Langsung ke konten utama

51. Hal Kecil Mengejutkan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Vlador.

Senyum miring terbentuk di bibirnya. Vlador membuka jemari Triana dan mengangkat jari telunjuknya dari barisan.

Ia menatap ujung jari mungil itu dan mencubitnya sedikit hingga memunculkan rona merah. Kemudian ia mendekatkan jari itu ke mulutnya dan menggigitnya dengan satu taring.

“Ah!” Triana nyaris menarik tangannya.

“Darahnya sudah keluar.” Ucap Vlador.

“Cepatlah agar aku bisa segera tidur.” Ucap Triana tanpa menatap Vlador.

“Aku pikir kau kesulitan tidur?” Sahut Vlador dengan kekehan kecil sebelum menghisap jari itu.

Memejamkan matanya erat, Triana memutar kepalanya semakin menjauh. Tubuhnya bahkan nyaris memunggungi Vlador meski tangannya berada di dalam ngenggamannya.

Sebuah luka kecil di ujung jari hanya mengalirkan tetes-tetes darah. Meski tidak berarti untuk memuaskan rasa hausnya, aroma dan rasa darah itu cukup menghibur lidah Vlador.

Perlahan, Triana menolehkan wajahnya sedikit dan membuka matanya untuk mengintip. Namun kedua mata itu seketika membulat ketika bertemu dengan tatapan Vlador yang sejak tadi terus memperhatikannya.

Rona merah mewarnai wajah Triana, terutama di kedua pipinya yang nampak seperti tomat ranum. Matanya yang membulat bagaikan sepasang jendela yang memberi pemandangan riak laut di bawah terangnya bulan purnama yang bersinar di malam tak berawan.

Jika bukan karena sedang menghisap darah Triana, Vlador sudah memuntahkan tawa dari mulutnya. Ia tidak berpikir ia akan sangat terhibur melihat wajah memerah gadis itu.

Vlador tahu Triana tidak yakin dengan tawarannya sendiri, namun ia berakhir melakukannya. Ia tidak tahu apa yang gadis itu pikirkan hingga wajahnya memerah. Namun itu membuatnya melupakan rasa darah yang tengah mengalir di atas lidahnya.

***

Triana.

“Kami benar-benar berterimakasih. Selamanya keluargaku berhutang budi pada kalian.” Ucap Moisey.

“Hari ini muntah dan buang airnya sudah membaik. Kemarin ia telah membuang banyak parasitnya.” Jelas Triana, tersenyum lega. “Hanya berikan ia banyak air matang agar tubuhnya tidak dehidrasi. Berikan juga makanan lunak dan manis untuk memberinya tenaga.”

“Aku mengerti, Tuan. Kami akan melakukan tepat seperti yang kalian beri tahu.” Jawab Moisey.

“Kapal menuju Verxic akan berangkat besok siang. Aku telah memberikan jadwal makan dan resep obat untuk tujuh hari ke depan. Tuan Victor juga sudah menyiapkan obatnya.” Tambah Vlador.

Moisey mengangguk. “Kepala pelayan kami sudah menerimanya dengan baik. Kalian tidak perlu khawatir.”

“Kalau begitu kami akan pergi sekarang. Kami harus membeli perbekalan.” Ucap Vlador.

“Oh, ya, tentu saja, Dokter.” Jawab Moisey seraya melangkah mundur. “Kusirku bertugas membantu kalian membawa barang-barang, jadi mohon jangan sungkan untuk menyuruh mereka.”

“Terima kasih banyak, Tuan Moisey.” Ucap Triana sebelum masuk ke dalam kereta.

“Kelihatannya kau mendapat banyak kepercayaan diri setelah kembali berhasil menyembuhkan orang.” Ucap Vlador begitu pintu kereta tertutup.

Tertawa kecil, Triana menggidik bahunya. “Beberapa hari di Kota Harbour, aku telah mengobati setidaknya lima belas orang. Tidak ada satu pun keluhan dari mereka, melainkan pujian dan ucapan terima kasih. Aku rasa aku berbakat menjadi dokter.”

