Langsung ke konten utama

48. Seorang Gentleman // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador

Tangannya menggantung di bawah dagunya. Matanya menatap sosok gadis yang berdiri mematung di depan kamar mandi.

Butuh beberapa detik hingga mata terbelalak Triana mengerjap. Sedetik setelahnya, ia menundukkan wajah dan menyambar baskom kayu yang tergeletak di atas lantai.

“Maaf.” Ucap Triana sebelum kembali masuk ke dalam kamar mandi, dan menutup pintunya.

Menurunkan pandangannya, Vlador menatap gumpalan daging dan darah di tangannya. Ia termenung beberapa detik dengan rahang mengeras.

Itu hanyalah daging dan darah manusia. Ia tidak pernah peduli pada apa yang ia makan dari seorang manusia. Baginya, semua adalah sama.

Namun ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba selera makannya menghilang, bahkan ketika ia belum merasa kenyang.

Memasukkan potongan daging itu ke dalam kantung kain, Vlador tidak dapat berhenti menggigit rahangnya sendiri.

Sebenarnya apa yang membuatnya merasa kesal? Kenapa ia harus menyuruh Triana pergi hanya untuk bisa makan dengan tenang?

***

Triana.

Koin emas adalah hal yang biasa Triana lihat dan sentuh. Sejak kecil, ia terbiasa memiliki koin emas di dalam sakunya dan tanpa sungkan menghabiskannya.

Namun, sekarang, matanya tidak bisa berhenti berbinar saat menatap kantung berisi koin-koin emas yang berada di hadapannya.

“Aku tahu apa yang aku berikan tidak sebanding dengan nyawa istriku yang berhasil kalian selamatkan. Aku sungguh berterima kasih.” Ucap Lexi.

“Sebagai dokter, sudah sepatutnya aku memberikan yang terbaik agar sebuah nyawa bisa terselamatkan.” Jawab Vlador, lalu melanjutkan, “Kau bisa memastikan Nonya Berrayard meminum obatnya sesuai jadwal hingga satu minggu ke depan. Kami masih berada di hotel yang sama selama beberapa hari ini jika sesuatu terjadi.”

“Aku rasa kami tidak akan mengganggumu lagi, Dokter Garven. Putriku bahkan sudah mampu berjalan dan terlihat sangat sehat tidak lama setelah siuman. Itu benar bahwa kau memiliki tangan yang diberkati Tuhan.” Ucap Marriet, ibu Vera. Kemudian ia beralih menatap Triana sambil tersenyum lebar. “Dan kau memiliki murid yang sangat manis dan berbakat, Dokter.”

Mengatupkan kedua bibirnya, Triana memaksa senyum canggung sambil menundukkan wajahnya sedikit. “Aku sedang belajar pada guru yang hebat. Terima kasih untuk pujiannya.”

“Bolehkah aku tahu berapa umurmu, tuan muda?” Tanya Marriet.

“Tujuh belas, Nyonya.” Jawab Triana.

“Oh, kau masih sangat muda. Dan itu benar bahwa wajahmu nampak cantik seperti perempuan. Pantry kami agak berisik dengan bisikan-bisikan yang membahas tentangmu, Tuan Victor. Kau pasti banyak diidolakan gadis-gadis remaja.” Tawa Marriet.

“Berhentilah menggodanya, Ibu. Ia bukan anak laki-laki sembarangan. Ia yang membantu Dokter Garven menyelamatkan Vera.” Tegur Lexi.

“Aku percaya Tuan Victor mengerti bahwa aku hanya bercanda.” Marriet mengedipkan sebelah matanya pada Triana.

“Sebuah kehormatan bagi kami berkesempatan melayani keluarga Barrayard. Namun kami harus segera pergi mengumpulkan obat.” Ucap Vlador.

“Itu benar. Kebetulan ada banyak hal yang harus kami lakukan.” Triana segera menimpali.

