Vlador.
“Mungkin saat ini orangtuaku diam-diam sedang mengirim pasukan untuk mencariku, sedangkan mereka tetap diam di kastil karena kakakku akan segera menikah. Aku dapat memahami mengapa mereka melakukan itu. Yang menikah dengan kakakku adalah putra mahkota Kerajaan Galvadea. Mereka pasti tidak ingin mengacaukan keadaan.” Ucap Triana.
Tertawa kecil, Vlador menatap Triana dengan mata membesar. “Kau benar-benar sebodoh itu, huh? Namun menjadi bodohlah seorang diri! Jangan menyusahkanku dengan kebodohanmu itu!”
“Tuan Vlador… aku mohon…” Air mata mengalir menuruni pipi Triana.
“Tidak. Menangislah hingga tubuhmu kering. Itu tidak akan membuatku membiarkanmu pulang.” Ucap Vlador tegas, lalu menajamkan tatapannya dan melanjutkan, “Tidakkah kau ingat bahwa nyawa kita saling terhubung? Membiarkanmu pulang terlalu beresiko untukku. Mereka akan mengurungku selamanya seperti binatang agar kau tetap hidup dan bisa menikah dengan pangeran sialanmu itu.”
“Tidak, Tuan Vlador.” Triana menggeleng cepat. “Aku berjanji itu tidak akan terjadi. Kita akan tetap mencari cara untuk menghapus kutukan ini bersama dan aku akan meminta agar orangtuaku tidak menyakitimu. Aku bahkan akan meminta orangtuaku mencari seseorang yang bisa mengartikan isi catatan penyihir itu.”
“Aku sudah tahu apa arti dari catatan itu.” Sahut Vlador.
“Ka-kau tahu?” Kedua alis Triana terangkat tinggi.
Vlador menyandarkan punggungnya ke belakang dan melipat lengan di depan dada. “Aku hanya perlu mencari tahu siapa yang dimaksud dengan Si darah biru berambut putih. Aku yakin itu adalah penyihir es, namun aku tidak tahu siapa tepatnya dan di mana sarangnya.” Lalu ia kembali menajamkan tatapannya pada Triana. “Karena itu, bantuan orangtuamu tidak diperlukan. Kau tidak akan menemui mereka.”
“Aku hanya ingin bertemu mereka satu kali sebelum pergi menghapus kutukan ini. Perjalanannya mungkin akan agak lama. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir,” Ucap Triana cepat.
“Tuan Vlador, aku mohon padamu. Tolong mengertilah. Aku sangat menyayangi keluargaku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan mengucapkan selamat tinggal. Aku mohon padamu.”
Valdor bergeming, tidak tersentuh sama sekali dengan air mata yang bercucuran menuruni pipi Triana. Ia adalah pangeran vampir yang dikenal bengis, bahkan di antara para vampir. Mana mungkin ia bersedia membahayakan dirinya sendiri demi gadis manusia yang menangis seperti kucing di hadapannya.
“Aku akan melakukan apa pun yang kau minta,”
“Hm?” Vlador mengangkat satu alisnya.
Triana mengangguk cepat. “Aku berjanji. Aku akan melakukan apa pun asalkan kau membiarkanku pulang sebentar.”
Kekehan kecil lepas dari bibir Vlador yang tetap tertutup. Lalu ia bertanya, “Kau yakin? Apa kau sadar dengan siapa kau berbicara?”
“Aku benar-benar harus bertemu orangtuaku. Jika bukan dengan cara ini, bagaimana caraku bisa membuatmu membiarkanku?”
“Hm… di samping kebodohanmu, kegigihanmu cukup menyentuh.” Vlador terkekeh, lalu menyondongkan tubuhnya ke depan mendekati Triana. “Aku ingin meminum darahmu, dan kau harus menahannya hingga napas terakhirmu.”
Kening Triana mengkerut. “Menahan hingga napas terakhirku?”
“Aku ingin meminum darahmu sebanyak mungkin tanpa membuatmu mati. Jadi, kau harus menahan rasa sakitnya dan baru boleh bersuara jika jantungmu hampir berhenti karena kehabisan darah.”
