Langsung ke konten utama

38. Tenggelam Dalam Kesesakan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana.

Air dingin menyelumbungi tubuhnya. Ia tidak dapat bernapas. Tubuhnya tertarik ke bawah, menuju kegelapan yang perlahan membutakan matanya.

Cahaya dari atas air kian memudar, menandakan bahwa ia telah tenggelam semakin dalam. Apa yang Vlador lakukan? Bukankah nyawa mereka saling terhubung? Lantas mengapa vampir itu berusaha membunuhnya?

Meski tidak dapat merasakan tubuhnya lagi akibat air yang membekukan, Triana tersadar bahwa ia harus berusaha tetap hidup. Keadaan hidupnya memang membuatnya merasa ingin menghilang dari dunia ini, namun ia tidak tahu bahwa kematian ternyata lebih mengerikan ketika ia sudah berhadapan dengannya.

Menggerakkan kedua tangan dan kakinya, Triana berusaha berenang naik ke atas. Sayangnya, ia tidak memiliki sedikit pun kemampuan atau bahkan pengetahuan tentang berenang. Bukannya naik, tubuhnya malah tenggelam semakin dalam.

Gelembung udara menyembur keluar dari mulut Triana. Ia sudah tidak sanggup menahan napas. Ia tidak ingin mati. Ia harap seseorang akan menolongnya, namun siapa yang akan melakukan itu? Ia bahkan tidak tahu lagi siapa yang harus ia panggil, bahkan hanya di dalam hati. Ia tidak memiliki siapa pun.

Air mata Triana melebur bersama air sungai. Dalam kegelapan, ia tenggelam bersama ketakutannya. Ia harap ini semua hanyalah mimpi. Ia harap ia segera terbangun dan melanjutkan hidupnya meski ia harus merasakan sedikit kegetiran.

Tiba-tiba, sesuatu yang besar dan kuat menyambar tubuhnya. Arus air melewati tubuh Triana dengan cepat, menggerakkan rambut dan gaun tidurnya. Perlahan, ia membuka mata dan mendapati sisi wajah yang ia kenal.

Rahang tegas, manik emas yang duduk di samping batang hidung tinggi, dan rambut hitam yang berayun mengikuti gelombang air membuat Triana berpikir: Apakah itu benar wajah seseorang yang baru saja mencoba membunuhnya?

Mengikuti cahaya yang perlahan mengembalikan pengelihatannya, air yang sebelumnya sedang menelan Triana akhirnya memuntahkannya, mengijinkan kulitnya merasakan udara lagi.

Triana menarik napas dalam-dalam. Ia terbatuk-batuk saat tubuhnya berusaha membuka jalan udara menuju paru-parunya, membuatnya memuntahkan air dari mulut dan hidungnya. Sementara itu, tangannya berusaha berpegangan pada sesuatu yang membuatnya tetap mengapung di atas air.

“Tenanglah.”

Suara itu membuat Triana menoleh meski ia masih berusaha mengisi udara lebih banyak ke dalam paru-parunya. Sambil terbatuk, ia menatap sepasang mata yang sedang memperhatikannya.

“Kau…” Triana terengah. “Apa… yang kau lakukan?”

Daripada menjawab pertanyaannya, Vlador kembali memerintahkan Triana, “Jangan meronta. Kau sudah berpegangan padaku; kau tidak akan tenggelam.”

Kalimat Vlador menyadarkan Triana bahwa ia sedang menendang-nendang kedua kakinya di dalam air. Ia segera menghentikannya dan mengeratkan kedua tangannya pada leher Vlador.

Mengendalikan napasnya yang sudah mulai stabil, Triana terus menatap Vlador. Pria itu tidak mengatakan apa pun selain memperhatikannya seakan ia adalah sebuah lukisan paling rumit di galeri.

“Kenapa kau ingin membunuhku?” Tanya Triana.

“Kapan aku mengatakan ingin membunuhmu?” Balas Vlador.

