Langsung ke konten utama

39. Triana Menghilang // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador.

Seorang pria manusia pernah berkata pada Vlador bahwa ia merasa seperti terlahir menjadi manusa baru setelah dibaptis. Ia juga pernah mendengar bahwa baptis dilakukan dengan menyelupkan seseorang di dalam air.

Apakah ia tanpa sengaja telah membaptis Triana?

Sejak keluar dari sungai, Triana menjadi lebih tenang. Raut khawatir pada wajahnya yang menempel sejak pertama kali Vlador melihatnya juga menghilang. Jika ia tidak bicara, ia nampak seperti seorang wanita muda mandiri yang mampu mengelilingi seluruh daratan barat hanya dengan seekor kuda.

Meletakkan handuknya, Triana menatap Vlador. “Apakah ada sesuatu, Tuan Vlador?”

Vlador mengerjapkan mata, lalu lanjut mengikat tali tunik putihnya. “Apa kau sakit?”

Triana menggeleng. “Sebaliknya, aku merasa sangat sehat.” Lalu senyum mengembang di wajahnya. “Apa yang kau katakan benar, Tuan Vlador. Semua berasal dari pikiranku. Aku rasa aku tidak sakit karena aku sangat senang bisa berenang. Aku rasa tidak ada seorang putri bangsawan pun yang memiliki kemampuan ini selain diriku.”

Tersenyum miring, Vlador mengangkat satu alisnya. “Apakah kau sedang mengatakan bahwa semua wanita bangsawan sama manjanya denganmu?”

Bibir Triana sedikit mengerucut. Ia menyibakkan rambut panjangnya yang setengah kering ke belakang punggungnya, “Aku hanya mengatakan kenyataan. Soal manja, itu tergantung pada pendapat masing-masing individu.”

“Kini aku percaya kau benar-benar sehat.” Ucap Vlador.

Lalu ia mengangkat peti bekal dan menyusunnya kembali ke dalam kereta kuda. “Aku telah meletakkan peti pakaian di barisan paling luar. Gantilah pakaianmu, dan jangan keluar hingga aku kembali.”

“Kau akan pergi ke mana, Tuan Vlador?” Tanya Triana, melangkah mendekati pintu kereta.

“Aku terkurung lebih dari seratus tahun. Sudah banyak bangunan dan kota baru dibangun sejak peperangan besar usai. Peta yang aku ingat mungkin sudah berubah.” Jelas Vlador, lalu meraih pintu kereta begitu Triana sudah masuk ke dalam.

Triana mengangguk. “Aku mohon jangan pergi terlalu lama, Tuan Vlador. Aku merasa sedikit takut sendirian di sini.”

Tangan Vlador terhenti sehingga pintu yang sedang ia pegang baru tertutup setengah. Keningnya mengkerut dan fokus menghilang dari pengelihatannya.

“Tuan Vlador?”

Suara Triana menyadarkannya hingga membuatnya mengangkat pandangannya kembali hanya untuk bertemu pada sepasang mata biru sedang menatapnya dengan kening mengkerut.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Triana.

Mengangguk sekali, Vlador berkata, “Kunci pintunya. Aku akan segera kembali.”

“Baiklah.” Jawab Triana.

Lalu Vlador menutup pintu kereta tersebut dan pergi menjauh. Sambil melangkah, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya panjang.

Apa yang terjadi padanya? Itu hanyalah kalimat dari seorang gadis manja dan penakut. Kalimat itu tidak ada artinya, dan ia tidak perlu mempedulikannya.

Menggelengkan semua pikiran itu dari kepalanya, Vlador berlari ke tengah hutan untuk mencari pohon tertinggi.

Matahari mulai menampakkan sinarnya sehingga akan lebih mudah bagi Vlador untuk melihat apa yang ada di depan dengan memanjat pohon. Ia tidak tahu apakah ada pemukiman di dekat lokasinya yang akan membuat segalanya menjadi merepotkan jika ia terbang dengan sayap besarnya.

Setelah tidak lama mencari ke Selatan yang merupakan arah tujuannya, Vlador menemukan sebuah pohon yang tumbuh cukup tinggi. Ia memanjat hingga ke puncak dan dapat melihat pemandangan yang cukup luas.

Tidak ada pemukiman terlihat di sekitar lokasinya. Namun dengan kemampuan pengelihatan jauhnya, Vlador dapat melihat ketidakberadaan pucuk-pucuk pohon sekitar dua puluh kilometer di depan dan beberapa titik asap kecil.

“Peradaban manusia. Mungkin aku bisa mendapat jalan yang lebih singkat jika bertanya pada orang-orang di sana.” Gumam Vlador.

Turun dari pohon, Vlador kembali ke tempat ia memarkir kereta kuda dan meninggalkan Triana. Namun matanya menyipit ketika ia hampir tiba di sana.

“Apa yang terjadi?” Gumam Vlador seraya mempercepat langkahnya.

Begitu ia mencapai lokasi tersebut, ia mendapati api unggun yang tadi ia buat telah padam dan kereta kudanya menghilang.

“Itik!” Panggilnya seraya menatap sekeliling, namun tidak menerima jawaban.

“Triana!” Serunya lagi hanya untuk mendengar jawaban dari hembusan angin yang menggoyangkan ranting-ranting pohon.

Kemudian Vlador melangkah ke pinggir jalan, di mana ia terakhir memarkir kereta kuda. Memperhatikan jalanan tersebut, ia menemukan jejak-jejak tapal kuda yang bukan milik kuda keretanya.

“Sial!” Gumam Vlador, berlari ke tengah-tengah jalan dan mendapati bekas roda keretan yang mengarah ke Timur.

