di lorong seperti budak?”
“Tapi aku sungguh tidak bisa melepaskan pakaianku di depanmu. Aku adalah wanita terhormat dengan seorang calon suami. Kamar ini juga sangat kecil. Sesungguhnya aku tidak apa jika harus tidur dengan pakaianku yang sekarang-”
“Tidak. Kau harus membuang pakaian bau itu dan membersihkan tubuhmu. Apa kau mengerti?” Potong Vlador.
Menundukkan wajahnya, Triana berusaha mengatur napas. Ini adalah hal kecil yang tidak seharusnya menjadi alasan untuk dirinya merasa putus asa dan ingin menangis. Namun ia tidak pernah mengganti pakaian di depan seorang pria, bahkan ayahnya sendiri.
Selama hidupnya, Triana lebih banyak dikelilingi oleh dayang, saudari, dan teman perempuan. Mereka berkata bahwa seorang gadis yang membiarkan tubuh polosnya dilihat oleh pria yang bukan suaminya sama saja seperti ia telah kehilangan harganya sebagai seorang perawan.
“Aku tidak akan berbuat buruk padamu.”
Triana menaikkan pandangannya untuk menatap wajah Vlador. “Maaf?”
“Aku bukan pria yang akan meniduri sembarang wanita telanjang yang bahkan membuka kedua kakinya di hadapanku. Bagiku, kau hanyalah seonggok daging yang dialiri darah. Satu-satunya nafsuku yang bangkit karenamu adalah rasa lapar, bukan birahi.” Ucap Vlador.
Mengatupkan bibirnya, Triana mengerjap beberapa kali. “Maaf, tapi sebenarnya aku tidak berpikir sejauh itu. Aku hanya… tidak ingin dilihat.” jelasnya dengan suara mengecil di akhir kalimat karena pipinya kembali menghangat.
Diam beberapa saat, Vlador mengangguk sekali. “Kalau begitu aku akan memunggungimu. Aku percaya itu sudah cukup.”
Selama hidupnya, Triana tidak pernah terjebak dalam situasi mencekik seperti sekarang. Mungkin beberapa norma kerajaan diperbolehkan untuk dilanggar jika keadaan memaksa.
“Baiklah. Tolong balikkan punggungmu dan tolong jangan berbalik sebelum aku mengijinkannya, Tuan Vlador.” Pinta Triana.
“Aku tidak bergerak sesuai perintahmu. Lakukan saja dengan cepat." Ucap Vlador sebelum beranjak menuju jendela.
Begitu Vlador memutar tubuhnya, Triana menghela panjang. Dengan tatapan tetap terpaku pada pria itu, ia mengarahkan kedua tangannya ke punggung. Namun setelah beberapa menit meraba-raba hingga tangannya keram, ia masih tidak dapat menemukan letak simpul tali gaunnya.
“Oh, Tuhan…” Lirihnya pelan.
***
Vlador.
Menatap awan hitam yang terus menumpahkan air, Vlador diingatkan pada dirinya yang kala itu masih merupakan seorang pangeran kecil. Ia sering kali menyelinap keluar dari kediaman ibunya dan bermain di bawah hujan. Saat itu, ia hanyalah sebuah kertas polos yang menghindari coretan-coretan yang tidak perlu.
Terjaga dari lamunannya, Vlador menyadari bahwa ia sudah cukup lama berdiri di balik jendela. Lalu ia menoleh ke belakang, berpikir Triana sudah selesai dengan urusannya karena ia terdengar sangat sunyi. Namun keningnya mengkerut saat ia mendapati gadis itu masih terbalut rapih di dalam gaun kotornya.
“Kenapa kau tidak mengganti pakaianmu? Apa kau sedang mempermainkanku?” Geram Vlador.
Terlonjak, Triana menarik tangannya dari belakang punggung. Ia menatap horror pada Vlador yang melangkah menghampirinya. “Aku tidak mempermainkanmu. Aku… kesulitan membuka tali gaunku.”
Vlador mencengkram salah satu pundak Triana dan membuat gadis itu membalik punggungnya. Jelas saja itik itu tidak bisa membukanya. Di samping ia yang pasti tidak pernah mengenakan dan menanggalkan gaunnya sendiri, semua tali itu diikat dengan kuat dan simpulnya disembunyikan dengan rapih.
“Jika kau kesulitan, kenapa diam saja?” Tanya Vlador seraya menyelipkan jarinya di antara tali-tali punggung gaun Triana.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Triana dengan punggung menegang.
“Tentu saja membuka tali gaunmu. Kenapa? Kau ingin berkata kau akan melakukannya sendiri?”
“Aku…” Triana tidak lagi melanjutkan bicaranya.
Meski tidak pernah berkutat dengan pakaian perempuan, Vlador tidak kesulitan membuka tali gaun Triana. Pakaian wanita seratus tahun yang lalu memiliki desain yang lebih kompleks dan Vlador beberapa kali menyaksikan bagaimana para wanita itu membukanya di hadapannya.
Menarik tali-tali itu beberapa kali hingga gaun Triana melonggar, Vlador pikir hidungnya akan segera terbebas dari aroma yang membangkitkan selera makannya. Namun ia menemukan lapisan kain putih lainnya di balik gaun tersebut.
Kening Vlador mengkerut. “Apa ini?”
Terima kasih sudah membaca! 🥰💜


Komentar
Posting Komentar