Triana.
Matanya terbelalak. Mulutnya seketika mengering.
“Kau sungguh menikmatinya?” Tanya Vlador lagi, kini dengan kekehan tidak percaya.
Segera menggeleng, Triana meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya. “Tuan Vlador… sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan? Aku adalah orang yang paling tersiksa dalam kegiatan ini. Mataku lelah dan pundakku tegang.”
“Senyum di wajahmu berkata lain, Itik.” Ucap Vlador sebelum menghela. Lalu ia menarik sebuah buku yang terletak di tumpukan paling atas. “Gunakan waktumu sebaik mungkin. Kita masih harus mencari obat dan herbal untuk putra si pemilik hotel.”
“Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Tuan Vlador.” Ucap Triana seraya mengambil sebuah buku yang membahas tentang parasit.
“Maka aku akan mengharapkan hal besar darimu.” Sahut Vlador, membuka bukunya dan menuangkan fokusnya ke sana.
Dengan mata menyipit, Triana menatap sisi wajah Vlador yang sibuk membaca bukunya sendiri. Itu semakin mengesalkan ketika seseorang yang menyebalkan memiliki rupa yang begitu indah hingga terasa mustahil untuk membencinya.
Namun bukan hanya karena keindahan wajah Vlador yang membiaskan cahaya keemasan mentari dari jendela, namun karena pria itu adalah orang pertama yang memberikan kepercayaan pada Triana dan mengandalkannya atas kemampuannya, bukan kecantikannya.
Itu adalah hal yang lucu bagaimana ia tidak pernah diperlakukan sebagai seorang manusia oleh manusia, namun diperlakukan sebagai manusia oleh vampir.
Menghela panjang, Triana beralih pada bukunya dan mulai membaca.
Waktu berlalu seperti air yang terus mengalir di sungai yang tenang. Buku demi buku dan gulungan demi gulungan singgah di tangan Triana. Bersama Vlador, ia membahas berbagai kemungkinan parasit atau jamur yang menginfeksi putra Moisey dan obat atau ramuan untuk menyembuhkannya.
“Aku akan membunuhmu dan meminum darahmu hingga kering.”
Tubuh Triana terlonjak dan matanya terbelalak. Ia mengangkat kepalanya dari atas meja.
“Apa yang salah denganmu?”
Menoleh, Triana mendapati Vlador tengah menatapnya dengan kening mengkerut. Ia tidak lagi duduk di sampingnya, melainkan berdiri di sisinya yang lain.
“Apa kau bermimpi buruk?” Tanya Vlador lagi seraya meletakkan gelas di hadapan Triana. “Minumlah. Kau kekurangan cairan hingga aliran darahmu melambat.”
Menatap gelas itu beberapa saat, Triana meraihnya dan meminum isinya yang menyegarkan hingga habis. “Terima kasih.”
“Matahari hampir terbenam. Kita bisa pergi sekarang.” Ucap Vlador seraya membereskan buku-buku di atas meja.
“Sejak kapan aku tertidur?” Tanya Triana.
“Tidak lama.” Jawab Vlador asal.
Masih memperhatikan Vlador, jantung Triana berdegub agak keras. Ia memang bermimpi buruk barusan.
Di mimpinya, ia kembali melihat sosok Vlador yang tengah meminum darah Vera di kamar yang mereka gunakan tadi. Dengan mulut berlumuran darah dan mata merah menyala, Vlador berkata akan membunuhnya.
“Tuan Vlador,” Ucap Triana pelan.
“Apa?” Vlador hanya meliriknya sekilas.
Meneguk liur, Triana melanjutkan, “Maaf untuk kejadian pagi tadi.”
Ucapan Triana membuat Vlador menghentikan kegiatannya. Ia menatap Triana dengan kening mengkerut. “Kejadian apa?”
“Ke-kejadian saat… saat…” Triana tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
Menghela panjang, Vlador meletakkan buku terakhir ke atas susunan bukunya. “Itu bukan sesuatu yang perlu kau ucapkan maaf.”
