Vlador.
Pintu itu terbuka, menampakkan isinya yang tidak berbeda dari kamar mewah gadis bangsawan kebanyakan.
“Lady Catherine berkata untuk tidak keluar dari kamar ini. Kami akan terus berjaga di depan pintu." Ucap salah satu dari dua penjaga pria yang ditugaskan untuk mengawal mereka.
“Aku tahu.” Jawab Triana, nyaris terdengar seperti bisikan.
Melangkah masuk ke dalam kamar itu, Vlador menghampiri jendela terbesar yang mengarah ke Hutan Winder, hutan yang berbatasan dengan wilayah istana Galvadea. Lalu ia mengampiri jendela lainnya dan tertawa kecil. “Mereka bahkan memiliki waktu untuk memaku semua jendelanya sebelum kita sampai.”
Seperti yang Stevanus katakan, mereka diantar menuju villa Terax dengan kereta kuda secara diam-diam melalui pintu belakang istana. Melihat salah satu villa mewah milik keluarga Galev, Vlador dapat menyimpulkan betapa terpandangnya Duke Stevanus.
Meninggalkan jendela, ia melangkah menuju lemari laci putih yang memiliki ukiran-ukiran burung dan bunga dan menjadi tempat bagi deretan boneka porcelain berukuran kecil. Lalu ia menoleh pada interior lainnya yang juga menampung berbagai benda mewah remaja perempuan.
Sebuah senyum miring terbentuk di wajah Vlador. “Kau dibesarkan dengan nyaman.”
Namun, berbeda dari biasanya, ia tidak mendapat jawaban, sehingga ia menoleh untuk menemukan Triana tengah duduk di pinggir ranjang dengan kepala tertunduk.
“Kelihatannya sikap mereka sangat mengejutkanmu.” Ucap Vlador, melangkah menghampiri gadis itu dan berdiri di hadapannya.
“Mereka bahkan membiarkanku berada di sini bersamamu,” Gumam Triana.
Mengerutkan keningnya, Vlador tetap diam dan menyadari rintik air jatuh membasahi pangkuan Triana.
“…bersama seorang vampir pemakan manusia. Vampir yang telah membunuh Grivin dan yang lain. Mereka bahkan takut padamu namun…” Triana menarik napas singkat hingga nyaris tersedak. “…namun mereka membiarkanmu menawanku dan bahkan mengurungku di sini bersamamu. Mereka tidak bertanya apakah selama ini kau menyakitiku atau tidak.”
Menghela panjang, Vlador melipat lengan di depan dada. “Aku pikir kau akan terus menutup mata hingga akhir hayatmu.”
Triana mengangkat wajahnya dan menatap Vlador dengan air mata yang terus mengalir. “Aku adalah putri kesayangan mereka. Bukankah seharusnya mereka memiliki alasan?”
“Aku yakin kau mengetahui alasannya.” Vlador mengangkat satu alisnya.
Kembali menjatuhkan pandangannya, Triana berusaha mengusap air matanya dan mengangguk. “Sejujurnya… mengetahuinya terasa lebih menyakitkan dibandingkan menjadi orang bodoh.”
“Perlakuan orang lain terhadapmu tidak pantas membuatmu memilih untuk menjadi bodoh.” Ucap Vlador, lalu terkekeh singkat. “Meski itu sejak awal adalah sebuah kebodohan jika kau peduli pada sikap orang lain padamu.”
“Mereka adalah keluargaku.” Ucap Triana tegas.
Vlador membungkukkan punggungnya, lalu mendekatkan wajahnya dengan milik Triana, dan berbisik sambil tersenyum, “Percayalah hanya pada dirimu sendiri, maka air mata itu tidak akan menetes.”
Tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu kamar, membuat Vlador menegakkan punggungnya kembali sebelum pintu itu terbuka. Stevanus melangkah masuk, dan tatapannya langsung menembak Vlador yang tengah berdiri di samping putrinya.
Dari pintu yang sama, istrinya, Catherine, melangkah masuk bersama seorang wanita tua yang rambut putihnya disanggul rapih. Dengan banyaknya garis usia di wajahnya, ia masih memiliki tubuh yang nampak kuat meski tulang punggungnya sedikit membungkuk.
