Triana.
Suara petir memanggil kesadaran Triana ke permukaan. Samar namun pasti, ia mulai mendengar suara hujan deras yang mengelilingi kepalanya, dan menyadari rasa sesak hebat di dalam dadanya.
Mengerutkan kening, Triana berusaha membuka mata namun tubuhnya seakan lumpuh. Di tengah suara hujan dan gemuruh petir, ia juga mendengar suara detak jantungnya sendiri yang begitu lambat. Meski begitu, ia merasakan kehangatan di sekeliling tubuhnya.
“Itik…”
“Itik! Apa kau sudah sadar?”
“Hei… bangunlah!”
Panggilan-panggilan itu menarik kesadaran Triana untuk bangkit. Keningnya kembali mengkerut ketika ia merasakan tepukan-tepukan hangat di pipinya. Perlahan, ia mampu membuka matanya untuk mendapati wajah seorang pria berada tepat di depan kedua matanya. Itu adalah Vlador.
“Kau sudah sadar? Berusahalah untuk bangun atau kita akan mati!” Ucap Vlador seraya terus menepuk pipi Triana.
Mengerang lemah, Triana berusaha membuka matanya lebih lebar hingga pandangan buramnya menjernih. Dari mulutnya yang kering, ia berusaha mengeluarkan suara, “Tuan…”
“Bagus. Kau sudah cukup sadar.” Ucap Vlador seraya mengangkat punggung Triana ke posisi duduk. “Hisap dan telan.”
Merasakan sesuatu yang hangat menempel pada mulutnya, Triana memundurkan kepalanya untuk mendapatkan pemandangan yang lebih jelas, dan menyadari bahwa benda itu adalah pergelangan tangan Vlador yang mengalirkan darah segar di sekitar jalur nadinya.
“Ti-tidak…”
“Tsk! Jangan banyak protes! Ini sudah waktunya kau meminum darahku. Apa kau tidak merasakan jantungmu melemah? Kau akan membunuh kita berdua jika tidak minum sekarang.” Omel Vlador. Lalu ia mencengkram rahang Triana dengan satu tangan. “Buku mulutmu, dan minum!”
Tidak dapat melawan paksaan Vlador dalam kondisi tubunya yang lemah dan kesadaran yang belum sempurna, Triana membuka mulutnya. Tanpa basa-basi, Vlador langsung menyodorkan pergelangan tangannya yang berdarah ke mulut Triana.
Cairan kental dan hangat seketika membanjiri mulut Triana. Aroma aneh seperti logam dan tanah basah memenuhi indra penciumannya. Kening Triana mengkerut keras dan tenggorokannya menggetarkan erangan.
Itu adalah darah. Vlador sedang menyekoki Triana dengan darahnya yang terus mengalir. Pandangan Triana kembali buram dan kepalanya terasa berputar. Namun yang aneh, lidahnya merasakan sensasi janggal.
Seharusnya darah Vlador membuatnya mual dan ingin muntah, namun tanpa sadar, Triana telah mencengkram lengan keras Vlador sementara lidahnya bergerak menurunkan cairan hangat itu melewati kerongkongannya, dan mulutnya terus menarik cairan tersebut keluar dari luka pada pergelangan tangan vampir itu.
Triana tidak pernah merasa selapar dan sehaus itu. Dan ia yakin itu bukanlah rasa lapar dan haus biasa karena membuat seluruh organ dalamnya terasa mengering dan menciut. Namun darah yang ia teguk membuat semuanya kembali seperti semula, kepada fungsi normal mereka masing-masing.
Kesadaran Triana kembali penuh. Jantungnya sudah berdetak normal dan seluruh indranya telah berfungsi kembali. Ia tidak pernah merasa sesehat sekarang.
Membuka matanya, Triana mendapati kedua mata Vlador tengah menatapnya dingin dalam jarak yang terlalu dekat. Ia segera melepaskan mulutnya dari pergelangan tangan pria itu.
“Maaf! Aku sungguh minta maaf!” Ucap Triana seraya memundurkan kepalanya hanya untuk membenturkannya pada bingkai jendela.