“Tapi…” Triana menunduk. “Aku merasa kau tidak suka saat aku melihatnya.”
Lagi-lagi, Vlador berhenti sejenak. Mata Triana membesar dan ia menatap Vlador sendu. “Apakah itu karena Nyonya Barrayard adalah wanita baik-baik yang sangat dicintai suaminya? Kau tidak perlu khawatir, Tuan Vlador. Aku mengerti bahwa kau kelaparan. Aku tidak akan menghakimimu.”
Kalimat terburu-buru Triana tidak mendapat jawaban. Vlador hanya diam dan pergi meninggalkannya dengan tumpukan buku di kedua tangannya.
Menggigit bibir bawahnya, Triana menundukkan wajah dan bersandar lemah pada punggung kursi. Sepertinya benar bahwa Vlador merasa malu pada kelakuannya tadi.
Tidak lama, sosok Vlador muncul dari lorong buku. Pria itu melirik Triana sekilas sebelum melangkah pergi, membuat Triana melompat dari kursinya untuk mengejar langkah lebar itu menuju meja pustakawan.
“Aku meminjam dua buku ini dan akan mengembalikannya besok petang.” Jelas Triana seraya meletakkan dua buku herbal di atas meja.
“Baiklah. Siapa namamu, Tuan?” Tanya pria paruh baya yang mengenakan kacamata tebal itu.
“Kau bisa menuliskan Victor di sana, Tuan.” Jawab Triana.
“Tanpa nama belakang?” Pria itu mengangkat kedua alisnya seraya membuka buku catatan besarnya. “Sesuai keinginanmu.”
Seraya menunggu pustakawan tersebut sibuk dengan buku-buku yang akan dipinjam, Triana menoleh pada Vlador untuk memeriksa apakah ia masih terlihat kesal setelah pertanyaannya tadi. Namun Triana mendapati pria itu sedang fokus memperhatikan sebuah lukisan yang terpajang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Itu adalah lukisan yang sangat indah.” Ucap Triana dengan suara agak besar hingga membuat Vlador dan pustakawan meliriknya.
“Kau benar. Lukisan itu sangat istimewa dan baru saja dipajang pagi ini.” Sahut si pustakawan sebelum lanjut menuliskan sesuatu di buku besarnya.
Vlador menatap Triana dengan kening sedikit mengkerut dan mata menyipit.
“Apa? Aku juga boleh menikmati keindahan lukisannya, ‘kan?” Tanya Triana sambil menggidik bahu, lalu beranjak menghampiri lukisan tersebut. “Tidak mengherankan lukisannya sangat istimewa. Keindahannya bahkan menarik perhatian seseorang yang biasanya hanya mengagumi dirinya sendiri.”
“Kelihatannya itik ini semakin berani, huh?” Desis Vlador yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Triana.
Meneguk liur, Triana berbalik untuk menatap Vlador. “Aku hanya berpikir, menjadi terlalu kaku kelihatannya berdampak kurang baik pada pekerjaan kita, Dokter.” Jawabnya dengan bersusah payah menahan agar suaranya tidak bergetar.
Tertawa sekilas, Vlador meletakkan tangannya di pundak Triana dan mencengkramnya. “Aku menghargai ide cemerlangmu. Maka aku sebaiknya mulai bersikap santai padamu. Salah satunya dengan tidak menahan diriku dalam beberapa hal.”
“A-apa maksudmu?” Tanya Triana seraya melangkah mundur.
“AWAS!”
Seruan keras seorang pria membuat orang-orang yang berada di sana menoleh, tidak terkecuali Triana dan Vlador.
Pria dengan kulit pucat, mata sipit, dan rambut panjang terkepang menghampiri mereka dengan wajah kesal. “Jangan terlalu dekat dengan lukisanku! Kau akan merusaknya!”
