Triana.
Menambah beban pada jantungnya setelah berbagai kejutan gila yang harus ia terima selama beberapa hari ini, Triana tidak percaya Lexi dan istrinya setuju pada prosedur pembuangan bayi yang Vlador tawarkan.
Menggigit bibir bawahnya, Triana mengantarkan segelas ramuan bius ke atas meja yang terletak di samping ranjang kecil.
“Kau akan baik-baik saja, sayang. Setelah terbangun, kau sudah sembuh.” Ucap Lexi pada Vera.
“Nyonya Berrayard bisa meminum obat biusnya.” Ucap Vlador.
Kemudian Lexi mengambil gelas berisi ramuan bius dan membantu Vera untuk meminumnya. “Jangan takut. Aku akan menunggumu. Bangunlah dan kembalilah menjadi sehat setelahnya. Aku akan membawamu mengunjungi ladang bunga yang dahulu sering kita kunjungi saat kita muda.”
Tersenyum lembut, Vera mengangguk dan meminum ramuannya. “Aku akan segera sembuh dan menghabiskan waktu bersama kalian lagi.”
“Tentu saja kau akan sebuh, sayangku.” Sahut Lexi seraya membelai kepala Vera. “Aku mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Lexi.” Jawab Vera sebelum mengecup bibir suaminya. Lalu ia berbaring dan memejamkan mata.
Meninggalkan pinggir ranjang, Lexi menghadap Vlador dan Triana. “Maaf kalian harus melihat ini.”
“Itu cukup memakan waktu-“
Triana segera menyikut pinggang Vlador dan menimpali kalimat tidak berperasaan pria itu. “Itu bukanlah sesuatu yang membutuhkan permintaan maaf, Tuan Berrayard. Kami mengerti kau sangat mencintai dan mengkhawatirkan istrimu.”
“Terima kasih, Tuan Victor.” Ucap Lexi.
“Obat biusnya sudah mulai bekerja. Kami harus segera memulai prosedurnya.” Ucap Vlador seraya mengarahkan tangannya ke arah pintu kamar yang hanya memiliki dua jendela yang tertutup tirai.
Begitu Lexi keluar dari kamar itu, Triana mengunci pintunya dari dalam. “Aku pikir kau terlalu kasar, dokter.”
“Mereka membuang-buang waktu kita.” Sahut Vlador seraya memeriksa bahwa Vera benar-benar sudah tidak sadarkan diri.
“Kau hanya akan memperburuk reputasimu.” Desis Triana seraya menyiapkan obat bius tambahan di atas meja.
“Melihat bagaimana mereka bahkan bersedia berlutut di hadapanku untuk mendapatkan perawatan, aku rasa itu tidak akan terjadi.” Balas Vlador.
“Kau bahkan menyombongkan sesuatu yang bukan milikmu,” Gumam Triana.
“Mulai bersihkan tanganmu.” Perintah Vlador.
Membalik tubuhnya, Triana mendapati Vlador telah membersihkan tangannya dengan air yang telah diberi larutan antiseptik. Ia menghampiri pria itu dan menyiapkan baskom lain untuk mencuci tangan.
“Apa lagi yang perlu aku siapkan, Tuan Vlador?” Tanya Triana ketika ia hampir selesai.
“Lumuri tanganmu dengan minyaknya.” Jawab Vlador seraya menarik gaun tidur Vera ke atas hingga ke perutnya.
Pemandangan itu membuat Triana membuang pandangannya ke samping. Ia tidak pernah melihat tubuh polos orang lain kecuali kedua saudarinya. Itu cukup mengejutkan bagaimana Vlador nampak biasa saja saat membuka pakaian seorang wanita bersuami meski ia bukan dokter sungguhan.
“Ke-kenapa aku harus melumuri tanganku dengan minyak? Aku akan kesulitan menyiapkan peralatan untukmu.” Tanya Triana.
“Ke mana kau melihat, Itik? Pasien kita ada di sini.” Ucap Vlador, membuat Triana terpaksa meluruskan pandangannya ke depan meski harus menahan napas.
“Kau yang akan menarik mayat bayinya keluar.” Kalimat Vlador selanjutnya membuat mata Triana terbelalak.
“A-apa? Aku tidak bisa melakukan itu. Apa kau sudah gila?” Triana nyaris tersedak.
“Tanganmu jauh lebih kecil dari milikku.” Jelas Vlador seraya mengatur kedua kaki Vera untuk menekuk dan membuka keduanya lebar-lebar. “Jangan banyak membantah. Lakukan sebelum obat biusnya habis.”
“A-aku tidak bisa, Tuan Vlador. Tolonglah…” Mohon Triana dengan suara bergetar.
“Lakukanlah.” Ucap Vlador datar. “Kau bisa melakukannya. Aku akan memandumu.”
Meneguk liur, Triana berusaha menahan tangis. “Aku takut membuat kesalahan. Aku takut malah akan membunuhnya.”
“Mereka sudah menandatangani surat perjanjiannya. Kita tidak akan disalahkan jika wanita ini mati.” Sahut Vlador.
“Bukan itu,” Triana menggeleng. “Ia adalah seorang istri yang sangat dicintai oleh suaminya dan ibu dari tiga orang anak. Jika ia mati di tanganku… aku mungkin bisa gila.”
“Itu adalah resiko yang harus kau terima. Kau tidak lagi berada dalam posisi seorang Lady yang memiliki banyak pilihan, Itik. Suka atau tidak suka, ini adalah hal yang harus kau lakukan.” Jelas Vlador tegas. “Jika kau yang melakukannya dengan tangan kecilmu itu, peluang untuk berhasil akan lebih besar.”
