Triana.
Memandang kosong ke depan, Triana menyadarkan diri dengan mengerjap sekali sambil mengerutkan kening. Berita gila apa yang baru saja ia dengar?
Kakak keduanya, Rubby, akan menikah? Ibunya berbohong pada Winston bahwa ia sedang sakit di dalam kamar?
Triana bahkan tidak tahu kakaknya itu akan menikah. Tidak, ia bahkan tidak tahu kakaknya memiliki kekasih atau pria untuk dijodohkan! Kakaknya yang pendiam, pemalu, dan tidak memiliki teman itu. Bagaimana mungkin ia bisa tiba-tiba menikah?
Namun di luar itu semua, apa yang sedang keluarganya lakukan saat ini, ketika ia tengah menghilang setelah kunjungannya ke kastil vampir?
Ia pikir saat ini sedang terjadi kekacauan di Kastil Galev karena putri kesayangan mereka menghilang. Ia pikir mereka telah membuat sayembara pada semua kesatria untuk menyelamatkannya. Namun, bahkan Winston pun tidak mengetahui apa-apa setelah mengunjungi kediaman Galev dan berbincang langsung dengan ibunya!
“Tuan Winston…” panggil Triana, setengah bergumam. “… apakah kau bisa menjelaskan… bagaimana keadaan di Kastil Galev kemarin?”
“Yah…” Winston mengusap dagunya sembari memandang ke atas. “Keadaannya cukup ramai karena persiapan pernikahan itu, sehingga aku hampir tidak terjamu dengan baik sebagai tamu. Namun itu tidak mengherankan karena Nona Ruby akan menikahi putra mahkota sehingga-”
“Putra mahkota?!” Seru Triana dengan mata terbelalak.
“Astaga, Lady, kenapa kau harus berteriak seperti itu? Kau bukannya terkejut, ‘kan? Sebenarnya apa yang terjadi?” Winston menatap Triana dengan kening mengkerut.
Jika Winston mengetahui kisah sebenarnya, ia tidak akan heran pada keterkejutan Triana. Meski selama ini diam, Triana sebenarnya menyadari bahwa perlakuan keluarganya terhadap kakak perempuan ke-duanya itu sedikit tidak adil. Orang-orang berkata bahwa Ruby tidak cantik. Sifatnya yang pendiam dan tertutup juga membuatnya diabaikan oleh lingkungan.
“Ti-tidak ada yang terjadi, Tuan Winston. Aku… aku hanya agak terkejut mendengar bahwa ternyata semua orang sesibuk itu, namun aku tidak membantu sama sekali. Kau tahu, ‘kan, selama aku sakit, aku terus tidur di dalam kamar seperti beruang di musim dingin. Maaf jika aku berteriak.” Jawab Triana, berusaha memberi tawa kecil.
“Oh… seperti biasa, kau sangat memikirkan keluargamu. Namun kau tidak perlu khawatir karena orang-orang dari istana telah dikerahkan untuk membantu persiapan di Kastil Galev.” Ucap Winston.
Triana hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Ia terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa orangtuanya pasti memiliki alasan untuk menutupi keadaan bahwa ia sedang menghilang dan berada dalam bahaya. Namun kenyataan bahwa mereka masih bisa sibuk menyiapkan pesta sejujurnya terasa tidak benar. Meski begitu, ia harap keputusannya untuk membantu mereka berbohong adalah hal yang benar. Ia tidak ingin orangtuanya dinilai sebagai pembohong oleh orang lain.
“Aku menyarankanmu untuk segera kembali ke kastil Galev karena kau baru saja sembuh, Triana. Pesta pernikahannya akan sangat besar. Kau tidak mau terlihat lemas di sana, bukan?” Ucap Winston begitu mereka tiba di luar rumah.
“Aku akan mempertimbangkannya. Terima kasih, Tuan Winston.” Triana tersenyum. Lalu ia berdehem tipis dan melanjutkan, “Berbicara tentang kastil Galev, jadi orangtuaku terus berada di sana, benar? Apakah kau mungkin mendengar mereka memberikan pengumuman lain selain pernikahan Ruby?”