Lalu Triana menyadari bahwa ia tengah berada di dalam kereta kecilnya yang sangat menyesakkan karena terdapat tumpukan peti kayu dan beberapa benda lain. Namun yang membuatnya terkejut adalah keberadaan dirinya dan Vlador yang terlalu dekat.
Kini Triana tahu mengapa ia terus merasa hangat sementara sebelumnya ia tengah menggigil kedinginan karena tubuhnya basah kuyup diguyur hujan yang bahkan masih berlangsung hingga sekarang. Itu karena ia tengah berbaring di atas pangkuan Vlador dan di dalam lingkup lengannya.
“Fyuh…” Vlador menghela panjang seraya memegangi dadanya yang tidak terbalut busana sambil sedikit meringis. “Yang tadi itu sangat mengganggu.”
“A-apa yang kau lakukan?” Triana mendorong tubuh Vlador tanpa membuat pria itu bergerak karena tidak ada ruang tersisa, bahkan untuk dirinya sendiri. Mereka adalah dua orang yang terjepit di dalam kereta dengan kapasitas dua wanita berbobot normal.
Kening Vlador mengkerut. Ia menatap Triana dengan satu alis terangkat. “Kau masih mempertanyakannya setelah aku menyelamatkan nyawa kita berdua?”
Mengusap mulutnya yang kotor oleh sisa darah, Triana menatap tangannya yang gemetar dengan mata membesar, “Bagaimana mungkin aku…”
“Kau terlihat seperti vampir kelaparan tadi.” Ucap Vlador, memberi dengusan. “Tidak pernah melintas di benakku aku harus memberi makan seseorang dengan darahku sendiri.”
“Ke-kenapa kau tidak mengenakan baju?” Tanya Triana seraya melempar pandangannya ke samping untuk menghindari pemandangan yang membuat jantungnya berdebar keras dan pipinya memanas. “Aku tahu kita sedang berteduh dari hujan, namun memeluk seorang gadis dengan bertelanjang dada seperti itu sangat tidak pantas, Tuan Vlador.”
Kalimat Triana dibalas Vlador dengan kekehan. Lalu pria itu meraih rahang Triana dan mengarahkan dagunya ke bawah. “Sebelum mengomentariku, lihat dahulu bagaimana keadaanmu, Itik.”
“Apa maksudmu?” Triana menurunkan pandangannya lebih rendah dan mendapati sepasang gundukan di bawah lehernya yang hanya tertutup setengah oleh selimut.
Menarik selimutnya lebih tinggi, Triana menyadari bahwa kondisinya bahkan lebih parah dari Vlador karena tubuhnya hanya terbalut selimut tanpa busana.
“Tidak!” Jerit Triana tidak sampai satu detik karena tangan Vlador dengan sigap membungkam mulutnya.
“Diam.” Desis Vlador, masih menenggelamkan separuh wajah Triana dalam telapak tangannya. “Untuk apa kau berteriak?”
“Hmph!” Triana berusaha menjawab di dalam bungkaman itu.
“Pakaianmu basah kuyup. Kau akan mati kedinginan jika terus mengenakan pakaian seperti itu. Dan tebak siapa yang akan mati bersamamu?” Tanya Vlador sebelum melepaskan tangannya.
Meneguk liur, Triana berusaha mengendalikan napasnya. “Jadi kau… apa kau yang melepaskan pakaianku?”
“Apa kau melihat ada orang lain di sini?” Vlador bertanya balik.
“Oh, Tuhan…” Lirih Triana seraya terus memegangi selimutnya untuk menahannya di leher.
“Apa kau masih mengkhawatirkan pangeran pengecutmu itu? Ingatlah bahwa masa depan kalian telah berakhir.”
Triana meneguk liurnya lagi seraya berusaha mengatur napas. Lalu ia menggeleng kecil. “Ini bukan tentang Pangeran Lucius. Ini tentang…” ia berdehem pelan. “…tentang harga diriku sebagai wanita bangsawan.”