Meneguk liurnya, Triana terdiam selama beberapa detik. Sementara itu, Vlador hanya menatap gadis tersebut dengan senyum tipis.
‘Aku ingin melihat apakah cintamu pada keluargamu sebesar itu hingga kau bersedia-‘
“Baik.” Triana mengangkat pandangannya untuk menatap Vlador tajam meski dengan bulir-bulir air mata yang terus mengalir. “Aku akan melakukannya: membiarkanmu meminum darahku. Aku akan tetap tenang, dan baru akan bicara ketika aku merasa akan mati. Tapi ini hanya satu kali.”
“Aku telah berbaik hati mengabulkan keinginanmu, dan kau berani memberikan syarat?” Vlador menatap Triana tidak percaya.
“Ji-jika melakukannya beberapa kali aku mungkin … akan mati sungguhan. Aku tidak pandai menahan sakit.”
Vlador diam beberapa detik, lalu mengangkat satu alisnya. “Pastikan mereka mempertemukanmu dengan orang yang bisa mengartikan maksud dari catatan penyihir itu. Setelahnya, kita akan pergi tanpa menunggu apapun. Aku hanya memberimu waktu satu hari hingga tengah malam.”
***
Triana.
Lonceng berbunyi. Halaman depan istana dipenuhi kereta kuda yang memuntahkan bangsawan-bangsawan berpakaian mewah dari perutnya.
“Selamat malam, Theo,” Triana tersenyum pada pria berkumis tebal yang berjaga di gerbang terdepan istana.
“Oh, Lady Triana. Kenapa kau ada di luar?” Tanya pria itu sembari meneliti kereta kuda sederhana yang mengangkut sang lady. “Bukankah seharusnya kereta kerajaan yang mengangkutmu?”
Masih tersenyum, Triana menggeleng. “Aku memiliki urusan mendadak sebelumnya sehingga hanya menyewa kereta biasa dari kota. Bisakah kau mengawalku ke dalam? Aku tidak memiliki undangan.”
“Tentu saja, Lady. Kau adalah adik dari Lady Ruby; Kau tidak membutuhkan undangan.” Ucap pria itu sebelum naik ke atas kudanya. “Namun kereta kuda dari luar akan dicegat oleh penjaga yang lain. Karena itu, aku akan mengawalmu ke dalam.”
“Terima kasih, Theo.” Ucap Triana sebelum menarik kepalanya kembali ke dalam kereta.
Lima menit kemudian, mereka tiba di depan pintu masuk istana, di mana banyak bangsawan berlalu-lalang sambil bercengkrama.
Triana menoleh ke belakang dan mengerjap sekali pada sepasang mata coklat yang bersinar di dalam bayangan sudut kereta. Sedetik kemudian, pintu kereta terbuka dari luar.
“Apakah aku perlu mengantarmu ke dalam, Lady?” Tanya Theo sembari membantu Triana turun.
Triana menggeleng sambil tersenyum. “Aku baik-baik saja.”
Theo mengangguk. “Baiklah kalau begi-“
“Theo,” Panggil Triana ketika alas sepatunya sudah menapak tanah. “Aku memiliki seorang teman pria di kereta ini. Ia adalah murid Tuan Winston. Namanya Vlad. Ia tidak sengaja menumpahkan minum di kemejanya dalam perjalanan ke sini sehingga ia merasa kurang pantas dilihat orang-orang. Apakah kau bisa mengijinkannya turun di depan, di mana tidak terdapat terlalu banyak tamu?”
“Oh, tentu saja.” Angguk Theo.
Triana tersenyum. “Terima kasih, Theo. Kalau begitu aku akan masuk.”
“Semoga malammu menyenangkan, Lady.”
Setelah memberikan anggukan singkat pada Theo, Triana melangkahkan kakinya menuju pintu megah istana. Seumur hidupnya, jantungnya tidak pernah berdebar keras dan langkahnya tidak pernah goyah ketika ia hendak menghadiri acara. Namun sekarang, dadanya seakan hendak meledak. Dan ia tahu itu bukan karena yang ia hadiri adalah pesta pernikahan kakaknya dengan putra mahkota, melainkan karena apa yang akan orangtuanya katakan saat melihat kedatangannya.
