Triana.
“Oh, apakah itu putrimu, Duke Stefanus? Apakah itu putri bungsumu yang dikabarkan sangat cantik itu?”
“Ya, kau benar. Namun ia merasa sedikit sakit sehingga ibunya harus membawanya beristirahat sebentar.” Jelas Stefanus, menatap istrinya penuh arti.
Catherine mengangguk sambil tersenyum. “Triana sangat menyayangi kakaknya. Terus-terusan belajar membuatnya kelelahan, namun ia memaksakan diri untuk tetap mengambil peran dalam pesta pernikahan megah ini.”
“Oh, aku mengiri pada kerukunan putri-putri kalian. Tidak hanya cantik, hati mereka juga lembut.” Ucap seorang wanita bergaun merah yang merupakan istri salah satu jendral.
“Kami membesarkan mereka dengan penuh cinta. Mereka hanya meniru kedua orangtuanya.” Tawa Catherine seraya merangkul lengan Triana. “Kalau begitu, kami permisi.”
Bersama ibunya, Triana melangkah keluar dari aula istana. Ada banyak hal yang ingin ia katakan dan tanyakan. Namun bisunya sang ibu membuat ia enggan membuka mulut.
Meski pernah beberapa kali masuk ke dalam istana Galvadea, Triana tidak pernah berkelana sedalam ini. Ibunya telah membawanya masuk ke wilayah kediaman penghuni istana yang tidak bisa sembarangan disinggahi tamu. Mereka sungguh telah berbesan dengan keluarga kerajaan.
“Jangan mengatakan apapun.”
“Ya?” Triana terjaga dari lamunannya saat mendengar bisikan dari sang ibu dan menyadari bahwa mereka telah tiba di depan sebuah pintu dengan seorang penjaga berdiri di luarnya.
“Pastikan tidak ada yang masuk ke dalam kamar ini selain Duke Stefanus.” Ucap Catherine pada pria bertubuh tinggi itu.
“Baik, Duchess.” Jawab pria itu seraya membukakan pintu.
Melangkah masuk ke dalam kamar, Triana memperlambat langkahnya ketika sang ibu melangkah cepat meninggalkannya untuk menghampiri sebuah lemari besar dan membukanya. Barisan gaun pesta mewah tergantung di sana.
“Aku akan meminta pelayan wanita datang untuk membantumu berpakaian. Setelahnya, turunlah lagi ke bawah dan bergabunglah dengan Esteline.” Ucap Catherine seraya menarik sebuah gaun biru keluar dari lemari.
“Ibu…” Triana melangkah mendekatinya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Ada banyak hal yang ingin aku katakan dan tanyakan.”
“Triana.” Catherine membalik tubuhnya untuk menghadap Triana. Tidak ada senyuman di wajahnya. Tidak ada tatapan lembut penuh cinta yang selalu Triana dapatkan dari sepasang kristal biru tersebut. Di tatapan itu hanya ada sebongkah salju dingin.
“Kita akan membicarakannya nanti. Tidak hanya kau yang memiliki pertanyaan, namun kami juga. Tapi kau harus tahu bahwa sekarang pesta pernikahan kakakmu sedang berlangsung. Karena itu, jadilah anak baik dan penurut.”
Rahang Triana mengeras. Ia menurunkan pandangannya, menahan air mata yang hampir menggenangi kedua matanya yang menghangat.
“Sayang,” Tangan sang ibu menyentuh pipi Triana, membuatnya kembali mengangkat pandangannya. Catherine tersenyum tipis dan tatap matanya melemah. “Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Ibu dan ayah berjanji akan membicarakan ini denganmu nanti. Jadi, aku harap kau bersabar sedikit. Tolong bantu kami dengan tidak mengatakan apa pun pada siapa pun, dan ikuti acara dengan tenang, hm?”
“A-aku mengerti,” Triana mengangguk.