Menoleh ke belakang, Triana menyadari punggungnya nyaris menabrak lukisan indah itu. Ia segera bergeser menjauh seraya menarik tangan Vlador. “Maafkan kami, Tuan.”
“Kau…” Pria dengan pakaian yang nampak seperti gaun tidur berlengan panjang itu menghentikan omelannya. “Kau mengerti bahasaku?”
“Oh,” Triana tersadar bahwa ia baru saja menggunakan bahasa yang berasal dari dataran selatan. “Ya, Tuan. Kebetulan aku pernah mempelajari bahasa Yunuan. Apakah itu adalah lukisanmu?”
Pria itu mengangguk dan tersenyum. “Aku adalah pelukisnya. Aku pikir tidak ada orang yang mengerti bahasa daerahku selain pemilik perpustakaan ini. Kau masih muda namun sangat berbakat.”
“Terima kasih, Tuan. Kau juga adalah seniman yang jenius. Aku tidak pernah melihat bunga secantik itu.” Puji Triana.
“Itu memang adalah bunga cantik dan istimewa. Namanya adalah Bunga Anggrek. Penduduk di desaku membudidayakan anggrek untuk para bangsawan.”
“Bunga itu memang cantik. Namun ia menempel pada tumbuhan lain sebagai benalu.” Ucap Vlador tiba-tiba.
“Oh, kau juga bisa berbicara bahasaku!” Tawa pelukis itu.
Triana menatap Vlador dengan mata berbinar. “Kau juga bicara bahasa ini?”
Tidak menanggapi Triana, Vlador menatap lukisan di hadapannya dan beralih pada sang pelukis. “Benalu itu menempel pada pohon yang jauh lebih besar untuk bertahan hidup dan menyerap makanan darinya.”
“Bagaimana kau bisa mengatakan itu, Tuan?” Tanya sang pelukis sambil terkekeh meremehkan. “Aku yakin kau tidak mengetahui apa pun tentang anggrek.”
“Kau benar bahwa aku tidak mengenal bunga itu. Namun bagaimana kau menjelaskan mengapa bunga itu menempel di batang pohon?” Tanya Vlador, mengarahkan dagunya pada lukisan di depannya.
“Bunga Anggrek itu memang tumbuh menempel di pohon lain. Namun ia tidak mengambil apa pun dari pohon itu. Ia hanya membutuhkan tempat tinggi untuk mendapat angin dan memamerkan kecantikannya. Ia memang terlihat ringkih namun sejatinya ia adalah tanman mandiri.” Jelas pelukis itu.
***
Vlador.
Mereka adalah pembeli terakhir yang masih mengisi toko herbal yang akan segera tutup itu.
“Ini hampir selesai. Bisakah kau mengangkat batunya lagi?” Pinta Triana. Satu tangannya memegang buku yang sejak tadi ia baca. Kemudian satu tangannya lagi meraih mangkuk berisi tumbuhan kering.
Vlador mengangkat batu bulat yang sejak tadi ia gunakan untuk menghaluskan tumbuhan yang Triana siapkan.
“Terima kasih.” Ucap Triana sebelum memecah-mecah tanaman kering itu untuk dijatukan ke atas wadah batu penggiling.
Vlador memperhatikan jemari Triana yang kotor oleh tanaman dan memiliki sedikit luka-luka kecil. Meski begitu, ia tetap terampil dan bersungguh-sungguh melakukan pekerjaannya.
Triana telah bekerja dengan keras. Tanpa disangka, ia yang berperan besar dalam perjuangan mereka di Kota Harbour.
Semakin lama, Vlador menyadari bahwa Triana bukanlah seorang gadis manja tak berguna seperti kelihatannya.
Ia mungkin bukan benalu seperti yang Vlador pikirkan di awal. Ia mungkin hanyalah Bunga Anggrek yang membutuhkan kesempatan.
![]() |
| Kaos >>> |
![]() |
| Jaket >>> |


Komentar
Posting Komentar