Aula utama istana menyambut Triana. Ia bahkan tidak tahu, aula yang awalnya sudah indah, dapat didekorasi menjadi jauh lebih indah untuk pernikahan sang putra mahkota. Suara para tamu mengisi ruang megah itu, berterbangan di bawah lampu-lampu kristal raksasa yang tergelantungan di langit-langit aula yang memiliki lukisan penampakan surga beserta malaikat-malaikatnya yang sedang mengintip ke bumi.
Meski indah, Triana tidak memiliki lebih banyak waktu untuk mengaguminya. Ia harus menemukan kedua orangtuanya sebelum tengah malam, atau Vlador akan memberi mereka masalah besar.
Memutar kepalanya ke berbagai arah, Triana tidak dapat menemukan kedua orangtuanya, sehingga memutuskan untuk menghampiri penjaga terdekat. Dengan langkah tergesa, ia bahkan sempat menabrak tamu lain saat berusaha menggapai sepasang pria berkumis tebal dan berseragam biru malam yang berdiri di dekat tangga yang mengarah ke balkon takhta.
“Permisi,” Ucap Triana sebangsawan mungkin.
“Ya, Nona? Apa ada yang bisa aku bantu?”
“Aku Lady Triana, putri bungsu keluarga Galev. Aku adik termuda Lady Ruby, mempelai wanita putra mahkota.” Jelas Triana, lalu melanjutkan dengan pertanyaan, “Apakah kau tahu di mana Duke Stefanus dan Duchess Catherine?”
Kedua penjaga itu mengerutkan kening mereka dan saling menatap sejenak. Lalu mereka kembali menatap Triana. Salah satunya menjawab, “Maaf, Lady, namun kami tidak menerima informasi apapun tentang anggota keluarga Galev yang berkeliaran sendirian di waktu ini. Seharusnya keluarga Galev sedang berada di ruang keluarga kerajaan bersama Lady Ruby.”
“Kalau begitu bisakah kalian mengantarku ke sana?” Tanya Triana.
“Maaf, tapi apa kau memiliki bukti bahwa kau benar adalah putri keluarga Galev?”
Pertanyaan itu membungkam Triana. Ia tidak memiliki bukti. Bahkan gaun sederhana yang ia kenakan sekarang saja seharusnya sudah cukup membuat para penjaga ragu bahwa ia adalah seorang bangsawan.
“Theo, penjaga di depan, bekerja untuk keluarga Galev. Tanyalah padanya apakah aku benar putri keluarga Galev.” Ucap Triana.
“Aku rasa itu tidak perlu, Lady, karena Duke dan Duchess Galev sudah berada di sini.” Ucap salah satu penjaga seraya menatap ke belakang punggung Triana.
“Apa?” Triana segera membalik tubuhnya, menyadari kebisingan para tamu mulai mereda. Matanya membesar ketika ia mendapati ayah dan ibunya tengah berjalan menuruni tangga dengan senyum lebar di wajah mereka.
Melangkah cepat, Triana menghampiri kedua orangtuanya yang baru saja menuruni anak tangga terakhir. “Ayah! Ibu!”
“T-Triana?” Catherine terbata, menatap putri bungsunya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Triana, kau…”
“Aku kembali. Aku selamat, ayah,” Triana menatap Stefanus dengan air mata nyaris menetes.
“Oh, Duke dan Duchess! Kalian terlihat menawan malam ini. Aku tidak sabar melihat seberapa cantiknya Lady Ruby nanti.” Seorang pria menghampiri.
Triana terpenjat saat Stefanus mencengkram lengan atasnya dan menariknya sedikit hingga ia melangkah mundur. Kemudian sang ayah mengambil satu langkah maju untuk berdiri di depan Triana, seakan berusaha menyembunyikannya dari kerumunan tamu yang entah sejak kapan telah mengelilingi mereka.
![]() |
| Tag Nama >>> |
![]() |
| Buku Anak >>> |


Komentar
Posting Komentar