Langsung ke konten utama

24. Di Dekat Pemangsa // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador.

“Ini adalah… korset.” Jawab Triana, menundukkan wajahnya.

“Aku tidak tahu benda ini.” Gumam Vlador seraya menarik-narik simpulnya. “Untuk apa kau mengenakan ini? Ikatannya sangat kuat,”

“Ini digunakan untuk menjaga postur tubuhku dan mengendalikan makanku.” Jawab Triana pelan. Lalu ia berdehem. “Bisakah kau membantu membuka simpul korsetnya juga?”

“Apakah wanita sekarang selalu mengenakan benda menyusahkan seperti ini?” Tanya Vlador seraya menarik-narik simpul tali itu.

“Para wanita bangsawan mengenakannya. Dan aku pikir wanita di jaman dulu juga mengenakannya.” Jawab Triana sembari mengingat-ingat. Lalu ia melanjutkan, “Setahuku, hanya wanita bangsawan yang mengenakan korset.”

“Benda ini memiliki bentuk yang keras dan diikat sangat kuat. Kau hebat karena aku yakin kau pasti kesulitan bernapas selama ini.” Vlador menggeleng tidak percaya.

Mengangguk kecil, Triana menjawab, “Sejujurnya aku memang agak merasa sesak, terutama ketika baru pertama kali belajar mengenakan korset. Namun cantik itu memang menyakitkan, dan aku sudah terbiasa.”

“Jika dengan menjadi bangsawan dan menjadi cantik harus membuatmu tidak bisa bernapas, bukankah lebih baik menjadi orang biasa dan bisa bernapas sesukamu?” Tanya Vlador.

Triana menggeleng pelan. “Perbedaannya adalah orang biasa harus bekerja keras sehingga mereka tidak bisa mengenakan korset. Sedangkan kami, bangsawan, mengenakan korset namun tidak perlu bekerja keras dan hanya perlu terlihat anggun.”

“Aku melihat keduanya sebagai sebuah pilihan. Jadi kau memilih untuk menjadi anggun namun tidak bisa bernapas?” Vlador terkekeh merendahkan.

Terdiam sejenak, Triana menjawab dengan suara pelan, “Sesungguhnya… aku tidak tahu,”

“Aku bisa melihatnya.” Satu ujung bibir Vlador menekuk.

Di saat yang sama, tali korset Triana akhirnya terlepas hingga ke bawah, membuat punggung halusnya terekspos. Vlador dapat melihat pergerakan besar pada punggung itu yang menandakan bahwa Triana kini bisa bernapas dengan benar.

Namun dengan terbukanya gaun dan korset itu, tubuh atas Triana hanya terbalut oleh dalaman tipisnya hingga menyebabkan aroma tubuhnya semakin kuat menyeruak keluar. Tadinya Vlador berniat untuk segera pergi dari tempatnya, namun ia menyadari sebuah hal yang membuatnya tetap berada di sana.

Menyentuh luka gigitan pada leher Triana, Vlador membuat gadis itu tersentak dan menggeser tubuhnya. Namun pergerakan Triana kalah cepat dari tangan Vlador yang mencengkram lengan atasnya hingga membuatnya gagal menghindar.

“Jangan bergerak,” Perintah Vlador.

“A-apa yang kau lakukan?” Triana berusaha menoleh ke belakang, namun ia gagal karena Vlador menahan tubuhnya. “Tuan Vlador?”

“Lukamu, ini nyaris sembuh.” Ucap Vlador. Ia mengusap luka itu dengan jari jempolnya seraya meneguk liur yang menggenang di bawah lidahnya.

“Benarkah?” Triana ikut menyentuh lukanya. “Kau benar! Ini bahkan tidak lagi terasa sakit!”

“Bagaimana mungkin? Sebelumnya luka ini masih cukup basah. Sekarang ia sudah rata dengan kulit di sekelilingnya.” Gumam Vlador.

“Aku hampir tidak pernah terluka. Namun aku yakin bahwa luka tidak sembuh secepat ini.” Ucap Triana seraya menurunkan tangannya. “Apakah karena ini adalah luka gigitan vampir?”

“Tidak.” Vlador menggeleng kecil. “Seharusnya luka gigitan sama seperti luka lainnya. Namun aku tidak pernah memperhatikan secara langsung karena biasanya aku meminum darah manusia hingga mereka mati.”

“Oh…” Triana berdehem seraya mengarahkan kedua tangannya untuk menutupi lehernya. “Tuan Vlador, terima kasih sudah membantuku melepas ikatan gaunku. Sekarang, aku bisa berganti pakaian, jadi… jika kau tidak keberatan, bisakah kau menunggu di tempat tadi?”

Tidak mendapat jawaban, Triana tidak mengetahui bahwa di belakang punggungnya, kedua mata Vlador telah berubah menjadi merah. Jemarinya yang masih menempel pada kulit punggung lembut itu telah menumbuhkan kuku hitam panjang. Lidahnya bergerak untuk menjilat taringnya yang semakin meruncing.

Merasakan tusukan samar pada kulitnya, Triana mengerahkan seluruh kekuatannya untuk segera membalik punggung hingga ia bisa bertatapan dengan Vlador. Namun matanya membesar dan pupilnya bergetar saat ia mendapati wujud Vlador sudah berubah.

“Ya Tuhan!” Pekik Triana seraya bergeser mundur sambil memegangi gaun longgarnya.

Ekspresi ketakutan Triana membuat Vlador mengerjap hingga kesadarannya bersatu kembali. Ia segera memalingkan wajahnya dan turun dari ranjang.

