Vlador.
Melalui Kota Harbour, Vlador dapat melihat sudah seberapa majunya peradaban manusia.
Kapal-kapal telah berkembang menjadi lebih besar dan terlihat kuat. Mungkin itu yang menyebabkan lebih banyak kapal yang terparkir di pelabuhan besar kota itu. Kapal-kapal yang datang dan pergi juga membawa cukup banyak orang dan barang logistik. Tidak mengherankan kerajaan Galvadea menjadi kaya raya sekarang. Kelihatannya raja mereka juga pintar berbisnis.
Melewati keramaian jalan, tidak banyak pasang mata yang meletakkan perhatian pada mereka hingga mereka tiba di depan sebuah penginapan yang berukuran lebih kecil dari penginapan lainnya. Dan seperti sebelumnya, penginapan itu memiliki kedai di lantai satu.
“Selamat datang,” Ucap pria pengurus penginapan.
“Kami ingin memesan kamar.” Ucap Vlador seraya mengeluarkan kantung koinnya.
“Malam ini kami hanya memiliki satu kamar tersisa.” Jelas pria itu.
“Itu tidak masalah.”
“Baiklah. Tolong tulis namamu di sini.” Pria itu menyodorkan buku tamu.
Merenung sejenak, Vlador menekan ujung pena di dalam kolom buku tersebut dan menuliskan sebuah nama: Dokter Garven De Lavez.
“Apa menu yang kalian miliki malam ini? Kami berencana makan malam di kedai.” Tanya Vlador seraya menggeser buku tamu itu kembali pada pemiliknya.
“Kami memiliki stew daging dan-“ Pengurus penginapan itu menghentikan kalimatnya saat ia membaca nama yang Vlador tuliskan di buku. “Dokter Garven?”
“Itu adalah namaku. Apa ada yang salah?” Tanya Vlador.
Pria itu menggeleng dan tersenyum lebar pada Vlador. “Yang salah adalah kau tidak mengatakan sejak awal bahwa kau adalah Dokter Garven. Namamu sering disebutkan di kota ini.”
Sedikit menyipitkan matanya, Vlador berusaha menyembunyikan senyuman saat pria itu menyodorkan kedua tangannya ke depan.
“Namaku Ferdinand Senov. Aku adalah pemilik penginapan ini.” Ucap pria itu. “Kau adalah Dokter Garven dari Panvilianz, benar?”
Menjabat tangan pria bernama Ferdinand itu, Vlador menjawab. “Itu benar. Aku bersama asisten sekaligus muridku, Victor Fernandez.”
“Kedatangan kalian adalah angin segar untuk Harbour, Dokter. Banyak orang telah menunggu-nunggu kedatanganmu.” Ucap Ferdinand seraya melepas tangan Vlador.
“Oh, aku tidak tahu namaku tersebar seluas itu di kota ini.” Sahut Vlador.
“Dan seperti rumornya, kau memang sangat rendah hati dibandingkan dokter-dokter lainnya. Mayor kami sempat berkata kau dan rombonganmu akan melewati kota ini untuk menyebrang ke destinasimu yang selanjutnya. Karena itu, orang-orang sakit di sini telah menanti-nantikan kedatanganmu.”
“Apakah di sini tidak ada dokter?” Tanya Vlador.
“Ada. Namun ada beberapa orang dengan penyakit yang tidak kunjung sembuh meski sudah diobati; Kau adalah harapan satu-satunya karena kau terkenal mampu mengobati sakit-sakit kronis. Selain itu, karena kota ini adalah kota pelabuhan, banyak orang sakit berasal dari berbagai kerajaan sehingga terdapat keterbatasan bahasa dengan dokter lokal. Kebanyakan dari orang-orang itu tidak dapat melanjutkan perjalanan mereka karena sakit, sehingga mereka berharap padamu yang telah berkeliling ke berbagai negara dan sedikit banyak memahami beberapa bahasa.” Jelas Ferdinand.
Mengangguk tipis, Vlador melirik Triana yang juga tengah menatapnya dengan penuh arti. Ia tidak tahu pengaruh Dokter Garven sebesar itu. Ia sedang menyamar menjadi seseorang dengan tanggungjawab yang besar.
“Kawan-kawan! Dokter Garven ada di sini bersama kita!”
Seruan Ferdinand memanggil Vlador dari lamunannya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati para tamu bangkit dari kursi mereka untuk menghampirinya dengan senyum lebar dan sapaan hangat. Hanya dalam sekejap, mereka telah dikelilingi oleh para tamu.
Merasakan tarikan kecil pada jubahnya, Vlador menoleh dan mendapati itu adalah tangan Triana. Gadis itu telah bergeser menempel padanya dengan wajah tegang.
Waktu sudah sangat larut sehingga hampir semua tamu di dalam kedai adalah pria dewasa. Kelihatannya Triana masih menyimpan trauma setelah kejadian penculikannya yang menyebabkannya mudah takut saat dikelilingi oleh banyak pria.
“Ini adalah sebuah kehormatan bagiku untuk bertemu kalian.” Ucap Vlador seraya mengambil satu langkah maju, membiarkan Triana berdiri di belakangnya. “Sayang sekali kami benar-benar kelelahan setelah perjalanan panjang dengan hanya seekor kuda. Kami berharap bisa segera beristirahat.”
“Oh, itu pasti sangat melelahkan. Kenapa kalian datang hanya dengan seekor kuda? Bukankah seharusnya kau memiliki satu rombongan kereta?” Tanya Ferdinand.
“Kami sempat dirampok dalam perjalan ke kota ini. Seluruh harta kami dirampas. Beruntung, kami masih sempat menyelamatkan seekor kuda dan peralatan medis.” Jawab Vlador.
