Langsung ke konten utama

46. Satu-satunya Pilihan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador.

“Dari sekian banyak orang, kenapa kau memilih pria itu?” Bisik Triana.

“Aku dapat mencium aroma uang yang kuat darinya.”

“Kau sungguh bisa?” Kedua alis Triana terangkat tinggi.

“Apa yang mengkhawatirkanmu?” Tanya Vlador.

“Dari wajahnya, ia terlihat sangat kelelahan. Kelihatannya penyakit istrinya sangat berat, yang mungkin tidak akan sanggup kita obati.” Jelas Triana.

“Tidak masalah jika kita gagal. Kita bukan satu-satunya dokter yang gagal menyembuhkan pasien di kota ini. Namun yang terpenting, kita bisa menarik uang dari mereka dengan sedikit penjelasan.”

“Oh, Tuan Vlador… kau sangat kejam.” Triana menggeleng-geleng.

“Kau pikir kita bisa sampai di sini dan kau bisa menikmati kamar tidur nyaman dan makan kenyang jika aku tidak kejam?” Tanya Vlador, menaikkan satu alisnya. “Aku sudah mengatakannya padamu: Jika ingin mendapatkan sebuah hal, akan ada hal lainnya yang harus dikorbankan.”

Menundukkan wajahnya, Triana menghela panjang. “Ternyata yang kejam adalah dunia ini.”

“Dunia ini tidak kejam. Cara kerjanya memang seperti itu.” Sahut Vlador, menatap ke luar jendela.

Tidak lama, kereta kuda mereka berhenti di depan pintu sebuah mansion. Turun dari kereta tersebut, Vlador dan Triana disambut oleh kepala pelayan masion dan tiga pelayan lainnya.

“Selamat datang di rumah sederhana kami, Doker Garven dan Tuan Victor. Istriku ada di dalam.” Ucap Lexi, pria yang sebelumnya memohon-mohon agar Vlador mengunjungi istrinya.

Senyum tipis menghiasi wajah Vlador. Ia mengangguk dan melangkah. Di sampingnya, Triana mengikuti sambil menatap sekeliling.

Hidup selama ratusan tahun memberikan Vlador kemampuan untuk menilai orang-orang kaya hanya dengan melihat penampilan dan cara mereka bicara. Meski Lexi nampak kusut dan lesu, itu tidak menutup ciri-ciri yang dimiliki orang dengan banyak kekayaan.

Lexi mengantar mereka menuju sebuah kamar megah yang terletak di lantai tiga. Di sana, sebuah ranjang besar menopang tubuh seorang wanita agak gemuk yang tengah berbaring dengan mata tertutup.

“Vera.” Lexi duduk di pinggir ranjang, lalu mengusap pipi wanita itu dengan punggung tangannya.

Kedua mata Vera terbuka, menampakkan sepasang iris biru cerah. “Lexi,”

“Ya, ini aku.” Lexi tersenyum lembut. “Aku sudah membawanya, sayang. Dokter Garven telah datang untuk menyembuhkanmu.”

Kemudian Lexi membantu istrinya duduk untuk menghadap Vlador dan Triana. “Perkenalkan, ia adalah istriku dan ibu dari ketiga anakku, Vera Berrayard.”

“Terima kasih telah menyempatkan diri untuk datang ke sini. Maaf jika aku terlihat berantakan seperti ini.” Ucap Vera seraya membenahi rambutnya.

Menjulurkan tangannya, Vlador menggeleng sekali. “Perjuangan suamimu yang membawaku ke sini. Kau terlihat cantik, Nyonya Berrayard.”

“Terima kasih, Dokter Garven.” Vera menjabat tangan Vlador dengan mata berkaca-kaca.

“Sekarang, bisakah aku mulai memeriksa Nyonya Berrayad? Setelah ini, kami harus pergi mencari obat-obatan yang cukup penting.” Tanya Vlador pada Lexi.

“Oh, tentu saja.” Jawab Lexi seraya melangkah mundur.

Vlador menoleh pada Triana, dan mengangguk sekali. Kemudian mereka menghampiri Vera dan menyuruhnya berbaring.