Winston menggeleng. “Tidak. Mereka hanya mengumumkan tentang pernikahan Lady Ruby. Mereka terlihat sangat gembira karena akan berbesanan dengan Raja Galvadea. Kau tahu, ‘kan? Semua orang mengira putra mahkota tidak menyukai wanita, jadi itu terdengar seperti sebuah keajaiban bagaimana Lady Ruby yang sangat pendiam tiba-tiba dilamar olehnya.”
Ternyata orangtua Triana benar-benar tidak mencarinya. Bahkan desas desus tentang dirinya yang menghilang pun tidak terdengar. Bukankah itu artinya mereka tidak mengirim pasukan untuk mencarinya sama sekali?
Tiba-tiba suara tangisan histeris terdengar dari arah jalan. Ketika memperhatikan sedikit, Triana dan yang lainnya mendapati bahwa itu berasal dari seorang wanita paruh baya. Ia berdiri bersama pria yang kelihatannya adalah suaminya, sedangkan di depan mereka adalah tiga pria berseragam serba hitam.
“Tuan Harper, apa yang terjadi?” Winston melangkah cepat menghampiri salah satu pria berseragam hitam itu. Mereka adalah polisi kota.
“Sebaiknya kita segera pergi dari sini.” Ucap Vlador, setengah berbisik.
Triana menoleh pada pria itu. “Aku tahu. Tapi kita bisa menunggu Tuan Winston untuk berpamitan. Ia tidak akan lama.”
Seperti yang Triana katakan, tidak sampai lima menit, Winston kembali pada mereka dengan wajah kusut.
“Apakah ada yang salah, Tuan Winston?” Tanya Triana, terus menatap wanita paruh baya yang masih menangis histeris di pinggir jalan.
Winston menggeleng lemah. “Mereka adalah tetanggaku. Putra mereka ditemukan tewas di hutan. Kondisi tubuhnya sangat mengenaskan. Sepertinya ia dimakan hewan buas.”
“Astaga… kasihan sekali dia,” Triana menutup mulutnya dengan tangan.
“Ia adalah pria muda yang sangat rajin dan pandai. Mereka bilang semalam ia mengantarkan kuda tunggangan ke kandang penginapan di pinggiran kota untuk disewakan. Namun ia tiba-tiba menghilang, dan ditemukan dalam kondisi seperti itu pagi tadi.”
“Pe-penginapan?” Gumam Triana seraya melirik Vlador.
“Itu sungguh berita yang menyedihkan.” Ucap Vlador pada Winston tanpa mempedulikan tatapan Triana. “Kalau begitu kami pamit sekarang, Tuan.”
“Oh, ya, tentu. Berhati-hatilah di jalan,” Ucap Winston seraya mengambil langkah mundur.
Setelah pintu kereta ditutup, Triana memberikan lambaian tangan kecil lewat jendela pada Winston yang masih berdiri di sana. Namun ketika kereta kuda mereka sudah mulai berjalan menjauh, senyuman di bibirnya lenyap. Ia menoleh pada Vlador dengan pandangan bergetar.
“Tuan Vlador…”
“Kau sudah tahu jawabannya,” Ucap pria itu langsung.
Menutup mulutnya dengan kedua tangan, mata Triana semakin membesar. Ia memang sudah menebak bahwa vampir di hadapannya inilah yang membunuh pria malang itu. Namun mendengar validasinya langsung dari sosok pembunuh itu tetap membuat tulang punggungnya menegang.
“Ke-kenapa?” Triana tergagap.
Mata coklat terang itu bergulir menatap Triana dengan dingin hingga membuat gadis itu meneguk keras. “Aku lapar. Kau pikir hanya dirimu yang butuh makan?”
Tidak dapat menjawab, Triana hanya menundukkan wajahnya sedikit, memandang kosong lantai kereta. Itu benar. Apakah bisa berbincang santai dan masih tetap hidup setelah menghabiskan waktu selama tiga hari bersama Vlador menandakan bahwa pria itu adalah manusia normal tak berbahaya?
