Vlador.
“Siapa kau?”
Tersenyum miring, Vlador melanjutkan langkah ringannya, membuat kedua pria itu mengeluarkan golok panjang mereka.
“Baru saja kalian menyebut-nyebut namaku, namun sekarang bertanya siapa aku?” Tanya Vlador.
Kedua pria itu saling bertukar pandang sebelum kembali menatap Vlador.
“Oh, jadi kau adalah pria yang terus diteriakkan oleh wanita jalang itu? Bersiaplah kehilangan jari-jarimu karena telah melukai kepalaku!” Ancam pria yang luka pada keningnya terus mengucurkan darah ke separuh wajahnya.
Menggeser pandangannya, Vlador mendapati Triana sudah bangkit duduk dan menggeser tubuhnya menjauh. Kemudian senyuman kembali terbentuk di bibirnya.
“Kau tidak bisa melakukan itu dengan tubuh yang mulai membusuk.” Jawab Vlador, menatap pria itu tajam.
Melihat kedua mata Vlador yang berubah menjadi merah menyala, kedua pria itu membelalakkan mata mereka dan melangkah mundur. Vlador melepaskan senyumnya dan langsung menerjang mereka tanpa mengatakan apa pun lagi.
“Vamp-“
Seruan salah satu pria itu terputus ketika kuku-kuku panjang Vlador menyambar punuknya hingga membuat ia jatuh tersungkur ke depan dengan empat luka robek panjang yang memperlihatkan tulang punggungnya.
Sebuah pisau kemudian melayang cepat ke arah Vlador. Namun tangannya tidak kalah cepat untuk menangkap pisau besar tersebut tepat di gagangnya.
Menyaksikan pria itu berusaha berlari kabur, Vlador meringis miring. “Bangsa pengecut!”
Kemudian Vlador melempar pisau tersebut ke arah pria yang sedang berlari sambil berteriak meminta tolong itu. Lalu teriakannya terhenti ketika pisau yang Vlador lemparkan mendarat tepat di tengah-tengah punggungnya.
Merangkak dengan darah menetes dari mulutnya, pria itu berusaha mempercepat gerakannya ketika melihat Vlador telah berdiri di sampingnya.
“To-tolong… jangan bunuh aku,” Mohon pria itu sambil terus menyeret tubuhnya.
Memiringkan kepala, Vlador terkekeh kecil, lalu menyambar leher pria itu. Ia mengangkatnya dengan satu tangan yang kuku-kukunya menancap dalam di sana.
“Khhkk…” Pria itu tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan atau pun berbicara karena kerongkongannya sibuk menyemburkan darah keluar.
“Kematian adalah ganjaran bagi mereka yang berani menyentuh propertiku.” Ucapnya sebelum mematahkan leher pria itu dan mencabut kepalanya dari tubuhnya.
Dengan darah yang masih menetes dari jemarinya, Vlador memeriksa pria yang punuknya terluka parah dan memastikannya benar-benar telah mati dengan menendang-nendang asal kepala dan punggungnya. Kemudian ia melangkah menghampiri Triana yang sedang duduk meringkuk.
Vlador berdiri di depan Triana yang masih terus terisak sambil menyembunyikan wajah di kedua lututnya. Lalu ia berjongkok sambil menatap punggung Triana yang berguncang.
“Aku hanya meninggalkanmu sebentar, namun kau sudah seberantakan ini.” Ucapnya tanpa mendapatkan jawaban selain tangisan.
Menghela panjang, Vlador melanjutkan, “Kau aman sekarang. Aku sudah membunuh mereka. Sekarang bangkitlah-“
“Aku berkata padamu untuk segera kembali.” Ucap Triana sambil terisak. Lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap Vlador dengan kedua mata bersimbah air mata. “Bukankah nyawa kita terhubung? Kau selalu mempermasalahkan itu tapi… tapi kenapa kau meninggalkanku sendirian di tengah hutan?”
Menatap kedua mata Triana yang menatapnya penuh tuntutan membuat Vlador terdiam beberapa saat. Ketidaknyamanan menyerang jantungnya hingga membuatnya harus mengeratkan rahang.
“Aku pikir… meski dunia telah membuangku, aku masih berarti bagi seseorang, meski itu dikarenakan kutukan.” Ucap Triana lagi sebelum kembali menundukkan kepalanya dan menangis histeris.
Meneguk liur, Vlador menjulurkan tangannya untuk meraih pundak Triana. Lalu ia menarik napas panjang, dan menjawab, “Jangan menjadikan kutukan ini sebagai alasanmu untuk menghargai dirimu. Kau hidup untuk dirimu sendiri, bukan orang lain.”
Jawaban Vlador membuat Triana mengangkat wajahnya dan menatapnya dengan air mata terus mengalir. Kemudian Vlador melanjutkan, “Aku tidak tahu manusia telah mengembangkan hati yang begitu busuk selama seratus tahun ini. Dahulu, meninggalkan kereta kuda di tengah hutan bukanlah sebuah masalah besar.”
“Sekarang kau sudah mengetahuinya, jadi aku harap kau tidak akan meninggalkanku lagi.” Sahut Triana, namun tidak mendapatkan jawaban dari Vlador. Lalu ia melanjutkan, “Bagaimanapun, aku harus berterimakasih padamu karena telah menyelamatkanku.”
“Bangkitlah. Kita harus pergi dari sini.” Ucap Vlador seraya menarik lengan Triana ke atas.
Begitu Triana berdiri, Vlador baru menyadari beberapa robekan besar pada gaun gadis itu. Triana langsung memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang kotor dan memiliki beberapa luka.
