Vlador
Air yang tergenang pada sepasang mata biru cerah itu nampak beriak. Mata itu menatapnya seperti seekor anak anjing kelaparan yang tersesat sendirian. Warna semu muncul perlahan di kedua pipi itu.
Vlador menggeser turun genggamannya dari pergelangan tangan Triana menuju tangan mungil dan ringkih itu. Lalu ia membalikkan tangan tersebut dan meletakkan botol obat memar di telapak tangannya. Tidak seharusnya ia memanjakan gadis itu.
“Jika kau pikir kau membutuhkannya lebih banyak, pakailah sendiri.”
Mengerjap, Triana segera mengusap matanya dengan punggung tangannya yang lain. Ia mengangguk dan tertawa kecil. “Maaf jika aku terlalu cengeng. Kau sangat baik, Tuan Vlador. Kau membantuku sangat banyak hari ini.”
Mengeratkan rahangnya, Vlador bangkit berdiri. “Kau menjadi tanggungjawabku selagi nyawa kita terhubung.”
Triana tertawa kecil. “Kau benar. Aku hampir melupakannya. Tapi apa pun itu, aku tetap berterimakasih.”
Tidak menanggapi Triana lagi, Vlador melangkah menuju meja lain dan mematikan lampu minyak hingga kamar itu hanya diterangi oleh cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Merangkak ke atas kasur, Triana menutup tubuhnya dengan selimut hingga ke bawah matanya. Ia menatap Vlador tempatnya berbaring.
“Pipiku… ini terasa lebih baik.” Ucap Triana pelan.
“Itu baru saja dipakaikan obat.” Sahut Vlador, menatap Triana dari ujung mata.
“Menurutmu kapan lebam dan bengkaknya akan hilang dari wajahku?” Tanya Triana seraya menurunkan selimutnya ke leher.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu. Kau akan menyamar menjadi laki-laki; tidak akan ada yang peduli pada lebam di wajah itu.”
Menghela panjang, Triana melanjutkan, “Sejujurnya aku agak khawatir. Apakah nanti orang-orang akan percaya bahwa aku adalah laki-laki, sementara wajahku terlalu lembut seperti ini.”
“Jika tidak dicoba, kita tidak akan tahu.” Sahut Vlador seraya naik ke atas kasur dan duduk di bagiannya, di samping Triana, membuat gadis itu menggeser tubuhnya sedikit menjauh. “Jangan berisik dan cepatlah tidur.”
Meluruskan pandangannya ke atap, Triana menjawab, “Kelihatannya aku tidur terlalu pulas di sepanjang perjalanan tadi sehingga aku tidak merasa mengantuk sekarang.”
“Tidurmu tidak mungkin sepulas itu di atas kuda dan dengan angin berhembus kuat.” Sahut Vlador.
“Itu benar. Namun anehnya, aku tidur dengan nyenyak.”
Mengerutkan keningnya, Vlador melirik Triana yang masih menatap langit-langit. Tiba-tiba gadis itu terkekeh.
“Kenapa kau tertawa?” Tanya Vlador.
“Maaf,” Ucap Triana. “Aku hanya mengingat ketika pertama kali kita menginap di penginapan dan harus tidur di satu ranjang seperti ini. Saat itu aku ketakutan setengah mati. Kejadian itu hanya berselang beberapa hari ke belakang, dan kini kita berada di situasi yang sama namun dengan cerita yang berbeda”
“Apa yang sedang kau coba katakan?” Tanya Vlador ketika Triana terdiam sejenak dengan senyum tipis yang masih tergambar di wajahnya.
“Kini aku tidak takut lagi meski harus tidur di ranjang yang sama denganmu. Lebih tepatnya, aku tidak memiliki alasan untuk itu.” Ucap Triana, lalu menarik napas dalam sebelum melanjutkan, “Tidak ada lagi nama baik keluarga yang harus aku jaga dan tidak ada lagi calon suami yang akan mencampakkanku.”
Vlador menyipitkan matanya dan menangkap pantulan cahaya bulan yang bergerak di kedua mata Triana.
“Aku rasa hidup itu sangat menarik namun menyeramkan, Tuan Vlador. Ternyata hidup seseorang bisa berubah begitu drastis hanya dalam sekejap.” Tutur Triana.
“Kenapa kau membicarakan tentang mereka lagi? Kau sudah berjanji tidak akan meminta pulang ke rumahmu.”
“Pulang?” Triana terkekeh. “Aku bahkan tidak lagi memiliki rumah untuk pulang, Tuan Vlador. Aku pun tidak ingin kembali dan tidak bermaksud memikirkan tentang keluargaku.”
Kemudian Triana menoleh pada Vlador dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca itu. “Aku tidak tahu apakah Vapir juga mengalaminya. Namun ketika hendak tidur, manusia sulit mengendalikan diri untuk tidak membayangkan sesuatu yang telah terjadi.
Itu yang kerap terjadi pada pamanku ketika ia pulang dari perangan. Ia berkata bahwa ia kesulitan tidur karena memiliki banyak pikiran sehingga ia harus mengkonsumsi obat tidur. Saat itu aku berkata bahwa ia hanya perlu menyingkirkan pikiran itu. Namun aku salah. Pikiran itu muncul tanpa bisa dikendalikan.”
“Haruskah aku memberimu obat tidur agar kau berhenti bicara?” Tanya Vlador.
Tertawa, Triana mengembalikan pandangannya ke langit-langit. “Apakah kau tahu bahwa mulutmu sangat kejam, Tuan Vlador? Namun entah mengapa, aku bisa merasakan kebaikan di dalam dirimu.”