Menggunakan pengelihatan jauhnya, Vlador menemukan kereta tersebut sedang melaju kencang. Sepasang sayap keluar dari punggung Vlador hingga menghancurkan tuniknya. Dalam sekali kepakan, ia sudah berada di udara. Pada kepakan keduanya, tubuhnya meluncur menyusuri jalan itu.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Vlador mengejar kereta kudanya. Ia menatap ke bawah, di mana kereta kuda tersebut sedang melaju kencang dengan dua pria duduk di kursi kusir.

“Kalian tidak tahu sedang berurusan dengan siapa,” Desis Vlador sebelum menukik turun dan mendarat di atas kereta itu.

Kedatangan Vlador mengejutkan kedua pencuri itu. Mereka menoleh ke belakang dan mendapati Vlador sedang berdiri di sana. Tanpa basa basi, Vlador menyambar kepala salah satu pria itu dengan cakarnya dan merobeknya di leher.

“Vampir!” Seru pria satunya lagi, melepaskan tangannya dari kendali kuda dengan mata terbelalak besar.

Pria itu hendak melompat dari kereta, namun Vlador tidak kalah cepat untuk menangkapnya di leher dan merobeknya dengan kedua taringnya.

Melempar tubuh pria itu ke sembarang arah, Vlador hendak berpindah ke kursi kemudi untuk menghentikan kudanya, namun matanya menangkap kondisi pintu kereta yang sedikit terbuka.

Kening Vlador seketika mengkerut karena mengingat bahwa seharusnya ada kuda lain yang berjalan bersama kereta kudanya. Dengan mata membesar, ia berlutut di atas atap kereta dan membuka pintunya lebar-lebar. Lalu ia menggantungkan kepalanya ke bawah untuk mengintip ke dalam sana.

Ia menggeram ketika mendapati bahwa di dalam kereta itu hanya berisi peti-peti tanpa Triana.

Ia bangkit berdiri dan menatap sekeliling seraya bergumam, “Itik itu…”

Tanpa memikirkan apa pun lagi, Vlador membuka sayapnya dan melompat ke langit yang masih gelap, namun memiliki lebih sedikit bintang karena pagi mulai datang.

Seharusnya Triana ada di dalam kereta itu. Apakah ia melompat keluar saat keretanya dicuri? Namun ia tidak memiliki keberanian sebesar itu, mengingat ia sangat takut terjatuh hingga melukai tubuhnya.

Terbang di atas pepohonan, mata Vlador terus menyisir hutan di bawahnya. Dari jejak tapal kuda yang berada di samping kereta mereka, Vlador menyadari setidaknya ada dua yang mengarah ke hutan.

Siapa pun orang-orang itu, mereka membawa Triana.

Sama-samar, Vlador mendengar suara teriakan, dan ia mengenali suara itu dengan jelas. Ia langsung melesat ke arah suara tersebut berasal.

Dari atas, Vlador melihat dua ekor kuda tanpa penunggang berdiri di antara pepohonan. Kemudian ia menggeser pandangannya tidak jauh dari lokasi kedua kuda itu terikat. Matanya menyipit melihat dua orang pria sedang menahan seorang gadis.

“Diam!”

PLAK!

Teriakan Triana terbungkam oleh sebuah tamparan keras di pipinya yang basah oleh air mata.

“Cepatlah! Mereka akan mengambil bagian kita jika kita terlambat bergabung.” Ucap salah satu pria yang duduk di samping pria yang sedang menindih kedua kaki Triana dengan lututnya.

“Setidaknya bantu aku memegangi tangannya, sialan!” Sahut temannya.

“Tidak! Aku mohon! Aku adalah seorang bangsawan!” Seru Triana dengan suara serak sambil terus merekatkan kedua tangannya di atas dada.

“Berapa kali kau akan mengatakan hal itu? Tidak ada gadis bangsawan yang dibiarkan berkeliaran di tengah hutan sendirian!” Tawa pria yang menindih Triana.

“Tidak! Aku berkata jujur! Tolong jangan lakukan ini!” Seru Triana saat pria satunya lagi menarik paksa kedua tangannya ke atas kepalanya.

“Tuan Vlador! Tuan Vlador! Tolong!” Jerit Triana sekuat tenaga. Lalu matanya membesar saat pria di atasnya menyibak gaunnya. “Tidak!”

“Haha! Tuan Vlador-mu tidak akan datang meski kau memanggilnya ratusan kali. Ia sudah pergi ke rumah bordil lain setelah puas bermain bersamamu dan meninggalkanmu di tengah hutan,” Ucap pria itu sebelum membuka kedua kaki Triana. “Lihatlah kulit mulus ini. Ternyata bukan wajahnya saja yang cantik.”

“Haha! Dia pasti ditinggalkan karena mematok harga terlalu tinggi pada Tuan Vlador sialan itu.” Tawa pria yang sedang memegangi tangan Triana yang terus berusaha meronta. “Cepatlah! Aku sudah tidak sabar untuk mencobanya.”

“Kabar buruk untukmu karena aku akan-“

KLAK!

“Akh!” Pria itu melepaskan kedua kaki Triana dan terguling ke samping sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

“Apa itu? Siapa yang melemparnya?” Pria satunya melepas tangan Triana dan bangkit berdiri.

“Sialan! Sakit sekali!” Seru pria yang masih berguling di tanah. Ia menarik tangannya dari keningnya dan menemukan lumuran darah di sana. Lalu ia mengedarkan pandangannya dan menemukan sebuah biji pohon eek yang telah retak dan hampir terbelah.

“Berani-beraninya kalian menyebut namaku dengan mulut kotor itu.”

Tempat Kacamata >>>

Sarung tangan antiUV >>>



Komentar