“Bukankah penginapan ini sudah penuh, Ferdinand?” Seorang pria dengan kumis tebal dan kacamata berbingkai emas menghampiri.
“Kami hanya memiliki satu kamar tersisa.” Jawab pria itu.
Kemudian, pria berkacamata melangkah mendekati Vlador dan menjulurkan tangannya. “Perkenalkan, Dokter Garven. Aku adalah Moisey Pattriv, pemilik Hotel Agafon yang terletak dua blok dari sini.”
“Senang bertemu denganmu, Tuan Pattriv.” Vlador membalas jabatan tangan pria itu.
“Kebetulan kami memiliki beberapa kamar kosong di hotel. Jika kau mau, kami pun memiliki kamar besar dengan dua ranjang nyaman dan meja kerja. Sebuah kehormatan bagi Hotel Agafon bisa melayani dokter hebat sepertimu.” Jelas Moisey.
“Hotelmu terdengar begitu nyaman, Tuan Pattriv. Sayangnya aku telah kehilangan uangku sehingga tidak mampu membayar biaya menginap di tempat semewah itu.” Jawab Vlador.
Meletakkan tangannya di punggung Vlador, Moisey menuntunnya melangkah menuju pintu keluar. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu, Dokter. Kau bisa menginap di hotelku kapan saja dan berapa lama pun gratis.”
Tersenyum, Vlador menoleh pada Triana yang juga menatapnya dengan wajah berseri-seri. Lalu ia kembali pada Moisey dan mengangguk. “Kami sangat menghargai kebaikanmu.”
***
Triana.
Sebuah bangunan megah empat lantai terletak di jantung Kota Harbour. Bangunan itu memiliki patung-patung malaikat menempel pada dinding-dinding kokohnya.
Namun di dalam bagunan megah itu, seorang laki-laki remaja terbaring lemah tak berdaya. Yang lebih menyedihkan, ia seharusnya bisa menikmati semua kemewahan itu secara cuma-cuma karena ia adalah satu-satunya penerus Hotel Agafon.
“Tidak terhitung jumlah dokter-dokter yang telah mencoba menyembuhkan putra kami, namun sudah tiga tahun lamanya ia tidak kunjung membaik.” Ucap seorang wanita berambut pirang yang berdiri di samping ranjang yang menopang tubuh remaja laki-laki itu.
“Maaf jika aku terlihat seperti sedang memanfaatkan musibah yang menimpamu, Dokter Garven. Namun seorang ayah akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan masa depan putranya.” Ucap Moisey yang berdiri di samping istrinya, Irvian.
“Berjuang demi seorang anak bukanlah sesuatu yang memalukan, Tuan Moisey. Tentu aku akan berusaha menolong putramu, bukan karena kau telah membantuku, namun karena ia adalah pasien yang membutuhkan pertolongan.” Jawab Vlador.
“Oh, sungguh terima kasih, Dokter!” Ucap Irvian.
“Namun seperti yang kau tahu, kami sangat kelelahan sekarang. Aku tidak bisa bekerja dalam kondisi seperti ini.” Lanjut Vlador.
“Tentu saja, Dokter.” Sahut Moisey. “Tidak perlu terburu-buru. Gunakanlah waktu istirahatmu. Aku sangat mengerti bahwa menyembuhkan orang bukanlah hal yang mudah. Aku sangat menghargai profesi dokter karena aku berharap putraku akan menjadi salah satunya di masa depan.”
Vlador tersenyum dan mengangguk. Di sampingnya, Triana hanya diam karena takut salah bicara. Namun diam-diam, ia memperhatikan remaja yang tengah tertidur dengan wajah tersiksa itu.
“Baiklah. Aku akan mengantar kalian sekarang.” Ucap Moisey, menarik Triana dari fokusnya.
Naik ke lantai tiga, mereka diantar menuju sebuah kamar yang membuat kedua mata Triana berbinar saat pintunya terbuka.
Tadinya ia tidak berharap lebih besar dari sebuah kamar dengan dua ranjang terpisah. Namun ia tidak menyangka akan mendapatkan sebuah kamar mewah yang berukuran sama seperti kamarnya di Kastil Galev.
Bukan hanya memiliki dua ranjang, kamar itu juga memiliki kamar mandi, lemari besar, meja makan, set sofa, dan meja kerja. Mereka benar-benar ditempatkan di kamar kelas satu!
“Pelayan akan mengantarkan makan malam khusus ke kamar ini.” Jelas Moisey, lalu melangkah mundur dari pintu kamar. “Selamat beristirahat.”
Begitu pintu tertutup, Triana melepaskan senyum lebarnya ke permukaan. “Astaga! Kamar ini bagus sekali!” soraknya sembari melompat-lompat kecil mengelilingi ruangan luas itu.
“Jadi inilah yang dinamakan Hotel? Selama ini aku hanya mendengar namanya saja tanpa pernah bisa masuk ke dalamnya. Pamanku berkata hotel hanya ada di kota-kota besar tertentu saja. Hanya bangsawan dan orang-orang kaya yang mampu menginap di sini.” Celoteh Triana sembari duduk di kaki salah satu ranjang.
Berdiri memperhatikan Triana dari tengah ruangan, Vlador melipat lengan di depan dada. “Bukankah kamarmu lebih mewah dari kamar ini?”
Triana mengangguk. “Itu benar, namun rasanya tetap berbeda. Dan yang terpenting, kita tidak perlu berbagi kasur lagi!” soraknya seraya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
“Oh,” Vlador mengangkat satu alisnya dan melangkah mendekati Triana. “Kelihatannya kau sangat membenci tidur satu kasur denganku, benar?”
Trimakasih sudah baca, guys!
![]() |
| Celana Rok Olahraga >>> |
![]() |
| Masker Rambut >>> |


Komentar
Posting Komentar