Triana terdiam sejenak, lalu kembali bicara, “Lantas kenapa kau menjatuhkanku ke sungai?”

“Karena kau tidak bisa berenang.”

“Kau tahu aku tidak bisa berenang, namun kau menjatuhkanku ke sungai sedalam dan sedingin ini. Bukankah itu artinya kau sedang mencoba membunuhku?” Tanya Triana dengan suara meninggi. Di luar kehendaknya, satu tangannya bergerak memukul pundak Vlador.

“Jika aku ingin kau mati, aku tidak sedang memegangmu di sini sekarang.” Jawab Vlador dengan ketenangannya.

“Lalu kenapa-“ Triana menghentikan pertanyaannya. Lalu ia menyipitkan mata dan mengganti pertanyaan tersebut, “Apa kau… berpikir untuk mengajariku berenang?”

“Terlalu lama bagimu untuk menyadarinya, Itik.”

“Oh, Tuhan…” Triana nyaris merengek. “Kenapa kau harus melemparku dari langit? Kita bisa turun dari pinggir sungai. Lagipula airnya sangat dingin. Tidak bisakah kau menunggu hingga siang nanti?”

“Kita tidak memiliki waktu sesenggang itu dan aku tidak suka matahari. Perlukah aku menjelaskannya padamu?” Jawab Vlador, membuat Triana terdiam dan menggigit bibir bawahnya yang gemetar.

“Aku takut. Aku takut tenggelam.” Ucap Triana dengan suara pelan. “Sungainya sangat dalam.”

“Aku tahu. Tanganmu sedang mencekik leherku.” Sahut Vlador, lalu ia mengangkat tubuh Triana lebih tinggi hingga membuatnya memekik.

“Jangan membuang waktu lagi. Mulailah belajar,”

“Tu-tunggu sebentar, Tuan Vlador!” Triana mengeratkan pegangannya.

“Lepaskan leherku dan luruskan tubuhmu. Kau tidak akan tenggelam; aku memegangmu.” Ucap Vlador seraya memindahkan tangannya dari pinggang Triana ke perutnya.

“A-aku takut. Aku akan tenggelam.” Ucap Triana dengan tubuh gemetar.

“Kau tidak akan tenggelam selama kau tidak melawan.” Sahut Vlador. “Lemaskan tubuhmu.”

Menahan napas, Triana berusaha melemaskan tubuhnya dan membiarkan Vlador mengendalikan posisinya. Tidak lama, seluruh tubuhnya telah mengambang di atas air dalam posisi perut di bawah.

“Pastikan wajahmu tetap berada di atas air. Bernapaslah.” Ucap Vlador, lalu melepas satu tangannya untuk meraih satu tangan Triana. “Tempatkan kedua tanganmu di depan dan gerakkan kakimu perlahan.”

“To-tolong jangan melepasku.” Pinta Triana seraya melakukan apa yang Vlador instruksikan.

“Tidak akan.”

Jawaban Vlador membangkitkan rasa aman dalam hati Triana. Meski tubuhnya masih menggigil kedinginan, otot-ototnya tidak lagi tegang. Ia dapat merasakan tangan besar Vlador menahan perutnya, membuatnya tetap mengambang sementara ia berlatih menggerakkan kaki dengan cara yang benar.

“Bagus. Jadilah itik yang sesungguhnya.” Sindir Vlador.

Meski mengesalkan, Triana tidak dapat menahan tawa kecil untuk keluar dari bibirnya karena dari wajah Vlador, ia dapat merasakan bahwa pria itu tidak memiliki niat untuk menghinanya. Mungkinkah itu adalah cara pria tinggi hati sepertinya memuji seseorang?

“Sekarang aku akan melepas tubuhmu dan memegang kedua tanganmu. Ingatlah untuk tidak panik.” Ucap Vlador.

Triana mengangguk seraya kembali mengendalikan napasnya dan tetap menggerakkan kedua kakinya. Kemudian, ia merasakan tangan Vlador pergi dari perutnya dan dengan cepat berpindah untuk memegang kedua lengannya.

