Triana.
“Bu-bukan itu maksudku.” Ucap Triana seraya menggoyangkan kedua tangannya di depan dada. “Aku percaya kau tidak akan berbuat yang aneh-aneh padaku, Tuan Vlador. Dan kau telah membuktikannya sejauh ini.”
Vlador diam sejenak, lalu menyipitkan matanya. “Jangan membuatku tertawa. Untuk apa aku membuktikan diriku padamu, Itik?”
Mengatupkan kedua bibirnya, Triana menurunkan kedua tangannya seraya menghela. “Aku berpikir kau mungkin merasa lebih nyaman jika tidur sendirian karena kau terlihat sangat menjaga privasimu dan kurang suka berdekatan denganku.”
“Kenapa kau berpikir begitu?” Tanya Vlador.
“Eum…” Triana menundukkan kepalanya sedikit seraya menggesek-gesek kuku-kukunya sendiri. “Karena kau selalu menatapku dengan sinis saat berbaring di sampingku.”
Terdiam beberapa saat, Vlador mengangguk sekali. “Itu benar.”
Mengangkat wajahnya, Triana menatap wajah dingin Vlador dengan mata membesar. Jadi prasangkanya salama ini benar bahwa Vlador merasa tidak suka jika berdekatan dengannya? Ya, itu wajar karena sejak awal Vlador memang membenci dirinya.
Tatapan Triana melunak dan sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. “Sekarang kita sudah tidur terpisah, jadi aku tidak akan mengganggumu lagi.”
Seperti biasa, Vlador hanya diam menatap Triana tajam dengan kedua mata keemasannya.
Jauh di lubuk hati Triana, ia membayangkan apa yang ada di dalam pikiran itu. Namun ia tidak ingin mengetahuinya karena ia cukup yakin di dalam sana hanya terdapat sebuah kebencian.
Sura ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Triana menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari suasana canggung di antara mereka. Ia melompat turun dari kasur dan berlari kecil membuka pintu tersebut setelah memastikan seluruh rambutnya tersembunyi di dalam topinya.
“Selamat malam. Kami mengantar makan malam.” Sapa dua orang pelayan.
Tersenyum cerah, Triana melangkah mundur seraya membuka pintu kamar lebar-lebar. “Silahkan masuk.”
Sebuah troli berisi sup daging, roti, dan salad sayur berjalan masuk menyebrangi kamar, dan berheti di samping meja makan. Kemudian kedua pelayan itu menata makan malam yang masih mengebul tersebut di atas meja.
“Terima kasih banyak,” Ucap Triana pada kedua pelayan itu sebelum mereka keluar dari kamar.
Menatap seluruh makanan tersebut dengan liur menggenang di bawah lidahnya, Triana mendecak kagum. “Mereka terlihat sangat lezat.”
“Kalau begitu kau harus cepat makan agar perutmu tidak terus mengeluarkan bunyi mengesalkan.” Ucap Vlador, berdiri di samping Triana dengan lengan menyilang di depan dada.
“Oh, itu benar.” Triana berbalik menatap Vlador. “Kita lupa mengatakan bahwa makan malamnya hanya untuk satu orang.”
Menarik mundur salah satu kursi, Vlador memegang lengan atas Triana dan mengarahkannya untuk duduk di kursi tersebut. Kemudian ia duduk di kursi sampingnya. “Kita hanya akan membuat mereka curiga jika mengatakan hal itu. Sekarang, makanlah dengan tenang.”
Tersenyum lebar, Triana mengambil potongan roti dan pisau butter. “Aku benar-benar kelaparan. Kita sangat beruntung bisa mendapatkan ini!”
“Habiskan semuanya.”
“Ya?” Triana menoleh pada Vlador yang tengah menatapnya.
“Kau mendengarku. Habiskan semuanya tanpa sisa, termasuk bagianku.”
“Tapi ini semua terlalu jauh melebihi porsi makanku.” Sahut Triana.
“Kau harus membiasakan dirimu untuk makan yang banyak. Tidak perlu khawatir akan menjadi gemuk karena kau akan mulai bekerja keras besok.” Ucap Vlador dengan senyum tipis dan miring.