“Baiklah. Kereta kami akan mengantar kalian ke tempat tujuan kalian. Aku dengar kalian tidak alam lama berada di kota ini. Jika suatu saat kalian membutuhkan sesuatu, jangan sungkan datang padaku. Meski tidak banyak, aku akan berusaha membantu.” Jelas Lexi.

“Aku akan mengingatnya.” Jawab Vlador sementara kusir membukakan pintu kereta untuknya. “Kalau begitu, selamat tinggal.”

Setelah Vlador masuk ke dalam kereta kuda, Triana ikut masuk ke dalamnya. Begitu pintu ditutup, ia tidak kuasa merebahkan punggungnya ke belakang. “Aku tidak tahu berbasa-basi dengan orang lain akan semelelahkan ini.”

Menatap Triana datar, Vlador menyahut, “Bukankah itu adalah hal biasa yang dilakukan bangsawan?”

“Kau benar, namun itu jauh lebih menguras jiwaku ketika aku harus berpura-pura menjadi seorang pria.” Jawab Triana sebelum menghela panjang. “Setidaknya mereka tidak mencurigaiku meski menganggap wajahku mirip seperti wanita.”

Melihat jendela di sampingnya, Triana menatap pantulan bayangannya selama beberapa saat. Kulitnya nampak kusam dan kedua matanya nampak lelah. Helaian anak rambutnya yang keluar dari topi lusuhnya juga berantakan.

“Aku tidak pernah terlihat sejelek ini.” Gumam Triana.

“Wanita tua bawel tadi berkata berkata bahwa kau cantik. Ia juga mengatakan para pelayan perempuan menyukaimu.” Ucap Vlador, menyandarkan pipinya di kepalan tangannya sambil menatap Triana.

Terkekeh kecil, Triana mengalihkan pandangannya dari kaca jendela pada Vlador. “Jika dipikir, aku tidak pernah begitu disukai oleh perempuan dan tidak dilirik oleh laki-laki. Dan aku tidak pernah menyangka mengenakan celana ternyata senyaman ini.” Ucapnya seraya menggerak-gerakkan kakinya.

“Kau sudah bekerja keras,” Ucap Vlador, membuat tawa kecil Triana menghilang. “Aku tidak tahu jadwal makan manusia, jadi kau harus mengatakannya jika kau merasa lapar agar kau tidak mudah sakit.”

Menatap Vlador beberapa saat, Triana mengerjap. “Ya, terima kasih.”

Kemudian, Triana menolehkan wajahnya ke jendela, dan menatap ke luar. Lagi-lagi jantungnya berdebar keras. Ia harap Vlador tidak mendengarnya, namun ia tidak yakin karena ia dapat melihat dari ekor matanya bahwa pria itu masih memperhatikannya.

Kenapa Vlador harus peduli padanya sampai sejauh itu?

Triana mengerti bahwa Vlador hanya tidak ingin ia sakit karena ia akan menyusahkan pria itu dan menghambat perjalanan mereka. Namun seharusnya Vlador memberitahunya dengan teguran kasar atau bahkan cacian. Setidaknya dengan begitu, rasa panas tidak akan memanggang wajah Triana.

***

Triana.

Terkurung di dalam kereta kuda berdua bersama Vlador membuat napas Triana sesak. Bukan karena mereka kekurangan udara, namun karena kecanggungan terasa seperti tali tambang yang melilit leher ringkihnya.

Beruntung, Marriet sempat membungkuskan sekotak roti isi untuk perbekalan mereka sehingga Triana dapat mengalihkan fokusnya dari kecanggungan sekaligus mengisi perutnya yang kelaparan setelah bekerja keras.

Tidak lama, mereka tiba di perpustakaan kota yang disempat disebutkan Vlador.

“Ini adalah perpustakaan yang sangat besar!” Ucap Triana dengan bisikan.