“Putri kecil manisku.” Catherine tersenyum seraya mengusap pipi Triana. “Aku harus segera turun. Sebentar lagi pelayan akan datang membantumu. Setelah selesai, tempatkan dirimu di bagian keluarga besar kerajaan. Katakan bahwa kau sedang sakit beberapa hari ini jika ada yang bertanya. Mengerti?”
Triana mengangguk kecil, lalu ibunya kembali melempar senyum hangat dan singkat sebelum melangkah pergi keluar dari kamar.
Mengeratkan rahangnya, tatapan Triana masih terpaku pada pintu yang baru saja tertutup. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat ayah dan ibunya sedingin itu padanya. Tidak hanya bahasa tubuh mereka, tatapan mereka padanya juga membuatnya merasa seperti orang asing tanpa gelar yang bertamu di kediaman mereka.
Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kesalahannya?
***
Triana.
Meski dilakukan dengan singkat, membersihkan tubuh ala bangsawan di istana kerajaan sangatlah berbeda dari bantuan pelayan penginapan pinggiran kota. Triana bagaikan seekor kenari yang mendapatkan bulu-bulunya kembali.
Diantar oleh seorang pelayan wanita istana yang tadi ikut membantunya mandi dan mendandaninya, Triana sampai di aula istana yang sempat ia singgahi tadi. Alunan musik terdengar merdu dan lambat. Kelihatannya sebuah pesta dansa akan dimulai.
“Triana!”
“Esteline,” Gumam Triana seraya melangkah pada kakak pertamanya yang baru saja melambaikan tangannya sekali.
“Oh, Triana. Ke mana saja kau selama ini?” Bisik Esteline seraya memegang kedua lengan Triana.
Menahan air matanya, Triana menjawab dengan bisikan, “Aku mendapat sedikit masalah. Ceritanya terlalu panjang untuk dikatakan sekarang. Tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu, Esteline: Apa yang ayah dan ibu katakan padamu tentang diriku yang tidak pulang beberapa hari ini?”
“Mereka berkata kau sedang sakit dan diisolasi di villa Boscof. Namun sejujurnya, aku meragukan hal itu. Sejak kapan keluarga kita memiliki budaya mengisolasikan seseorang di luar kastil saat sakit? Dan juga, ibu dan ayah mengatakan pada orang-orang bahwa kau berada di kamarmu di kastil Galev.” Jelas Esteline.
Triana mengatupkan kedua bibirnya. Bahkan orangtuanya berbohong kepada Esteline. Mereka benar-benar tidak mencarinya.
“Apakah pernikahan Ruby mengejutkanmu?”
“Ya?” Fokus Triana kembali pada Esteline. Ia mengangguk sekali. “Aku baru mengetahuinya setelah kembali ke sini … setelah aku sembuh.”
“Ini mengejutkan sekali, ‘kan? Aku tidak tahu ternyata selama ini Ruby menjalin hubungan diam-diam dengan putra mahkota. Sekarang, ayah dan ibu memiliki anak kesayangan baru. Aku merasa seperti anak pungut selama beberapa hari ini.”
“Aku turut prihatin mendengarnya-“
Ting! Ting!
Suara gelas yang didentingkan dengan sendok perak membuat semua orang menoleh ke tengah-tengah aula, di mana Catherine tengah berdiri di samping seorang kepala pelayan pria.
“Terima kasih, Marvin.” Ucap Catherine pada sang kepala pelayan yang kemudian melangkah mundur bersama gelas jenjangnya.
“Pengantin kita, Pangeran Marvelous dan Putri Ruby telah tiba untuk membuka pesta dansa malam ini.” Ucap Catherine.
Musik mengalun lebih keras. Semua mata tertuju pada tangga mengah yang terhubung pada balkon singgahsana. Dari sana, sepasang pengantin dengan pakaian serba putih melangkah turun dan segera dihujani oleh tepuk tangan dan pujian dari para tamu.