“Ke-kerja keras seperti apa?” Tanya Triana.
“Kau akan melihatnya besok. Sekarang, makanlah.” Jawab Vlador seraya menggeser manguk sup mendekat pada Triana.
Membalurkan butter ke atas rotinya, Triana mulai makan sambil terus memikirkan pekerjaan berat apa yang kemungkinan akan ia lakukan. Tadi Vlador berkata bahwa mereka akan membutuhkan pengetahuannya tentang dunia medis yang ia dapat dari buku. Seharusnya itu bukanlah hal yang sulit.
Tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di benak Triana. Ia segera menelan rotinya dengan bantuan beberapa sendok sup, lalu menatap Vlador lagi yang ternyata masih memperhatikannya untuk memastikan ia makan banyak. “Lalu apakah kau tahu bagaimana cara menyembuhkan penyakit anak Tuan Moisey?”
“Tidak.” Jawab Vlador dengan kepala bersandar di tangannya yang menopang pada sandaran kursi.
“Lantas bagaimana cara kau menyembuhkannya?” Tanya Triana.
Menatap Triana beberapa detik, Vlador menjawab, “Daripada bertanya padaku, bagaimana jika kau coba berpikir kira-kira apa yang menyebabkan anak itu sakit?”
“Hm…” Triana menatap kosong ke depan seraya mengunyah makanannya. “Wajah dan seluruh tubuh anak itu sangat pucat. Ia tertidur dengan mata terbuka setengah dan tidak terlihat pergerakan di sana. Ibunya berkata bahwa ia sudah sakit seperti itu sejak tiga tahun yang lalu setelah berenang di sungai.”
“Jadi?” Tanya Vlador saat Triana berhenti beberapa saat.
“Aku rasa ia terserang parasit.” Triana menatap Vlador serius.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
Setelah menyendokkan supnya sejenak, Triana menjawab, “Aku pernah membaca buku tentang infeksi parasit dan jamur. Totalnya ada tiga buku dari dua orang penulis yang berasal dari Nameya, dataran gersang dengan banyak binatang buas dan Marvoc, dataran yang dikelilingi pegunungan.”
Mengangguk kecil, Vlador membalas, “Lihat? Kau cocok dengan penyamaran ini.”
Mengerjapkan matanya, Triana tidak dapat menahan bibirnya untuk tersenyum. “Menurutmu begitu?”
“Aku tidak bermain-main dengan kalimatku.” Jawab Vlador, lalu melanjutkan, “Dan kau menguasai beberapa bahasa, benar? Berapa bahasa yang kau bisa?”
“Aku menguasai tujuh bahasa dengan fasih dan dua belas bahasa secara dasar.” Jawab Triana.
“Aku hanya fasih dalam tiga bahasa dan mengenal lima secara dasar.” Ucap Vlador seraya menyandarkan punggungnya ke belakang. “Mereka berkata Dokter Garvin menguasai banyak bahasa. Itu artinya kemampuanmu akan sangat berguna di sini.”
“Aku? Berguna?” Senyum Triana semakin melebar.
Vlador mengangguk lagi. “Bersiaplah untuk menggunakan otakmu dan hal-hal yang selama ini telah kau baca.”
Menggenggam sendoknya erat, Triana mengangguk kuat dengan mata berapi-api. “Baiklah! Aku akan berusaha semaksimal mungkin!”
“Itu adalah semangat yang aku harapkan.” Vlador tersenyum tipis sambil mengangguk kecil.
“Tapi…” Pundak Triana turun dan ia meletakkan kedua tangannya ke atas meja kembali. “Untuk membuat diagnosa penyakit, aku cukup takut. Yang kita lakukan ini berhubungan dengan nyawa seseorang. Aku rasa pengetahuanku belum secukup itu.”
Menghela panjang, Triana bergumam, “Andai aku membaca buku jauh lebih banyak selama ini.”
“Tadi aku melihat ada perpustakaan besar di dekat sini. Kau bisa membaca buku di sana.” Ucap Vlador.
