Triana.
Mata Triana membesar, namun tidak ada lagi air mata yang keluar dari sana.
“Sayang, kami harap kau mengerti mengapa kami terpaksa mengambil keputusan ini, hm?” Tanya Catherine, menatap Triana sendu.
Masih memandang kosong ke bawah, Triana menarik napas dalam dan menghelanya panjang. Lalu ia mengangguk sekali. “Ya, aku … mengerti.”
“Kami akan membekalimu dengan kereta kuda, makanan, dan uang yang cukup untuk perjalananmu pulang pergi Verxic. Kami yakin kau bisa berjuang untuk dirimu sendiri, Triana. Kau adalah wanita dewasa sekarang. Kau harus hidup mandiri." Ucap Stevanus, membuat Triana mengangkat pandangannya.
Sebuah senyum tipis terbentuk di bibir pucat Triana. “Aku mengerti.” Ucapnya lagi seraya menahan rasa sakit di tenggorokannya.
“Aku rasa drama keluarga ini sudah cukup.” Vlador bersuara, melangkah maju untuk berdiri di depan Triana, menghadap Stevanus dan Catherine. “Aku menginginkan sebuah perjanjian.”
“Perjanjian apa lagi yang kau inginkan, Tuan Vlador?” Tanya Stevanus, menahan geram.
“Jika kutukannya terhapus atau bahkan tidak sama sekali, aku ingin kalian tidak membuka mulut tentang keberadaanku. Dan aku ingin kalian menyerahkan putri kalian sepenuhnya padaku-“
“Menyerahkan putri kami padamu? Kenapa?” Potong Catherine.
Dari belakang Vlador, Triana melangkah untuk berdiri di samping pria itu dan menatapnya dengan mata membulat. “Tuan Vlador, apa maksudmu?”
“Alasanku dan maksudku tidak perlu kalian ketahui. Yang perlu kalian pertimbangkan adalah apa yang akan terjadi jika kalian menolaknya.” Ucap Vlador dengan dagu sedikit terangkat. Lalu ia melanjutkan, “Aku akan memanggil prajurit vampir yang tertidur dan tersebar di seluruh dataran barat ke tempat indah ini, dan nama pertama yang akan aku serukan adalah Duke Stevanus Galev.”
“Kau-“ Stevanus menatap Vlador tajam. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal.
Senyum Vlador mengembang. Ia melangkah mendekati pria itu dan mendekatkan wajah mereka sementara matanya berubah merah. “Kau hanya perlu menyerahkan putri bungsumu padaku, maka kehidupan kalian akan tenang sebagai besan raja.”
“Vlador!” Seru Triana, menarik lengan pria itu dengan sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan kekokohan tubuh seorang vampir sepertinya. “Kenapa kau melakukan ini?”
“Kau mendengarku, Duke. Apa pilihanmu?” Vlador tidak menggubris Triana, masih tersenyum lebar pada pria di hadapannya.
“Itu… itu sama saja dengan membiarkan Triana mati di tanganmu!” Ucap Catherine dengan suara bergetar.
“Ibu…” Triana menatap Catherine dengan mata kembali berair. Itu benar. Ia adalah manusia yang diserahkan pada seorang vampir. Jika kutukannya terlepas, bahkan orang bodoh tahu ia akan menjadi makanan vampir itu.
“Mati.” Ulang Vlador, terkekeh pelan. “Sebuah kata yang memiliki banyak makna. Ketika jiwa seseorang pergi dari raganya, ia dikatakan mati. Namun bagaimana jika jiwa itu mati di dalam raga yang masih hidup?”
Kalimat Vlador membungkam Stevanus dan Catherine. Senyumnya semakin lebar sementara ia menatap pasangan itu secara bergantian.
Di samping Vlador, Triana mematung. Tangannya kehilangan kekuatan hingga merosot jatuh dari lengan pria itu. Tekanan terasa semakin berat meremas jantungnya ketika ia menyaksikan kedua orangtuanya hanya diam.
“Bagaimana, Duke dan Duchess? Apa pilihan kalian?” Tanya Vlador lagi.