Kemudian Vlador menaikkan pandangannya ke wajah Triana dan mendapati noda merah pada salah satu pipi gadis itu. “Seharusnya ada obat-obatan di peti perbekalan untuk mengobati luka-lukanya. Aku akan membantumu nanti.”
Triana mengangguk dengan wajah tetap menatap ke lain arah.
“Ayo,” Ucap Vlador, menginstruksikan agar Triana berjalan di sampingnya. Namun ia menyadari bahwa lutut gadis itu gemetar dan tidak ada sepatu yang membungkus kakinya.
Mendecak pelan, Vlador menahan pundak Triana agar gadis itu berhenti melangkah.
“Tunggu,” Ucapnya sebelum menarik tubuh Triana dan menggendongnya di depan.
Mata Triana terbelalak dan ia menatap Vlador dengan kedua mata tersebut sambil mencengkram dadanya sendiri.
“Kau memperlambat kita dengan kondisi kakimu.” Ucap Vlador dengan wajah terus memandang ke depan.
Vlador menghampiri salah satu kuda milik perampok, lalu menaikkan Triana ke atas punggungnya. Beruntung, salah satu perampok itu meninggalkan jubah bertudungnya di atas kudanya sehingga bisa Vlador gunakan untuk menutupi tubuh polosnya. Setelah itu ia melompat naik ke atas kuda tersebut.
Dengan sosok Triana berada di antara kedua tangannya, ia menarik tali kendali kuda dan menghentakkannya.
Memacu kudanya di jalan yang membelah hutan, Vlador mendapati kereta kuda mereka telah menghilang.
“Apa kau menemukannya?” Tanya Triana.
“Tidak. Namun aku menemukan jejak rodanya. Seharusnya kuda-kuda itu tidak membawa keretanya terlalu jauh dalam kondisi tanpa kusir.” Jawab Vlador.
“Aku harap keretanya dapat ditemukan karena seluruh perbekalan dan uang kita ada di dalam sana.” Ujar Triana pelan.
Kemudian Vlador mengikuti bekas roda keretanya dan mendapati bekas roda itu melenceng keluar dari jalanan.
“Ini tidak bagus,” Gumam Vlador saat mendapati jejak itu mengarah ke lahan terbuka yang mendatangkan hembusan angin keras dan lembab.
“Oh, Tuhan… ini tidak mungkin terjadi,” Gumam Triana ketika kuda mereka berhenti di pinggir tebing yang menghadap laut lepas yang nampak sedang mengamuk.
Menatap batu-batu karang yang terus diterpa oleh ombak besar dan berbusa, Vlador hanya bisa mengeratkan rahangnya karena sisa pecahan-pecahan kereta dan tubuh salah satu kuda penarik kereta tersebut berada di sana.
Saat menghabisi para perampok itu di atas kereta, ia tidak berpikir kuda-kuda mereka akan sebegitu ketakutannya hingga berlari terlalu jauh dari jalur.
“Mungkinkan masih ada benda berharga yang tersisa?” Tanya Triana penuh harap dengan suara bergetar.
“Seharusnya kau sudah melihat seberapa besar ombaknya.” Sahut Vlador seraya memundurkan kudanya.
“Semua uang kita ada di sana. Lalu bagaimana kita menaiki kapal?”
“Kau benar. Bahkan uangku juga ada di sana.” Sahut Vlador seraya menghentakkan kudanya untuk melangkah pergi dari sana. “Haruskah kita meminta tambahan uang pada orangtuamu?” ia mengangkat satu alis.
Triana terdiam beberapa saat, lalu menggeleng pelan. “Aku rasa itu tidak perlu… Tidak. Aku tidak mau melakukannya.”
Terkekeh kecil, Vlador menjawab, “Sesuai keinginanmu, Lady,”
“Lady?” Triana mendongakkan kepalanya untuk menatap Vlador dengan kening mengkerut. “Apa kau baru saja memanggilku dengan sebutan Lady?”
“Kau tidak salah mendengar.” Jawab Vlador dengan tatapan lurus ke depan.
“Ke-kenapa? Maksudku… kau selalu memanggilku Itik. Aku pikir kau tidak sudih menyebut gelarku.”
“Gelar.” Tutur Vlador dan memberi sedikit jeda. “Aku hanya menyebut seseorang dengan gelarnya ketika ia pantas mendapatkannya.”
Triana terdiam dan mengembalikan pandangannya ke depan. Kemudian Vlador melirikkan matanya ke bawah dan menyaksikan sebuah senyum merekah di bibir merah gadis itu.
“Aku mengerti. Terima kasih… Tuan Vlador.” Ucap Triana.
Tiba di jalan tengah hutan, Vlador menghentikan kudanya sebentar dan menarik kedua sisi jubahnya yang terbelah di bagian depan yang selalu berterbangan ke belakang saat ditiup angin.
“Pegang ujung jubahku untuk menutupi tubuhmu.” Perintahnya pada Triana. “Orang-orang akan menaruh perhatian mereka pada pria setengah telanjang yang membawa gadis dengan gaun compang-camping.”
“Ke mana kita akan pergi, Tuan Vlador?” Tanya Triana seraya melakukan apa yang Vlador katakan.
“Ke kota terdekat. Di sana kita akan memikirkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai Kota Verxic. Sekarang duduklah senyaman mungkin karena ini akan menjadi perjalanan yang cukup panjang.”
![]() |
| Lip Tint >>> |
![]() |
| Lip Cream >>> |


Komentar
Posting Komentar