Bagaimana mungkin Triana sempat melupakan bahwa Vlador adalah sosok vampir yang membunuh manusia untuk mengenyangkan perutnya?
Membayangkan bagaimana Vlador memakan manusia membuat punggung Triana menggigil dan kulitnya meremang. Ia masih mengingat ketika Vlador membantai semua pengawalnya - Saat itu, Vlador tidak terlihat seperti dirinya yang sekarang. Ia mengerikan, seperti monster.
“Aku… aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Maaf jika aku membuatmu merasa tidak nyaman,” Ucap Triana pelan.
Menatap Triana beberapa detik, Vlador menyandarkan pipi di kepalan tangannya. “Kau benar. Aku merasa sangat tidak nyaman pada tatapan menuduhmu barusan, seakan aku adalah monster berdarah dingin. Haruskah aku memintamu bertanggungjawab?”
“A-apa?”
“Tunjukkanlah bahwa kau sungguh merasa menyesal dengan melakukan sesuatu untukku.” Ucap Vlador.
Kening mengekerut, Triana berdehem. “Apa yang kau ingin aku lakukan?”
“Aku ingin meminum darahmu lagi.” Jawab Vlador langsung, tersenyum tipis.
“Apa? Tidak. Tidak akan.” Triana menggeleng keras seraya memundurkan duduknya lebih dalam hingga punggungnya menabrak sandaran kursi.
“Dasar gadis bangsawan tidak tahu diri.” Vlador menarik senyum miring seraya menatap Triana merendahkan.
Mengeratkan rahangnya, Triana membuang wajah ke samping seraya melipat lengan di depan dada. “Katailah aku sesukamu. Namun aku tidak akan pernah membiarkanmu meminum darahku lagi. Aku sudah gila jika membiarkanmu melakukannya,”
“Kau bisa mengatakan itu lagi ketika kutukannya sudah terangkat,” Sahut Vlador ringan. Lalu ia menegakkan tubuhnya. “Daripada membahas bagaimana aku memakan manusia, sebaiknya kita membahas isi catatan penyihir itu.”
“Oh, kau benar!” Triana bangkit dari sandaran kursinya. Terlalu banyak informasi mengejutkan yang ia terima membuatnya melupakan tujuan utama mereka datang ke rumah Winston.
Vlador menatap Triana dengan satu alis terangkat. “Apakah kau mungkin tidak berniat menghapus kutukannya? Kau seakan tidak peduli hingga melupakan itu. Jangan bilang kau senang berada di dekatku?”
Menatap Vlador dengan kening mengkerut, Triana menjawab tegas, “Tidak. Aku adalah wanita yang setia. Aku hanya mencintai pangeranku. Kami sudah bertunangan dan keluarga kami hampir menjadi besan sepenuhnya.”
“Hm…” Vlador melipat lengan di depan dada. “Berbicara tentang keluarga, kelihatannya orangtuamu yang sangat penyayang itu tidak mencarimu, benar? Apakah kau tidak penasaran mengapa?”
Pertanyaan Vlador membuat Triana tertegun. Bibirnya seketika mengatup dan kepalanya tertunduk. Sejujurnya, itulah yang ia pikirkan sejak tadi hingga membuatnya melupakan tentang tujuannya menghapus kutukan mereka. Ia tidak percaya kakaknya tiba-tiba menikah dan orangtuanya terlalu sibuk dengan pesta pernikahan tersebut hingga tidak mencari putri kesayangan mereka yang diculik vampir berbahaya.
“Tuan Vlador…” Gumam Triana, masih dengan kepala menunduk dan mata berkaca-kaca.
“Hm,”
Menaikkan wajahnya, Triana menatap pria yang tengah duduk santai itu. “Aku … ingin pulang ke rumahku,”
![]() |
| Celana >>> |
![]() |
| Rok >>> |


Komentar
Posting Komentar