Menggigit giginya sendiri, Stevanus akhirnya membuka mulut setelah beberapa detik berpikir. “Baiklah. Aku menyerahkan putri bungsuku padamu. Namun bersumpahlah untuk tidak mengganggu kami dan jangan kembali ke Galvadea.”
Terkekeh sekali, Vlador mengangkat satu alisnya dan menyambar lengan atas Triana yang masih berdiri mematung. “Kita pergi sekarang.”
Kaki lemas Triana melangkah mengikuti tarikan tangan Vlador, sesosok vampir yang telah membeli dirinya dengan sebuah ancaman. Triana tidak bisa menoleh ke belakang. Tidak. Bahkan jika ia bisa pun, ia tidak mau. Ia tidak mau menoleh kepada orangtua yang telah menjualnya dengan begitu mudah.
Air mata Triana sudah lama mengering. Pikirannya terus kosong hingga ketika tersadar, ia mendapati dirinya berada di luar villa dengan sebuah kereta kuda hitam kecil tanpa kusir berada di hadapannya.
“Masuk.”
Triana menoleh ke samping, pada seorang pria berambut hitam dan bermata keemasan yang tengah membukakan pintu kereta untuknya. Kemudian ia menoleh ke sekeliling.
“Siapa yang kau cari?” Tanya Vlador.
Triana hanya diam, mengembalikan pandangannya ke depan dan memakunya pada roda kereta.
“Tidak ada yang mengantarmu selain penjaga di samping gerbang itu. Kau mungkin tidak melihatnya, namun orangtuamu telah pergi menggunakan kereta kuda lain saat kita sedang mengarah ke pintu belakang.” Jelas Vlador.
Meneguk liurnya, Triana menarik napas dalam dan singkat. Ia bertanya pelan, “Apa aku boleh duduk di depan bersamamu?”
Valdor terdiam sejenak, lalu mengangguk seraya menutup pintu kereta kembali. “Cepat naik.”
Sepasang kuda menarik kereta kecil mereka keluar dari gerbang belakang villa Terax. Angin dingin dan lembab membuat Triana sedikit menggigil meski ia telah mengenakan gaun tebal.
Hari sudah sangat larut. Seperti yang Vlador minta, mereka berhasil mendapatkan informasi mengenai Penyihir Berambut Putih tepat sebelum tengah malam. Kereta mereka melaju melewati pinggiran kota, di mana banyak hiasan-hiasan cantik yang warga pasang untuk merayakan pernikahan calon raja mereka.
“Jalanan begitu sepi.” Ucap Vlador.
“Semua orang berada di istana dan sekitarnya. Hanya kita yang menjauh dari sana.” Tutur Triana, masih memandang kosong ke depan.
“Kereta ini kecil. Kau tidur di dalamnya malam ini karena kita terpaksa beristirahat di tengah hutan agar bisa sampai di Kota Harbour lebih cepat. Aku akan berjaga di luar.” Ucap Vlador seraya menghentakkan tali kendali kuda hingga laju kereta mereka semakin cepat, masuk ke dalam hutan gelap.
Triana tidak pernah duduk di kursi kusir. Ia selalu duduk manis di dalam kereta untuk menjaga tatanan rambutnya tetap rapih dan memastikan tubuhnya tetap hangat. Namun pilihannya untuk duduk di luar tidak ia sesali karena kulitnya yang membeku memberinya kemampuan untuk mengabaikan rasa sakit di hatinya.
“Kenapa kau melakukan itu?” Tanya Triana tanpa mengubah titik tatapannya.
Vlador melirik Triana. “Banyak hal yang telah aku lakukan. Bertanyalah lebih jelas.”
“Kenapa kau memintaku dari orangtuaku? Aku yakin kau bukannya menginginkanku.”
“Aku dapat melihat kau semakin frontal sekarang.” Sebuah senyum tipis terbentuk di bibir Vlador. “Yang aku inginkan adalah agar kau tidak membebani perjalanan ini dengan kerinduanmu pada rumah dan keinginanmu untuk terus pulang.”
