Vlador.
Mereka kembali ke hotel larut malam dengan membawa banyak bungkusan herbal di tangan mereka. Selain itu, mereka juga membeli pakaian-pakaian baru dari hasil bayaran Lexi Berrayard.
"Meski ini adalah baju laki-laki, aku sangat menyukainya karena ini bukan baju bekas. Aromanya sangat segar!" Ucap Triana sembari berputar di depan cermin. "Kita sangat beruntung karena mereka menyediakan air panas meski di larut malam seperti ini."
"Itu sebanding dengan harga penginapan ini." Sahut Vlador, memperhatikan tingkah Triana dari pinggir ranjang. "Aku pikir kau akan kehabisan energi setelah semua pekerjaan yang harus kau lakukan sejak pagi tadi."
Tertawa kecil, Triana menggeleng. "Hari memang sangat melelahkan. Namun semua itu anehnya malah mengisi semangatku. Aku tidak pernah merasa sangat bersemangat seperti ini, bahkan ketika pesta ulangtahunku yang ke enam belas."
"Kau adalah gadis yang aneh." Ucap Vlador.
"Kau boleh mengatakan apa pun tentangku, Tuan Vlador," Sahut Triana sembari melompat-lompat kecil menuju ranjangnya, dan duduk di pinggirnya menghadap Vlador. "Namun selama hidupku, aku tidak pernah memegang darah sebanyak itu. Aku, Lady Triana, telah menyembuhkan seseorang yang hampir mati."
Tekekeh merendahkan, Vlador menjawab, "Haruskah aku mengingatkanmu pada bagaimana kau merengek-rengek untuk tidak melakukannya?"
"Hah..." Triana merebahkan punggungnya dan merentangkan kedua tangannya sambil menatap langit-langit. "Saat itu perutku terasa seperti diaduk-aduk. Aku benar-benar ingin muntah dan sangat takut ia akan mati di tanganku. Itu adalah pengalaman yang sangat mengerikan. Aku tidak akan pernah melupakannya."
"Setidaknya kau berhasil melewatinya dengan baik." Jawab Vlador.
"Kau benar, Tuan Vlador. Aku bakan masih tidak percaya aku melakukan hal sebesar itu." Ucap Triana tanpa merubah titik pandangannya. "Namun yang paling membuatku terkesan adalah hubungan Tuan dan Nyonya Berrayard."
Kening Vlador mengkerut. Dari semua hal hebat itu, apa yang salah dengan otak Triana hingga ia malah berfokus pada hubungan pasangan asing itu?
"Kenapa?" Tanya Vlador tanpa ia rencanakan.
Triana bangkit duduk kembali dan menatap Vlador dengan kedua alis terangkat tinggi. "Kau bertanya kenapa? Apakah kau tidak menyadari betapa Tuan Berrayard sangat mencintai istrinya?"
Masih dengan kening mengkerut, Vlador menjawab, "Aku yakin seorang suami yang mencintai istrinya bukanlah hal yang aneh di dunia manusia."
Menghela lelah, Triana menjelaskan, "Aku mungkin kurang ajar jika berkata begini, namun aku yakin kau juga menyadari bahwa penampilan Nonya Berrayard tidak sebaik itu. Namun Tuan Lexi tetap mencintainya dan memperlakukannya dengan sangat baik dan lembut. Itu adalah hal yang sangat indah."
Vlador hanya diam menatap Triana yang tersenyum-senyum sendiri dengan mata menatap ke atas seakan ia adalah perempuan paling beruntung di dunia. Itu adalah hal yang sangat aneh untuk dikagumi.
"Aku pikir cinta yang seperti itu tidak ada, Tuan Vlador." Tiba-tiba Triana kembali menatap Vlador, menariknya keluar dari lamunan. "Orangtuaku selalu berkata bahwa perempuan harus selalu terlihat cantik jika ingin dicintai suaminya. Dan aku sering kali melihat seorang pria memiliki selir yang lebih cantik jika istrinya sudah menua atau tidak lagi cantik setelah melahirkan banyak anak."
Kemudian Triana menarik napas dan tersenyum lebar. "Bertemu dengan Tuan dan Nyonya Berrayard menyadarkanku bahwa perkiraanku salah selama ini. Ternyata ada pria yang mencintai wanitanya dengan tulus dan setia. Ternyata cinta sejati benar-benar ada!"
Kalimat Triana membuat Vlador mengeratkan rahangnya. Itik bodoh itu terus mengeluarkan kata-kata bodoh dari mulutnya yang selalu tersenyum tanpa sebab.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keluargamu harus mendengar celotehan bodohmu selama ini." Desis Vlador.
Namun Triana malah tertawa kecil. "Dan kau berhasil melewatinya sejauh ini, Tuan Vlador."
"Apa?" Gumam Vlador dengan mata membesar.
Kemudian ia menghela gusar seraya membuang wajahnya ke samping agar tidak lagi melihat tawa memuakkan dari mulut Triana. Ia menyambar sebuah buku dari atas meja nakas. "Besok kita akan mengobati anak Moisey. Sebaiknya kau menyimpan energimu dan cepat tidur."
Menghela panjang, Triana mengangguk sekali. "Terlalu banyak pengalaman berarti yang aku alami hari ini membuat otakku tidak membiarkanku tidur."
Tidak menanggapi Triana, Vlador menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang dan membuka buku yang sebelumnya ia ambil dari perpustakaan. Namun ia tidak berpikir buku itu akan menarik seekor kutu menyebalkan mendekat padanya.
Sosok Triana yang berlutut di samping ranjangnya membuat rahang Vlador mengeras. Ia bahkan tidak bisa membaca dengan tenang setelah hari panjang yang menguras emosinya.