“Kami membawanya. Nyonya Igredris. Ia adalah asisten seorang alkemis terkenal dan mengetahui banyak hal tentang penyihir. Ia menulis buku tentang semua penemuannya.” Ucap Stevanus seraya melangkah ke tengah-tengah ruangan untuk menarik sebuah kursi. “Tanpanya, ayah dan kakekku sukar memenangkan peperangan melawan vampir.”
“Silahkan duduk, Nyonya Igredris,” Catherine mengarahkan wanita tua itu untuk duduk di kursi yang baru saja disediakan suaminya.
“Apa pertolongan yang kau inginkan, Duke Stevanus?” Tanya Igredris.
“Ini tentang penyihir. Aku membutuhkanmu untuk-“
Kalimat Stevanus terhenti ketika Vlador melangkah mendekati wanita tua itu. “Selamat malam, Nyonya Igredris. Namaku Vlad. Aku dikutuk oleh seorang penyihir menggunakan kutukan darah. Aku harus mencari penyihir yang menciptakan kutukannya: si Darah Biru Berambut Putih.”
“Senang bertemu denganmu, Tuan Vlad.” Balas Igredris, lalu melanjutkan, “Aku dapat melihat kau sangat terburu-buru. Kutukan darah tidak pernah lagi terdengar sejak seratus lima puluh tahun yang lalu. Itu adalah kutukan berat milik penyihir es yang digunakan pada lawan yang terlalu kuat, mengikat mereka pada seseorang yang sangat lemah. Kau pasti sangat kesulitan.”
“Penyihir itu menaruh dendam pada keluargaku. Namun ia adalah penyihir tanah, dan sudah mati sekarang.” Jelas Vlador.
“Penyihir tanah yang menggunakan sihir penyihir es? Sangat menarik.” Gumam Igredris, lalu melanjutkan, “Kutukan darah adalah milik penyihir Elix, klan penyihir es berdarah murni dengan garis keturunan tak bercela dari nenek moyang mereka yang memisahkan diri sejak jaman purba. Mereka dikenal dengan rambut mereka yang berwarna putih. Elix adalah satu-satunya klan penyhir yang tidak bermusuhan dengan para vampir. Bahkan, leluhur mereka memiliki hubungan baik dengan klan Verdonix.”
Mata Vlador membesar sejenak. Klan Verdonix? Ia tidak tahu mereka memiliki hubungan dengan penyihir.
“Apa kau tahu di mana penyihir Elix berada, Nyonya Igredris?” Tanya Triana.
“Mereka berasal dan menetap di Verxic. Namun tidak ada yang tahu pasti di mana tepatnya.”
“Verxic? Maksudmu kota yang terus bersalju itu?” Tanya Triana.
“Verxic adalah padang es luas. Dan kota yang kau maksud adalah satu-satunya tempat yang ditinggali manusia dan merupakan bagian kecil dari Verxic.” Jelas Igredris.
“Oh, tidak…” Triana menutup mulutnya dengan tangan.
Vlador menyentuh pundak Triana dan menatapnya datar sejenak hingga membuat gadis itu meneguk liur dan menarik napas panjang.
“Aku tidak percaya temanku harus mengalami hal ini. Apa kau memiliki saran agar ia bisa melepaskan kutukan itu?” Tanya Triana.
“Oh, jadi kalian berteman?” Igredris mengangguk-angguk. “Sayangnya aku tidak memiliki jawaban untuk itu, Lady Triana. Satu-satunya cara menghapus sebuah kutukan adalah dengan ritual yang dilakukan sendiri oleh penyihir pembuat kutukan itu atau dengan syarat yang penyihir tersebut tetapkan.”
“Aku tidak mengetahui syarat itu.” Ucap Vlador.