Meraih tunik barunya, Vlador melangkah kembali menuju jendela. “Cepat bersihkan dirimu dan berganti pakaian. Aku tidak akan berlama-lama membalik tubuhku seperti orang bodoh. Aku akan kembali ke sana ketika aku sudah selesai.”

***

Triana.

Dengan jantung berdegub keras, Triana terburu-buru melepas seluruh pakaiannya. Sayangnya, bahkan untuk membuka pakaian dan membasuh tubuhnya sendiri, ia sama sekali tidak kompeten.

Sejak bayi, Triana memiliki pelayan yang melakukan berbagai hal sederhana hingga berat untuknya. Kini ia semakin menyadari betapa gagalnya ia menjadi seorang manusia.

Ketika seluruh pakaiannya sudah tanggal, Triana menyambar baskom di sampingnya dan membasuh tubuhnya dengan lap yang dicelupkan ke air yang mengisi baskom tersebut. Namun kedua matanya bergetar saat ia menyaksikan Vlador menarik tunik longgarnya keluar dari kepalanya.

Itu adalah barisan bukit dan tebing batu yang menyamar sebagai tubuh manusia. Di dalam hidupnya, Triana belum pernah melihat punggung yang terukir sekeras itu. Satu-satunya hal yang dapat ia simpulkan adalah; semua otot besar dan bergelombang itu terlihat sangat megah karena menyembunyikan sepasang sayap raksasa.

Ketika Vlador bergerak mengenakan tunik barunya, Triana tersadar akan kebodohannya. Kenapa ia malah diam menontoni punggung pria itu? Kini Vlador hampir selesai dengan urusannya dan Triana masih harus mengeringkan tubuhnya dan mengenakan gaun tidur.

Menyambar handuk kering, Triana menepuk-nepuk tubuhnya dengan terburu-buru sementara pandangannya terus terpaku pada Vlador. Jantungnya berdebar semakin kuat ketika pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam tuniknya dan meloloskan kepalanya dari kerah garmen putih itu.

“Tunggu!” Seru Triana, membuat Vlador menghentikan pergerakannya. “Tolong tunggu sebentar. Aku belum selesai. Ini hanya sebentar lagi,” ucapnya seraya menyambar gaun tidurnya.

Namun, meski sempat berhenti sejenak, Vlador  tetap melanjutkan pergerakannya, lalu berbalik menghadap Triana.

Memekik, Triana menutupi tubuh depan polosnya dengan gaun tidur dan dalaman yang belum sempat ia kenakan. “Jangan! Aku belum selesai!”

“Aku sudah memberimu sangat banyak waktu.” Ucap Vlador, menatap Triana datar dengan kedua mata dinginnya, lalu melangkah menghampiri ranjang untuk duduk di pinggirnya.

Menahan air mata, Triana menggeser duduknya mundur untuk turun dari ranjang. Lalu ia duduk di lantai kayu agar tubuhnya dapat bersembunyi di bawah kaki ranjang yang tinggi.

‘Ia telah melihatku. Bagaimana ini?’ Tangis Triana dalam hati.

Dengan gerakan cepat dan terbatas, Triana mengenakan dalaman dan gaun tidurnya dengan harapan tubuhnya cukup kecil hingga Vlador tidak dapat melihatnya dari atas sana.

Selesai berpakaian, Triana membalik tubuhnya dan mengintip ke atas ranjang untuk menemukan Vlador telah berbaring dengan kedua mata terpejam. Pria itu meletakkan kedua lengan panjang berhias timbulan urat-urat biru keunguannya di belakang kepala sebagai alas.

‘Apakah ia tidur?’ Pikir Triana. Lalu ia bangkit berdiri sambil terus memperhatikan. Ia pikir vampir tidak tidur di malam hari. Tidak. Ia bahkan mengira mereka tidak pernah tidur.

Tiba-tiba, kedua mata Vlador terbuka hingga membuat tubuh Triana terlonjak. Lalu kedua iris coklat pria itu bergulir ke samping dan berhenti saat bertemu kedua mata bergetar Triana.

“Kenapa kau memperhatikanku seperti itu?” Tanya Vlador.

“A-apa? Aku tidak…”

“Aku telah melihatmu. Kenapa kau memandangiku seperti itu? Apa ada hal yang ingin kau katakan?” Tanya Vlador. Kedua matanya bergerak mempelajari Triana dari bawah ke atas.

Triana menggigit bibir bawahnya sebelum berdehem untuk mengenyahkan kegugupannya. “Aku hanya berpikir bahwa vampir tidak tidur, namun kau terlihat hendak tidur.”

“Kami tidak butuh tidur namun kami akan melewati waktu dengan tidur.” Jawab Vlador.

“Bahkan di malam hari?” Tanya Triana.

“Tidak ada waktu spesifik untuk tidur. Kau bisa melihat bahwa di luar hujan dan tidak ada yang bisa aku lakukan malam ini.”

“Baiklah… tapi jika kau memang ingin tidur, apakah kau sungguh akan tidur di ranjang ini? Jika kau tidur di sini, bagaimana denganku?” Tanya Triana pelan.

“Apa kau tidak melihat aku sudah menyisakan tempat untukmu?” Vlador menunjuk bagian sempit sisi ranjang di samping tubuhnya. “Ranjang ini memang kecil, namun hanya ini yang tersedia di penginapan ini. Aku akan memberikan seluruh selimutnya untukmu, jadi sebaiknya kau tidak banyak protes.”

Trimakasih sudah membaca! 💜💜


Komentar