“Benarkah?” Triana mengangkat wajahnya dan menatap Vlador dengan mata berbinar. Kemudian ia berdehem seraya menurunkan pandangannya pada mangkuk supnya yang hampir kosong. “Tapi… apakah boleh jika kau menemaniku di sana? Kota ini adalah tempat baru bagiku, jadi aku merasa agak takut jika berkeliaran sendirian.”
Mendapati Vlador hanya diam, Triana menaikkan pandangannya untuk mengintip ekspresi apa yang pria itu buat. Apakah ia akan menolak permintaannya dan bahkan memarahinya?
Sejujurnya, Triana tidak setakut itu untuk berada di perpustakaan sendirian. Ia hanyalah gadis memalukan yang rela berbohong agar bisa merasakan berduaan bersama seorang pria menyenangkan seperti Vlador di perpustakaan sambil membaca buku. Itu adalah hal menyenangkan yang pernah ia impikan saat remaja.
“Tentu.”
Jawaban Vlador memanggil Triana dari lamunannya. Ia mengangkat wajahnya untuk menatap wajah pria itu dan tidak mendapatkan ekspresi tidak suka di sana.
Vlador bersedia menemani Triana. Kelihatannya itu benar bahwa Vlador tidak sejahat itu. Ia mungkin ketus dan berusaha terlihat kejam, namun sebenarnya ia memiliki sisi lembut pada dirinya. Semua itu membuat Triana harus menahan senyum.
“Maaf jika aku makan sendirian seperti ini. Kau pasti juga lapar,” Ucap Triana untuk memecah kecanggungan seraya menarik mangkuk saladnya mendekat.
“Kau benar. Aku sangat kelaparan.” Jawab Vlador, lalu mengarahkan tatapannya pada leher terbuka Triana. “Apa kau akan memberiku makan?”
Melesatkan kedua tangan untuk menutup lehernya, Triana menggeleng. “Tidak.”
Menyipitkan matanya, Vlador mendesis, “Jangan bertanya jika kau tidak bisa berbuat apa pun.”
***
Vlador.
Sebuah corong kerucut panjang melekat di atas dada Dimitri.
Vlador meletakkan telinganya di sisi lain corong tersebut yang berukuran jauh lebih kecil dari sisi satunya. Kemudian, ia memejamkan mata. Ia terlihat sedang mendengarkan detak jantung anak laki-laki itu dengan bantuan alat tersebut, namun yang sebenarnya terjadi adalah ia menggunakan kemampuan mendengar vampirnya yang berpuluh kali lipat jauh lebih tajam.
“Terdapat gangguan pada aliran darahnya. Kelihatannya ada cukup banyak sumbatan.” Ucap Vlador seraya membuka sarung tangannya. “Dari gejalanya, ia kemungkinan terserang parasit.”
“Parasit?” Ulang Moisey dan istrinya bersamaan.
Vlador mengangguk sekali. “Kemungkinan besar itu adalah parasit dari danau. Kami akan mencari herbal untuk obat pembunuh parasitnya.”
“Baiklah, Dokter Garven. Gunakanlah waktumu dan jangan sungkan meminta apa pun padaku jika kau membutuhkan sesuatu. Terima kasih banyak.” Ucap Moisey.
“Itu tidak masalah.” Jawab Vlador, lalu menoleh pada Triana. “Kita pergi sekarang, Victor.”
“Baik, Dokter.” Jawab Triana dengan suara yang berusaha ia beratkan.
Turun menuju pintu hotel, Vlador memperlambat langkahnya saat mendapati banyak orang telah berkerumun di luar.
Ia menoleh pada Triana yang menatap kerumunan itu dengan mata terbelalak hingga membuatnya terkekeh kecil. “Bersiaplah untuk bekerja keras, asistenku.”
Trimakasih sudah membaca, guys! Jangan lupa supportnya 🥰🙏
![]() |
| Haircare >>> |
![]() |
| Outfit Baby >>> |


Komentar
Posting Komentar