Kalimat Vlador akhirnya membuat Triana menatapnya dengan kening mengkerut. “Kau rela mendatangkan pasukan vampir ke Galvadea hanya untuk itu?”
“Pftt!” Tawa Vlador. “Kau pikir aku sebodoh itu? Aku hanya memberi ancaman palsu pada kedua orangtuamu untuk membuktikan bahwa selama ini mereka hanya memanfaatkanmu.”
Jawaban Vlador membuat Triana mematung. Vlador memang adalah pria yang tidak memiliki simpati. Dengan ringannya, ia melakukan hal itu demi membuktikan bahwa opininya benar. Dan dengan mudahnya, ia menjelaskan alasannya pada Triana yang jelas-jelas baru saja dibuang oleh kedua orangtuanya berkat pria itu sendiri.
Namun, pada akhirnya, apa yang telah Vlador lakukan dan katakan adalah pembenaran atas semua prasangka yang Triana selalu sangkal tentang kedua orangtuanya.
“Berhenti.”
“Apa?” Kening Vlador mengkerut.
Triana menoleh ke samping, pada deretan pohon yang menghalangi pemandangan langit gelap. “Aku mohon hentikan keretanya. Aku ingin turun!”
Tanpa bertanya lagi, Vlador melakukan apa yang Triana pinta. Ia menarik kendali kuda hingga kereta berhenti di pinggir jalan gelap yang membelah hutan.
Melompat dari kereta itu, Triana nyaris terjatuh di atas kedua lututnya. Namun rasa sesak di dadanya membuat ia mampu kembali berdiri dan berlari secepat mungkin di atas dedaunan kering dan melewati pohon-pohon, seakan angin dingin yang menerpanya mampu menembus masuk ke dalam pori-porinya untuk memberinya lebih banyak oksigen.
Kaki Triana terus berderap, membawanya semakin jauh dari kereta hingga ia keluar dari deretan pohon. Langit luas tanpa bintang menyapanya. Cahaya bulan yang enggan menampakkan diri seakan mengejek kisah hidupnya.
Di depannya adalah pinggir tebing curam. Triana melangkah goyah menghampirinya meski ia takut ketinggian dan biasanya, ia tidak pernah diijinkan mendekati tempat yang terlalu berbahaya seperti itu.
Angin membawa aroma hujan berhembus keras menerpa tubuh menggigil Triana. Langkahnya berhenti tepat di pinggir jurang. Ia menatap ke bawah, di mana terdapat pemandangan cantik yang mencabik hatinya.
Sebuah istana megah berdiri di bawah sana. Titik-titik cahaya kuning membuat istana tersebut bersinar di tengah kegelapan. Cahaya dari kereta kuda dan orang-orang yang membawa lampion membuat bintang-bintang di langit kehilangan gemerlap mereka.
Triana terjatuh duduk. Di saat yang sama, rintik hujan turun dan menderas. Dari matanya yang terus menatap kehangatan istana yang masih menyelenggarakan pesta pernikahan itu, air mata turun melebur bersama dinginnya air hujan.
Orangtuanya berada di sana. Mereka bersenang-senang ketika putri yang dahulu paling mereka cinta telah dibawa pergi oleh sosok yang mereka ketahui sebagai monster. Mereka masih bisa menjamu tamu di saat mereka mengetahui bahwa mereka mungkin tidak akan bertemu putri mereka lagi.
“Kenapa?” Lirih Triana dengan suara bergetar dan gigi bergemelatuk.
Namun ia menyadari hujan tidak lagi menghantam tubuhnya. Ia menoleh ke atas dan mendapati sebuah sayap hitam raksasa membentang di atas kepalanya.
“Tuan… Vlador?” Gumam Triana, menatap samar pria yang sedang berdiri di sampingnya. Kemudian tatapannya menggelap dan ia tidak dapat merasakan apa pun lagi.
Trimakasih sudah membaca, guys! ๐ฅฐ๐๐


Komentar
Posting Komentar