Terkekeh singat, Vlador menjawab, “Kau adalah itik yang baru saja menetas dari telur. Terlalu dini bagimu untuk bisa membaca kepribadian orang.”
“Kau mungkin saja benar.” Ucap Triana pelan. “Tapi aku harap kau membiarkanku berpikir seperti ini, Tuan Vlador.”
“Apa maksudmu?” Vlador mengerutkan keningnya lagi.
Air mata mengalir perlahan dari ujung mata Triana. “Perubahan ini terjadi begitu cepat, aku tidak bisa menahannya. Tolong biarkan aku berpikir bahwa masih ada seseorang yang memperlakukanku dengan baik secara tulus.”
Mengusap matanya yang menumpahkan air semakin banyak, Triana melanjutkan dengan suara bergetar, “Kelihatannya… aku belum terbiasa menjadi seseorang yang tidak berharga. Ketika aku tidak lagi memiliki hargaku sebagai bangsawan, orang-orang hanya menilaiku dari tubuhku saja, dan bahkan menganggapku sebagai wanita penghibur.”
Mengeratkan rahangnya, Vlador hanya diam melihat Triana menangis dengan tubuh bergetar.
Triana adalah seorang Lady dengan kecantikan dewi dan kehidupan sempurna. Namun berkat keegoisan kedua orangtuanya, ia bagaikan terjatuh dari surga menuju neraka. Kelihatannya pelecehan yang ia terima menyadarkannya bahwa dunia luar terlalu kejam untuk gadis seringkih dirinya.
Meski begitu, Vlador tidak menyalahkannya.
***
Triana.
Suara pintu yang terkunci membangunkan Triana. Ia mengusap matanya yang berat akibat menangis sebelum tidur.
Mengerutkan kening dan menyipitkan mata, ia mendapati Vlador membawa sebuah tas koper dan meletakkannya di atas ranjang.
“Tuan Vlador, kau dari mana?” Tanya Triana, bangkit duduk.
“Mengambil keperluan kita untuk menyamar.” Jawab Vlador seraya menyalakan lampu minyak, namun menyecilkan apinya.
Mata Triana membesar. Itu benar. Sebelumnya Vlador berkata ia akan mencuri barang-barang dokter dari perampok yang ia temui kemarin. Kelihatannya pria itu melakukannya ketika Triana tertidur.
Triana mengusap kedua matanya sebelum merangkak menghampiri koper yang sedang Vlador buka. “Wah!”
“Karena kau sudah bangun, sebaiknya kita pergi dari penginapan ini lebih awal.” Ucap Vlador seraya mengeluarkan barang-barang dari koper itu.
Mengamati alat-alat yang Vlador keluarkan dari dalam koper tersebut, Triana bergumam, “Ini adalah perlengkapan-perlengkapan kedokteran. Aku pernah melihat mereka di buku dan sekarang aku memegangnya secara langsung.”
“Simpan kekagumanmu. Cobalah pakaian ini.” Vlador memberikan set pakaian pria kepada Triana.
“Apakah ini adalah pakaian asistennya?” Tanya Triana.
Vlador mengangguk sekali. “Aku akan menyimpan jubah dokternya agar tidak dicurigai, dan memakainya di jalan.”
“Baiklah.” Ucap Triana, lalu turun dari ranjang.
Ia melangkah ke sudut ruangan, di mana Vlador menghadapkan punggungnya. Kemudian ia melepas gaunnya dan mengenakan set pakaian pria itu.
Sebuah kemeja, rompi, dan celana panjang melekat di tubuh Triana. Jujur saja, ia tidak terlalu menyukai bau mereka. Namun ia tidak bisa berkomentar karena hanya ini yang ia punya dan Vlador telah bersusah payah mengambilkannya.
“Tuan Vlador, aku sudah mengenakannya. Bagaimana menurutmu?”
Panggilan Triana membuat Vlador menoleh. Ia meluruskan punggung dan menghampirinya. “Semua terlihat kebesaran,”
“Kita bisa menggulung beberapa bagian. Kelihatannya asisten dokter itu masih cukup muda.” Balas Triana seraya merapihkan kemeja yang baginya tidak sebesar itu.
“Kemari,” Vlador meraih pergelangan tangan Triana dan berhenti di dekat koper. Lalu ia mengambil sebuah tali sebelum berdiri di belakang Triana.
Merasakan Vlador menggenggam seluruh rambutnya dan menariknya ke atas, Triana berusaha menoleh. “Apa yang kau lakukan?”
“Rambut panjangmu harus disembunyikan. Jangan bergerak.” Ucap Vlador.
“Oh,” Triana bergumam seraya mengembalikan pandangannya ke depan. Meraskan tangan Vlador bergerak di antara rambutnya dan beberapa kali mengusap belakang lehernya membuat punggung Triana menegang.
Tidak lama, rambut Triana berhasil terikat ke atas, lalu Vlador mengambil sebuah topi coklat untuk menutupnya. “Kita sudah siap.”
Melewati kedai yang telah kosong, Triana dan Valdor turun menuju kandang kuda dengan membawa barang mereka yang sedikit.
Dalam kondisi langit yang masih gelap, kuda mereka melaju keluar dari kota perampok itu. Dengan sedikit istirahat sejenak di sebuah desa kecil, mereka akhirnya tiba di Kota Harbour pada malam hari.
Angin dingin dengan aroma laut yang kuat menyapa mereka. Mata Triana bergemerlap memperhatikan lampu-lampu yang masih menyala dan cukup banyak orang berlalu-lalang.
Ia tidak tahu Kota Harbour ternyata sesibuk itu.
Trimakasih sudah membaca, guys! 🥰🙏


Komentar
Posting Komentar