Masih menahan air matanya, Triana menghampiri botol minyak dan membuka penutupnya. Vlador benar bahwa ia tidak bisa lagi banyak memilih seperti dahulu. Ia harus melakukan berbagai hal yang begitu sulit dan terasa mustahil baginya untuk bisa bertahan hidup.
“Bagus. Kumpulkanlah keberanianmu. Anggap saja kau sedang belajar.” Ucap Vlador sambil menahan kedua lutut Vera. Lalu ia menurunkan satu tangannya untuk menunjuk jalan lahir wanita itu. “Masukkan tanganmu ke sini.”
“To-tolong perhatikan apakah aku melakukannya dengan benar,” Pinta Triana seraya menjulurkan tangannya ke depan. Begitu ujung jemarinya menyentuh benda itu, ia menutup mata sambil meringis. “Aku tidak yakin tanganku bisa masuk ke dalam.”
“Buka matamu jika kau tidak mau melakukan kesalahan. Apakah kau belajar dengan mata tertutup?” Omel Vlador, lalu melanjutkan. “Benda itu dapat mengeluarkan bayi yang ukurannya tiga kali lipat tanganmu.”
“Ugh… Aku sungguh minta maaf, Nyonya Barrayard.” Gumam Triana seraya memasukkan tangannya ke dalam benda sempit dan panas itu. “Ya Tuhan…”
“Ingatlah bahwa kau sedang belajar. Jangan melihat benda itu sebagai bagian dari seseorang, namun lihatlah itu sebagai bagian dari tubuh manusia yang sedang kau pelajari.” Ucap Vlador.
Mendecak, Triana menatap Vlador yang berada di atas kepalanya. “Apakah kau adalah seorang dokter untuk mengatakan itu semua padaku?”
Menaikkan satu alisnya, Vlador menjawab. “Aku mungkin tidak menggunakan prinsip itu sebagai seorang dokter. Tapi aku menggunakannya saat sedang makan.”
Kalimat Vlador membungkam mulut Triana. Ia berusaha mengendalikan napasnya sebelum menggerakkan tangannya lebih jauh ke dalam tubuh Vera. “Aku tidak tahu tanganku sudah berada di mana. Apakah aku harus mencari bayinya?”
Vlador mengangguk. “Itu benar. Kita tidak tahu ramuan penggugur kandungan itu akan bekerja atau tidak.”
“Aku rasa itu akan sia-sia untuk bayi yang telah mati. Namun aku harap ramuannya bisa membuka jalan lahirnya agar aku bisa menarik bayi itu dari tempatnya.” Balas Triana sambil memejamkan mata.
Setelah beberapa menit berada di dalam, tangan Triana akhirnya menyentuh sesuatu yang terasa janggal. Matanya terbuka lebar dan ia menaikkan pandangannya untuk menatap Vlador. “Aku rasa aku menemukannya.”
“Bagus. Bagaimana bentuknya?” Tanya Vlador langsung.
“Ini agak keras. Ukurannya seperti kepalan tangan pria dewasa.” Jelas Triana dengan napas agak terengah.
“Itu pasti adalah bayinya.” Ucap Vlador, lalu mengambil handuk kecil untuk menyeka keringat yang menggenangi kening Triana. “Tarik benda itu keluar perlahan. Kau bisa melakukannya.”
Sambil menahan napas, Triana menarik keluar benda teraneh yang pernah ia sentuh itu. Ia harap ia tidak menyakiti Vera dan wanita itu tidak akan terbangun ketika ia sedang melakukan tindakan gila itu.
Setelah cucuran keringat dan lengan yang gemetaran dan keram, Triana berhasil mengeluarkan mayat bayi Vera.
“I… ini seperti…” Gumam Triana seraya melepas bayi itu dari tangannya dan terjatuh duduk di atas lantai dengan pandangan berangsur menggelap. “Aku rasa… aku akan muntah,”
“Bayinya telah berubah menjadi gumpalan daging.” Ucap Vlador, meraih mayat bayi yang tergeletak di dalam baskom. Kemudian ia menoleh pada Triana. “Sebaiknya kau segera mengumpulkan nyawamu kembali sebelum wanita ini siuman.”
Mengangguk kecil, Triana bangkit berdiri perlahan. “Aku akan mencuci wajahku di kamar mandi dan membawa baskom untuk membersihkan Nyonya Berrayard.”
Kemudian Triana masuk ke dalam kamar mandi kamar itu. Ia menghampiri tub mandi yang sebelumnya telah diisi penuh dengan air hangat. Setelah membasuh wajahnya hingga segar, ia mengambil baskom dan mengisinya dengan air tersebut.
“Aku tidak percaya aku melakukan hal ini.” Gumam Triana seraya menggantungkan handuk di atas pundaknya dan mengangkat baskom yang penuh dengan air. “Ini benar adalah pekerjaan yang berat.”
Meski baru saja nyaris pingsan, Triana harus mengangkat benda berat yang biasanya dibawakan oleh pelayan-pelayan Kastil Galev untuknya membasuh kaki. Kini ia harus melakukannya untuk orang lain dan ia baru menyadari bahwa itu bukanlah pekerjaan yang mudah.
Membuka pintu kamar mandi lebih lebar dengan kakinya, Triana melangkah keluar. Namun ia terhenti ketika mendapati Vlador sedang memakan sesuatu dengan kedua tangan dan mulut penuh darah.
BRAK!
Air hangat menyiram kaki Triana dan menggenangi lantai. Suara baskom kayu yang terjatuh membuat Vlador mengangkat pandangannya dan langsung menatap Triana dengan kedua iris merahnya.
Trimakasih sudah membaca! 🥰💜


Komentar
Posting Komentar