Terkekeh, Vlador menjawab, “Setelah semua yang kau alami, kau masih senaif ini? Untuk apa kau membuat drama dengan menangis bagai orang bodoh di tengah hujan tadi?”
Kalimat Vlador membuat Triana tertegun. Itu benar. Sebelum kehilangan kesadaran, ia sedang memperhatikan istana di tengah hujan. Kekejaman orangtuanya bukanlah mimpi buruk belaka. Ia benar telah dibuang. Orangtuanya telah menyerahkannya pada Vlador.
“Itik,” Vlador mengetuk dahi Triana dengan kuku panjang jari telunjuknya.
“Ya?” Triana mengangkat pandangannya. Lalu ia menyadari rasa hangat pada kedua matanya, dan segera mengusapnya. “Maafkan kalimat kurangajarku, Tuan Vlador. Seharusnya aku berterima kasih karena kau sudah menolongku.”
Tatapan Vlador yang membidik tepat pada kedua matanya membuat Triana meneguk liur dan menurunkan pandangannya lagi. “A-aku menjadi menyebalkan karena aku terlalu canggung atas kondisi kita saat ini.”
“Katakan padaku apa yang kau pahami tentang keadaanmu, dan tentang kedua orangtuamu.” Perintah Vlador tanpa melonggarkan tatapannya.
Triana mengangkat pandangannya hanya untuk menurunkannya kembali. Ia menarik napas panjang, lalu berbicara, “Kau benar bahwa mereka tidak sebaik yang aku pikirkan. Mungkin selama ini… mereka tidak pernah mencintaiku dengan tulus.”
Mengangguk sekali, Vlador akhirnya melonggarkan tatapanya. “Setelah ini, aku tidak ingin mendengar rengekanmu untuk pulang lagi. Mengerti?”
Menggigit bibir bawahnya, Triana mengangguk pelan meski rasa perih menyerang tenggorokan dan rongga hidungnya. “Aku mengerti.”
“Lalu…” Vlador menyeka pinggir mulut Triana dengan jari jempolnya. “…kau terlihat sudah sehat dan segar sekarang. Aku rasa ini adalah saatnya aku menagih janjimu.”
Membelalakkan matanya, Triana terbata, “A-apa? Ma-maksudku… apakah itu… harus sekarang?”
“Sebutkan alasan masuk akal jika itu tidak bisa dilakukan sekarang.” Vlador menatap Triana dengan mata sayu.
Triana terdiam. Jika harus diutarakan, ia akan mengatakan bahwa ia sangat takut dan malu. Namun Vlador tidak mungkin mau menerima kedua alasan itu.
“Bolehkah kau menutup matamu saat melakukannya?” Tanya Triana pelan.
“Apa alasanmu?”
“Aku… malu.” Jawab Triana seraya mengalihkan wajah panasnya ke samping dan mengeratkan selimutnya.
Terdiam beberapa saat, Vlador mengangguk. “Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku tidak melihatmu sebagai seorang wanita. Namun kau tetaplah perempuan, dan aku akan menghormatimu.”
Kemudian Vlador menyeka rambut panjang Triana dari pundak ringkihnya. “Beri aku ruang agar kau tidak merasa seperti aku sedang melecehkanmu.”
Kembali meneguk liurnya yang terasa seperti sebongkah batu, Triana memiringkan kepalanya. “A-aku akan mengatakannya jika aku sudah merasa akan mati.”
Tertawa kecil, Vlador menjawab seraya meletakkan wajahnya di leher Triana, “Kau tidak perlu melakukannya karena aku bisa merasakannya sendiri.”
Memejamkan matanya erat dan mencengkram selimut di dadanya agar tidak terjatuh, Triana merasaka napas panas berhempus di pundaknya, disusul oleh kulit lembut dan hangat Vlador yang menekan punggung tangannya.
Kemudian sepasang benda tajam menyapa pundaknya.
![]() |
| Set outfit >>> |
![]() |
| Serum Jerawat >>> |


Komentar
Posting Komentar