“Dan, Tuan Berrayad,” Ucap Triana seraya membuka tasnya dan mengambil sebuah buku catatan. “Kami kehabisan herbal dan obat-obatan karena kerampokan. Herbal dan obat-obatan merupakan hal yang sangat penting dalam pekerjaan kami. Karena itu, aku berpikir kau mungkin memiliki simpanan herbal dan obat-obatan yang bisa kami pinjam di mansion indah ini.”

“Tentu saja kami punya, Tuan Victor. Kau bisa mengambil sesukamu tanpa harus meminjamnya.” Jawab Lexi.

“Kau adalah pria dermawan, Tuan. Bisakah kau mengantarku ke ruang penyimpanan itu?”

“Itu tidak perlu, Tuan Victor. Pelayan-pelayanku akan membawakan semuanya ke ruangan ini. Aku harap itu akan mempermudah kalian.” Sahut Lexi seraya melangkah cepat menuju pintu kamar. “Aku akan segera kembali.”

“Maaf sudah mengganggu jadwal kalian.” Ucap Vera.

“Kau tidak perlu memikirkannya.” Sahut Triana seraya melangkah menghampiri Vlador yang sedang memeriksa pergelangan tangan Vera. “Doker Garven, apakah kau membutuhkan sesuatu?”

“Aku butuh kalian sunyi sejenak.” Jawab Vlador, membuat Triana dan Vera sama-sama mengatupkan bibir mereka.

Memejamkan mata, Vlador berusaha mendengar desiran darah yang mengalir di tubuh Vera. Seperti orang-orang sakit lainnya, wanita itu memiliki aliran darah yang lemah dan memiliki jumlah darah yang sedikit. Namun ada aroma aneh yang keluar dari tubuh gemuknya.

“Nyonya Berrayard,” Vlador membuka mata. “Bolehkah aku mengambil sedikit darahmu untuk memeriksanya?”

“Tentu.” Jawab Vera.

Kemudian Vlador menoleh pada Triana. “Victor, tolong ambilkan jarum.”

Mata Triana membesar dan tubuhnya mematung. Ia hanya menatap Vlador, membuat Vlador memutuskan untuk menajamkan tatapannya.

“Baik.” Ucap Triana sebelum menghampiri tasnya. Kemudian ia kembali dengan sebuah kotak kayu seukuran tangan dan mengambil sebuah jarum sepanjang jari telunjuk dari sana. “Silahkan, dokter.”

“Aku akan menusuk jarimu.” Jelas Vlador pada Vera, lalu menusukkan jarum tersebut ke ujung telunjuk wanita itu.

Menekan kedua sisi ujung jari Vera, Vlador meneteskan darah wanita itu ke dalam sebuah mangkuk keramik kecil. Setelah mendapatkan beberapa tetes, ia melepaskan tangan dingin tersebut.

“Terima kasih. Aku akan memeriksanya sebentar.” Ucap Vlador sebelum bangkit berdiri.

Kemudian ia melangkah menuju salah satu sisi ruangan untuk memunggungi orang-orang. Menatap genangan darah di dalam mangkuk membuatnya harus menahan agar taringnya tidak muncul keluar. Irisnya berubah merah dan ia harus menahan napas.

Vlador tidak pernah menyangka ia harus melakukan hal seperti ini untuk mendapatkan uang. Ketika vampir dianggap sudah punah, ia tidak lagi bisa membantai untuk mendapatkan uang.

Melirik ke kanan dan kiri, Vlador menyesap darah itu ke dalam mulutnya sambil memejamkan mata. Setelah darah itu tertelan, matanya terbuka dengan iris yang sudah kembali menjadi coklat emas.

Ada sesuatu yang telah mati di dalam tubuh Vera.

Menghampiri pintu kamar, Vlador membukanya dan mendapati Lexi tengah berdiri tepat di depan pintu tersebut. “Tuan Barrayard, ada yang perlu aku bicarakan.”

***

Triana.

“Mengandung?” Ulang Lexi dan Vera hampir bersamaan.

Vlador mengangguk sekali. “Nyonya Barrayard memiliki calon bayi yang telah mati di dalam kandungannya. Kemungkinan itu sudah cukup lama.”

“Oh, ya Tuhan… bagaimana aku bisa tidak menyadarinya?” Tangis Vera.