Berhadapan dengan Vlador, Triana mengaitkan kedua tangannya pada kedua lengan Vlador. Matanya membesar saat ia menyadari bahwa tubuhnya tetap mengambang seperti ketika Vlador sedang memeganginya di perut.

“Aku mengambang.” Sorak Triana.

“Ya, aku bisa melihatnya,” Sahut Vlador, tersenyum tipis. Kemudian, ia menjauhkan tubuhnya hingga hanya memegang kedua tangan Triana. “Terus gerakkan kakimu.”

Perlahan, Vlador berenang mundur hingga tubuh Triana tertarik maju. Mata Triana semakin membesar dan kakinya semakin semangat mengayuh.

“Aku bisa berenang! Aku melakukannya!” Ucap Triana dengan senyum lebar.

“Pada dasarnya semua makhluk hidup memiliki insting untuk berenang. Bahkan seekor kucing yang membenci air dapat berenang.” Tutur Vlador, lalu melepaskan satu tangan Triana. “Yang kau perlukan hanyalah percaya. Percayalah bahwa kau bisa.”

Hanya dengan satu tangan berpegangan dengan milik Vlador, Triana mampu mempertahankan tubuhnya untuk mengambang, bahkan berenang maju. Tidak lama, Vlador mencoba melepaskannya sama sekali dan Triana mendapati dirinya tidak tenggelam.

Air yang sebelumnya terasa membekukan seakan menghangat. Ia mungkin akan sakit setelah ini, namun ia tidak peduli. Vlador berkata semua ada di dalam pikirannya dan perlahan, ia mampu membuktikan bahwa perkataan pria itu benar.

“Pamanku benar: berenang terasa seperti terbang.” Ucap Triana, lalu tertawa kecil, “Padahal ia tidak pernah terbang.”

“Pria itu banyak bercerita padamu.” Sahut Vlador, berenang di samping Triana yang mengapung menatap bulan.

Triana mengangguk kecil. “Selama ini, aku selalu mendengarkan pengalaman dan petualangan orang-orang. Aku membayangkannya tanpa berharap akan mengalaminya. Tidak aku sangka, sekarang aku sedang berenang di tengah sungai hutan liar dan air terjun besar di sampingku.”

Lalu Triana menoleh pada Vlador yang berada dalam posisi yang sama sepertinya karena ini adalah gaya berenang terakhir yang pria itu ajarkan padanya. “Kau berkata bahwa aku akan melupakan segalanya yang terjadi padaku di tempat ini. Apakah itu alasanmu melemparku ke sungai?”

Mengerjap, Vlador turut menoleh menghadap Triana. “Apakah kau merasakannya?”

Triana mengangguk. “Itu adalah pertama kalinya aku bisa melupakan semua yang terjadi padaku. Melupakan kutukannya, melupakan siapa diriku, dan melupakan apa yang telah orangtuaku lakukan padaku. Satu-satunya yang aku pikirkan adalah cara menyelamatkan diriku dari kematian. Cara agar tetap hidup.”

Kemudian Triana mengembalikan pandangannya ke depan. “Ketika aku sudah bisa berenang, sungai yang tadinya terlihat sangat menakutkan berubah menjadi indah. Riak airnya, air terjunnya, langitnya… bahkan suhunya yang dingin.”

Sebuah senyum sendu mengembang di bibir keunguan Triana. Sambil menatap hamparan bintang, ia berkata, “Aku rasa kau benar, Tuan Vlador. Semuanya berasal dari kepalaku. Sama seperti berenang, aku tidak akan tenggelam jika melemaskan tubuhku… membiarkan air menopangku. Jika aku membiarkan semua yang telah orangtuaku lakukan padaku berlalu, aku rasa aku tidak akan lagi tenggelam dalam kesesakan.”

Cincin >>>

Outfit >>>



Komentar