“Begitu juga dengan diriku. Seumur hidupku, aku hanya mendengar sedikit tentang penyihir Elix dan sihir-sihir mereka. Penyihir tanah yang mengutukmu mungkin telah pergi sangat jauh dan mencuri sesuatu milik mereka dengan taruhan nyawanya sendiri, Tuan Vlad. Aku takut kau harus pergi mencari penyihir Elix untuk mencabut kutukan itu.” Tutur Igredris.
“Lalu apa kau tahu apa yang dimaksud dengan Upacara Langit Hitam?” Tanya Vlador.
“Upacara Langit Hitam?” Igredris mengerutkan kening. “Aku tidak pernah mendengarnya.”
Vlador mengangguk sekali. “Aku mengerti. Terima kasih sudah membagi pengetahuanmu yang berharga untukku. Aku sangat menghargainya.”
“Itu tidak masalah, Tuan Vlador. Namun bolehkah aku tahu, bersama siapa kau dikutuk dengan kutukan darah?” Tanya Igredris.
Vlador terdiam sejenak, lalu menjawab, “Seorang gadis lemah yang dikelilingi oleh orang-orang egois.”
Kalimat Vlador membuat Triana dan kedua orangtuanya saling melirik. Namun Vlador tidak mempedulikan mereka, dan tetap berbicara dengan sopan pada Igredris.
“Aku harap kau bisa beristirahat dengan baik. Aku akan membalas jasamu di lain waktu.” Vlador tersenyum.
“Itu tidak perlu. Semoga kau berhasil mencabut kutukannya.” Jawab Igredris.
Kemudian Stevanus memerintahkan pejaga untuk membawanya kembali ke kediaman tamu Kastil Galev.
Begitu pintu tertutup, Triana melompat bangkit dari pinggir ranjang. Meski jejak air mata masih nampak pada pipinya, sebuah senyum lebar menghiasi bibir merahnya.
“Akhirnya kita mengetahui siapa penyihir itu. Aku tidak tahu di mana tepatnya letak Verxic, tapi setahuku kita bisa menjangkaunya dengan kapal.” Ucap Triana. Lalu ia menghampiri kedua orangtuanya. “Ayah, ibu, kita hanya perlu menemukan penyihir Elix. Dengan begitu, kutukannya bisa diangkat. Kedengarannya mereka juga tidak jahat seperti penyihir yang lain.”
Namun senyum pada wajah Triana perlahan memudar saat ia menyadari tidak ada sedikit pun guratan bahagia pada wajah kedua orangtuanya.
“Ayah, ibu, ada apa?” Tanya Triana.
“Ruby baru saja menikah dan ayah akan mendapat jabatan penting dalam politik kerajaan karena sekarang ia adalah besan raja. Jika ada satu orang pun mengetahui tentang masalah ini, semuanya akan kacau.” Ucap Catherine.
Memperhatikan Triana yang berdiri mematung dari belakang, Vlador hanya bisa terkekeh kecil. Kenaifan telah membungkus kepala gadis itu dan membutakan matanya. Apakah kali ini Triana berani melangkah keluar dari jeruji penyangkalannya?
“Tapi… bukankah kutukan ini harus dihapus? Apa kalian akan membiarkanku terus terkutuk seperti ini?” Tanya Triana dengan air mata kembali mengalir.
“Kau bercanda?” Tanya Vlador, melangkah ke belakang punggung Triana dengan tangan terlipat di depan dada. “Jika kutukan ini tidak terangkat, aku akan menghancurkan kerajaan ini.”
Mendapat tatapan geram dari Stevanus, Vlador menatapnya balik dengan satu alis terangkat. “Aku akan melakukan segala cara untuk menghancurkanmu jika kau berani menghalangiku, duke sialan.”
Menarik napas panjang dan menghelanya kasar, Stevanus mengalihkan pandangannya pada Triana. Ia menatap putri bungsunya itu dengan tegas. “Aku tidak akan menghalangi kalian untuk pergi mencari penyihir itu. Namun kami tidak bisa mendampingimu atau mengutus pengawal untukmu, Triana. Perjalananmu dan kutukanmu tidak boleh terdengar oleh siapa pun.”
Trimakasih buat waktu & supportnya, teman2! π₯°ππ


Komentar
Posting Komentar