Pasangan pengantin itu berhenti di tengah-tengah aula yang sudah dikosongkan. Musik berhenti sejenak sebelum mengulang sebuah alunan lagu. Dengan tangan saling mengait, Pangeran Marvelous dan Putri Ruby mulai berdansa.
“Oh, selamat, Ruby!” Ucap Triana dengan gerakan mulut yang lebih jelas karena ia nyaris tidak mengeluarkan suara ketika pandangannya bertemu dengan milik sang kakak. Lalu ia mendapatkan ucapan terima kasih dengan cara yang sama.
“Ini masih sukar dipercaya. Ruby begitu beruntung,” Gumam Triana.
“Kita mungkin akan seberuntung itu juga.” Esteline mengusap lengan Triana sambil tersenyum lebar. “Pangeranmu belum kunjung kembali. Mungkin kau bisa berdansa dengan beberapa pria yang menarik matamu.”
“Esteline,” Keluh Triana.
“Tetaplah pada pendirianmu, tapi malam ini, aku akan mencobai keberuntunganku.” Ucap Esteline, saudari ternakal Triana, sebelum melangkah pergi.
Tidak Triana sadari, ternyata Esteline telah saling mencuri pandang dengan seorang pria berambut caramel terang di sebarang. Hanya memerlukan beberapa langkah, gadis dengan senyum lebar itu telah meletakkan tangannya di dalam genggaman pria itu, lalu kaki mereka berpasangan melangkah masuk ke dalam lantai dansa.
Satu per satu, pasangan-pasangan mulai berdansa. Itu sangat indah, namun Triana tidak dapat menikmatinya karena ia sibuk mencari keberadaan orangtuanya di keramaian itu.
Triana tahu, mereka berdua pasti sedang berkeliling untuk menyapa tamu-tamu penting. Namun ia tidak bisa menunggu hingga mereka selesai. Itu mungkin memakan waktu hingga lewat dari tengah malam. Jika ia terlambat, maka…
“Bolehkah aku berdansa?”
Terpenjat, Triana menolehkan pandangannya ke depan, pada sumber suara itu. Dagunya terangkat dan matanya melebar ketika bertemu dengan sepasang mata coklat keemasan yang menatapnya lekat, seakan sedang berusaha mencuri jiwanya.
“Vla-“
“Hm?” Pria itu mengangkat kedua alis panjangnya dan memiringkan kepala.
“Oh, a-aku…” Triana tidak tahu apa yang harus ia katakan. Lalu ia melirik ke sekeliling untuk memeriksa apakah ada yang memperhatikan mereka.
“Triana, aku baru saja mengganti pakaianku. Aku harap aku masih pantas untuk berdansa denganmu di tengah-tengah sana,” Ucap Vlador sambil tersenyum hangat dan menjulurkan tangannya.
Menatap telapak tangan yang terbuka di hadapannya, Triana hanya bisa mengerjap. Lalu sebuah deheman ringan menyadarkannya lagi.
“Apakah aku harus menarik tanganku kembali? Aku pikir ini adalah pesta dansa campuran,” Tanya Vlador tanpa meredupkan senyumannya. Namun tatapannya mengatakan dengan jelas bahwa ia sedang mengancam Triana untuk meletakkan tangannya di sana.
Meneguk liur, Triana sekali lagi menoleh ke sekeliling. Tidak ada yang memberikan perhatian curiga pada mereka. Vlador memang terlihat seperti pria bangsawan biasa saat ini, dan Triana tahu pria itu bukan sekedar ingin berdansa dengannya. Apa yang ia rencanakan?
Senyum Vlador melebar dan tatapannya melunak saat Triana memberikan tangannya. Kemudian, kelima jemari hangat pria itu menguncup, mengunci tangan tidak berdaya Triana di dalamnya, sebelum menariknya ke tengah lantai dansa.
Trimakasih masih ngikutin cerita ini... Sehat selalu..💜💜🙏🙏
![]() |
| Akrilik Pembatas Rak >>> |
![]() |
| Pembersih Debu >>> |


Komentar
Posting Komentar