“Lalu apa yang bisa kami lakukan, Dokter Garven?” Tanya Lexi.

“Mayat itu harus segera dikeluarkan atau ia akan meracuni tubuh ibunya lebih parah lagi. Jika terus dibiarkan, Nyonya Barrayard akan kehilangan nyawanya.” Jelas Vlador.

“Dokter,” Lexi memegang kedua tangan Vlador dan menatapnya dengan mata berair dan keringat menggenangi keningnya. “Aku mohon selamatkan istriku. Aku akan memberikan berapapun yang kau minta.”

“Mengeluarkan bayi dari kandungan bukanlah hal mudah, namun kami akan melakukannya jika kalian bersedia menerima resikonya.”

Kalimat Vlador membuat mata Triana terbelalak. Meski begitu, ia berusaha menahan agar ekspresi wajahnya tetap tenang.

Apa lagi yang sedang Vlador rencanakan? Mereka tidak mungkin mampu mengeluarkan bayinya. Mereka tidak tahu caranya.

“Apa resikonya, dokter?” Tanya Lexi.

“Kemungkinan untuk kehabisan darah hingga menyebabkan kematian.” Jawab Vlador.

“Ke-kematian?” Ulang Lexi.

“Aku percaya kau mengetahui betapa banyak kematian yang terjadi dalam prosedur pengobatan ekstrim seperti pembedahan. Itu adalah resiko yang tidak bisa dihindari, bahkan oleh dokter terhebat di dunia sekalipun.” Jelas Vlador.

“Apakah tidak ada cara lain?” Tanya Vera dengan suara bergetar.

“Maaf, Tuan dan Nyonya Barrayard. Kalian hanya memiliki dua pilihan: melakukan prosedur pengobatan dengan resikonya atau tidak melakukan prosedur dengan kepastian bahwa darah Nyonya Barrayard akan keracunan tidak lama lagi dan mengantarkannya pada kematian.”

Di samping Vlador, Triana hanya bisa meneguk liur. Ia bahkan tidak tahu apakah Vlador mengatakan itu semua berdasarkan fakta atau hanya mengarang cerita. Namun ia tidak bisa memungkiri betapa hebatnya pria itu bermain peran menjadi dokter hingga membuat semua orang sangat mempercayainya.

“Bisakah kami berbicara berdua sebentar, dokter?” Tanya Lexi.

Vlador mengangguk. “Tentu. Aku dan muridku akan menunggu di luar.”

Begitu Vlador bangkit dari kursinya, Triana segera mengekori langkahnya keluar dari kamar.

“Tuan Vlador,” Panggil Triana setengah berbisik, seraya mengikuti langkah lebar Vlador di koridor mansion.

Tiba-tiba Vlador menghentikan langkah hingga Triana menabrak punggung besarnya. “Ouch! Maaf,”

“Persiapkan ramuan bius.” Ucap Vlador.

“A-apa?”

“Aku harap kau mengetahui bagaimana cara membius orang.” Vlador menatap Triana sambil melipat lengan di depan dada.

“Tu-tunggu,” Triana mengerjap sambil menggelengkan kepalanya sekilas untuk menata pikiran. “Jadi kita benar akan mengeluarkan bayinya?”

“Kau pikir aku hanya bermain-main dari tadi?” Vlador menyipitkan mata.

Merasakan lemas pada kedua lututnya, Triana bersandar pada bingkai jendela besar di samping mereka. “Tidakkah… kau berpikir itu terlalu berat untuk kita kerjakan, Tuan Vlador?”

“Pekerjaan besar untuk bayaran besar. Jika kita tidak melakukan hal-hal seperti ini, uangnya akan terlalu lama terkumpul.” Jelas Vlador. Lalu ia menarik kedua pundak Triana untuk menghadapnya. “Aku tidak yakin menjarah orang-orang kaya di kota ini akan mempermudah kita menaiki kapal.”

Menundukkan wajahnya, Triana menggeleng pelan. “Itu benar.”

“Maka kumpulkanlah keberanianmu dan gunakanlah kemampuanmu.” Ucap Vlador.

 
Trimakasih sudah membaca guys!

Lipstik >>>

Celana Cargo >>>



Komentar