“Sebagai kota pelabuhan, banyak pelancong singgah di kota ini sehingga semakin banyak juga buku yang disumbangkan. Perpustakaan ini berusia lebih dari dua ratus tahun.” Jelas Vlador dalam langkah kecil mereka menyusuri lorong rak buku.

“Kau pernah datang ke sini?” Mata Triana membesar.

Vlador mengangguk. “Hanya satu kali, ketika aku kecil. Saat itu, tempat ini hanya berupa sebuah rumah yang berantakan oleh gulungan kertas.”

Membayangkan sosok Vlador kecil bermain di dalam perpustakaan sempit membuat Triana tidak kuasa tersenyum geli. “Apa saat kecil kau senang membaca buku hingga datang ke tempat ini?”

“Tidak juga. Aku datang bersama seseorang yang ingin menyumbangkan gulungan-gulungan kertasnya.” Jawab Vlador seraya menatap kosong ke depan.

Triana tidak tahu siapa orang yang Vlador maksud. Mungkinkah itu keluarganya? Apakah itu ibunya? Siapa pun itu, ia mampu membuat Vlador yang sekarang termenung. Meski begitu, Triana tidak melihat ada raut kesedihan di sana.

“Apa kau sudah menemukan buku-bukunya?”

Mata Triana melebar saat Vlador tiba-tiba menoleh padanya dengan kening mengkerut.

“A-aku pikir buku-bukunya ada di bagian ini,” Triana menunjuk rak buku di sebrangnya, lalu bergeser menjauh. “Aku akan memeriksanya sebentar.”

Selesai memeriksa, Triana mengambil beberapa buku dan gulungan kertas. Lalu ia menghampiri Vlador dengan tangan penuh. “Aku rasa ini sudah cukup untuk saat ini.”

Berbalik, Vlador menatap wajah Triana sejenak sebelum menurunkan pandangannya. Di saat yang sama, sebuah gulungan kertas menggelinding dari atas tumpukan buku yang Triana angkut dan terjatuh ke lantai.

“Apa kau pikir tubuh itikmu sebesar itu?” Tanya Vlador dengan setengah bergumam seraya meletakkan gulungan kertas itu kembali ke atas tumpukan buku. Kemudian ia merebut semua bawaan Triana ke dalam tangannya.

“Mungkin orang-orang akan bertanya-tanya mengapa seorang dokter membawakan barang-barang asistennya.” Ucap Triana sambil melangkah mengikuti Vlador. Ia tidak bisa menahan senyum di wajahnya. Pria itu adalah seorang gentleman.

“Kau selalu memikirkan apa kata orang.” Sahut Vlador, masih dengan tatapan lurus ke depan. “Carilah tempat duduk untuk kita.”

“Baik, dokter.” Jawab Triana sebelum berlari kecil mendahului Vlador.

Mata Triana tertuju pada sebuah meja yang terletak di dekat jendela sehingga mendapatkan cukup banyak cahaya matahari. Letaknya yang agak dipojok diharapkan akan mengindari mereka dari perhatian pengunjung lain.

Melambaikan tangan, Triana tersenyum lebar saat Vlador melangkah semakin dekat menuju dirinya. Lalu ia menarik kursi yang berada di hadapannya. “Silahkan duduk, Dokter.”

“Aku dapat melihat kau semakin kehilangan keanggunanmu sebagai seorang Lady.” Ucap Vlador seraya meletakkan semua buku ke atas meja, lalu duduk di kursi yang Triana siapkan.

Menggidik bahu, Triana menjawab seraya duduk di samping kursi Vlador. “Aku hanya berusaha memainkan peranku dengan baik.”

Menyadari Vlador terus menatap wajahnya, Triana menatapnya balik dan berdehem. “A-apa ada yang salah?” tanyanya seraya meraba wajahnya sendiri.

Vlador memicingkan matanya. “Tidak aku duga kau akan terlihat sangat menikmati kegiatan ini.”

 
Trimakasih sudah membaca guys! 

Jelly Tint >>>

Jedai >>>



Komentar