"Aku tidak tahu kau juga meminjam buku." Ucap Triana sambil tersenyum dan berusaha mengintip sampul buku yang Vlador pegang. "Bolehkah aku tahu buku apa itu?"
Menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, Vlador menoleh pada Triana dan tersenyum miring. "Ini adalah buku sejarah yang menceritakan tentang peperangan yang memusnahkan bangsa vampir."
Senyum Triana seketika menyusut. Ia memundurkan tubuhnya untuk berhenti mencoba mengintip. "O-oh,"
"Kenapa?" Vlador mengangkat satu alisnya. "Kau merasa bersalah lagi?"
"Aku hanya..." Triana menurunkan pandangannya. "...merasa tidak enak. Demi menyelamatkan keluarganya, leluhurku harus mengorbankan keluarga orang lain. Terkadang aku berpikir, kenapa dunia tidak dibuat nyaman untuk semua orang sehingga tidak ada yang saling membunuh."
"Setiap hal yang ingin dicapai membutuhkan korban dan pengorbanan. Bahkan jika dunia ini begitu sempurna hingga tidak ada kelaparan dan kemiskinan, perang akan tetap terjadi selagi orang-orang egois masih ada di dalamnya." Sahut Vlador sebelum kembali pada isi bukunya.
"Aku tahu itu. Segala sesuatu butuh pengorbanan. Kau sudah beberapa kali mengatakannya." Jawab Triana, dan melanjutkan, "Namun tetap, aku minta maaf."
Melirik Triana dari sudut matanya, Vlador mendesis, "Enyahlah."
Kemudian Triana kembali ke ranjangnya, meniup lilin di atas meja nakasnya, dan berbaring.
Beberapa menit berlalu. Tidak ada suara apa pun kecuali suara gemertak dari bara perapian dua meter dari kaki ranjang mereka.
Triana tidak mengeluarkan sedikit pun suara. Namun keberadaannya tetap mengganggu Vlador karena sejatinya, gadis itu belum tertidur. Suara jantungnya yang berdebar keras membuat Vlador harus mengeratkan rahang.
"Ada apa?" Vlador menutup bukunya keras dan menoleh pada Triana.
Mata Triana terbuka lebar. "Ma-maaf?"
"Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau terus memperhatikanku dari antara celah matamu?" Tanya Vlador.
"A-apa?"
"Tidak ada penyangkalan. Katakan kenapa kau bukannya tidur, namun malah memperhatikanku." Vlador meletakkan bukunya. "Kau memiliki banyak pikiran di kepalamu itu. Aku dapat merasakannya."
"Maaf telah membuatmu tidak nyaman, Tuan Vlador." Ucap Triana seraya bangkit duduk. "Sejujurnya, bayangan ketika tadi kau memakan darah Nyonya Berrayard tidak dapat hilang dari kepalaku."
Kening Vlador seketika mengkerut keras. "Apa kau bilang?"
Triana segera menggeleng. "A-aku bukan mempermasalahkan itu. Hanya saja... aku merasa kasihan padamu. Aku pikir kau mungkin sangat kelaparan."
"Kau mengasihaniku?" Vlador nyaris tertawa.
"Aku baru saja makan malam hingga kenyang. Aku pergi tidur dalam kondisi perut telah terisi penuh. Namun tepat di hadapanku, ada seorang pria kelaparan. Aku merasa bersalah," Jelas Triana dengan suara melemah.
"Lalu?" Satu alis Vlador terangkat.
"Kau berkata aku tidak boleh merasa bersalah jika tidak bisa melakukan apa pun 'kan?" Triana mengangkat wajahnya untuk menatap Vlador. "A-aku... aku pikir aku bisa membuatmu merasa lebih baik dengan..."
"Dengan apa? Bicaralah dengan benar." Tanya Vlador saat Triana menahan kalimatnya.
"Dengan... membagi sedikit darahku untukmu, mungkin." Lanjut Triana dengan suara pelan.
"Maksudmu kau akan membiarkanku meminum darahmu?" Tanya Vlador.
"Mungkin aku bisa memberi beberapa tetes darahku untuk cemilanmu."
Kalimat Triana membuat kekehan mengalir dari mulut Vlador. Berpikir bahwa vampir bisa mengemil adalah lelucon mengejutkan di tengah malam.
Menadahkan tangannya ke depan, Vlador menatap Triana sambil tersenyum, "Kau sangat baik, Itik. Aku memang suka mengemil di tengah malam."
Menatap tangan Vlador dari ranjangnya, Triana hanya terdiam dengan mata terbelalak.
"Kenapa?" Tanya Vlador. "Apakah kau menawarkan sesuatu yang kau ragukan padaku? Kau tidak berpikir untuk terlihat bersimpati padaku dengan menawarkan hal yang kau pikir akan aku tolak, 'kan?"
Menggeleng keras, Triana menjawab, "Tentu saja tidak. Kenapa aku harus berpikir seperti itu?"
Lalu Triana bangkit dari duduknya dan menghampiri Vlador. Ia menjatuhkan bokongnya dengan keras di pinggir ranjang dan meletakkan tangannya ke dalam telapak tangan Vlador.
"Kau ternyata serius," Vlador tersenyum miring.
Membuang pandangannya ke samping, Triana berucap, "I-ini hanya mengemil. Hanya beberapa tetes."
"M'm," Vlador bergumam seraya menarik tangan Triana mendekat. "Ayo kita lihat,"
Trimakasih sudah membaca guys! Jangan lupa like dan supportnya! 💜💜💜
![]() |
| Foundation >>> |
![]() |
| Jelly Tint >>> |


Komentar
Posting Komentar