Melipat lengannya di depan dada, Vlador mengangguk sekali. “Itu mungkin saja benar.”

Senyum lebar merekah di bibir Triana. “Tuan Vlador. Aku rasa aku tahu apa yang harus aku lakukan setelah kutukan kita terangkat!”

“Menjadi dokter?” Tebak Vlador.

Triana mengangguk keras hingga topinya nyaris lepas. “Kau benar! Aku menyentuh luka, melihat muntahan menjijikan, bahkan tinja manusia. Aku telah mencium aroma paling memuakkan di dalam hidupku, namun aku tidak pingsan atau muntah. Aku tidak menyangka ternyata aku sekuat itu.”

Tersenyum miring, Vlador memajukan tubuhnya untuk memangkas jarak mereka. Ia menatap Triana dengan mata keemasannya hingga membuat Triana memundurkan punggung.

“Kau yakin, sebagai seorang Lady akan terus menjalani hal seperti itu?” Tanya Vlador.

Tertawa kecil, Triana membuang wajahnya ke samping. “Lady? Aku tidak peduli lagi dengan gelar itu. Aku rasa hidup seperti ini lebih baik daripada harus terkekang di dalam sepatu sesak dan kastil tertutup.”

Kemudian wajah Triana tertunduk. “Lagipula… ini adalah pertama kalinya aku bermanfaat untuk orang-orang tanpa menggunakan kecantikanku. Aku menyukainya. Aku suka belajar dan membaca. Dan aku suka jika itu semua tidak sia-sia.”

Senyum Vlador memudar. Ia menatap Triana beberapa detik sebelum memundurkan punggungnya kembali. Sebuah senyum kecil terbentuk di sudut bibirnya. “Maka jadilah seperti itu, Itik.”

***

Triana.

Dengan satu hari tersisa, mereka membeli perbekalan dan pakaian yang jauh lebih tebal di pasar kota.

Sesuai rencana, menjadi dokter gadungan mengijinkan Triana dan Vlador mendapat banyak uang yang bisa mereka hamburkan. Mereka pun bisa menumpang pelayaran pertama menuju Verxic di bulan itu.

Triana tidak menyangka ia akan menikmati pengalamannya di Kota Harbour meski ia harus berdosa dengan melakukan penipuan. Keberadaan Vlador di sampingnya memberikannya rasa aman dan percaya diri. Bersama pria itu, ia tidak merasa sedang berdiri sendirian di dunia baru yang sangat asing baginya.

“Itik!”

Terpenjat, Triana menoleh untuk mendapati Vlador tengah menatapnya dengan kening mengkerut.

“Apa yang terjadi padamu? Aku memanggil-manggilmu dari tadi.” Tanya Vlador.

“A-aku,” Triana terbata.

“Tolong jangan memarahinya, Tuan.” Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Ia melempar senyum keibuan pada Triana. “Kelihatannya tuan muda ini sedang kebingungan memilih hadiah untuk seorang gadis.”

“Huh?” Triana mengerutkan keningnya dan mengembalikan pandangannya ke depan.

Hamparan aksesoris berkilau di atas meja mengingatkan Triana bahwa ia memang menghampiri kios pernak-pernik ketika Vlador tengah membeli beberapa kotak korek api di kios sebelah. Banyak hal di kepala Triana membuat tubuhnya bergerak sendiri.

“Ka-kau benar, Nyonya. Aku pikir pernak-pernik ini sangat cantik. Kekasihku mungkin menyukainya.” Ucap Triana dengan tawa kecil. “Namun aku tidak yakin bisa memberikannya segera, jadi aku hanya akan melihat-lihat. Terima kasih.”

Mengambil seribu langkah, Triana kabur dari kios itu. Wajahnya mungkin tengah memerah karena wajah indah Vlador tiba-tiba muncul di hadapannya ketika ia tengah termenung memikirkan pria itu.

Apakah Vlador menyadari wajahnya berubah memerah? Apakah tadi ia tersenyum-senyum sendiri dan Vlador melihatnya? Pria itu pasti semakin menganggapnya sebagai gadis aneh.

Memukul-mukul pelan pipinya sendiri, Triana menggeleng. “Sadarlah, Triana. Untuk apa kau mempedulikan bagaimana ia melihatmu?”

Tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangan Triana hingga membuatnya berhenti melangkah.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Vlador.

“A-apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa pun.” Triana berusaha menarik tangannya dari genggaman Vlador.

“Untuk apa kau memukul-mukul wajahmu sendiri?”

“Aku…” Triana nyaris menggigit bibir bawahnya. “Pipiku. Udara di sini semakin dingin hingga pipiku terasa agak kaku.”

Menghela, Vlador melepaskan tangan Triana. “Aku sudah membeli semua yang diperlukan. Apa kau masih mencari barang lain?”

Triana menggeleng. “Aku hanya perlu mengembalikan buku ke perpustakaan.”

“Kau yakin tidak ingin membawanya?” Tanya Vlador.

“Kita harus mengembalikan apa yang kita pinjam. Buku itu telah banyak membantuku.” Jawab Triana.

Vlador mengangguk. “Baiklah. Kita pergi sekarang sebelum perpustakaannya tutup.”

***

Triana.

Teriakan pria-pria memekakkan telinga Triana. Ia tidak pernah melakukan perjalanan jauh menggunakan kapal. Tidak. Ia bahkan tidak pernah berlayar dengan kapal.

Ia tidak tahu keadaan akan seramai dan sebising itu ketika kapal akan berlayar untuk perjalanan jauh.

Beberapa orang mengantar kepergian mereka. Keluarga Moisey dan Lexi berada di antaranya. Bahkan sebagai seorang Lady, Triana tidak pernah mendapat penghormatan sebesar itu.

“Tarik jangkarnya!” Seru seorang pria dari dek kapal.

Mata Triana membulat. “Itu adalah jangkar yang sangat besar.”

“Karena ini adalah kapal yang besar. Kita akan melewati lautan es sehingga membutuhkan kapal yang besar.” Ucap Vlador sebelum melangkah mundur untuk masuk ke dalam kapal.

“Kapal ini membawa penumpang di lantai atas dan logistik di lambungnya. Tidak mengherankan biaya untuk menumpang sangatlah mahal. Aku sangat bersyukur kita sempat mengumpulkan uang untuk menaiki kapal ini. Jika tidak, kita harus menunggu tiga minggu lagi untuk kapal selanjutnya.” Ucap Triana seraya mengikuti langkah Vlador.

“Kapal sudah berlayar. Aku akan membawamu ke kamarmu.” Vlador menunjukkan sebuah kunci.

“Oh, ya, kau benar. Kita harus beristirahat. Masih ada beberapa hari yang panjang untuk melihat-lihat isi kapal ini. Tentu aku tidak perlu terburu-buru.” Triana berdehem, lalu melirik Vlador yang tidak memberi tanggapan apa-apa.

Dingin seperti biasanya; atau seharusnya.

Melewati lorong kayu yang terasa lembab dan dingin, mereka tiba di lorong lain yang memiliki barisan pintu. Ketika mencapai pintu nomor tujuh, langkah Vlador berhenti.

Pria itu mengeluarkan sebuah kunci dari kantungnya. “Ini adalah kamarmu.” Ucapnya seraya membuka pintu kamar tersebut. “Kamarku ada di sebelah. Ketuklah pintunya jika kau butuh sesuatu.”

Triana mengintip isi kamarnya sebentar, lalu mengangguk. “Aku mengerti. Terima kasih telah mengurus semuanya, Tuan Vlador.”

“Jangan lupa mengunci pintunya.” Vlador menyerahkan kunci kamar itu pada Triana.

Triana mendorong pintu kamarnya lebih lebar dan mengambil satu langkah masuk ke dalam. “Aku akan menguncinya. Selamat beris-“

“Tunggu.” Vlador menahan pergelangan tangan Triana hingga membuatnya berhenti.

Kening Triana mengkerut ketika ia merasakan sesuatu bergerak masuk ke dalam tangannya. “Apa ini?”

Begitu Vlador melepas tangan Triana, ia membuka telapak tangan itu dan mendapati sebuah bros kristal berbentuk burung biru yang berkilau.

“Kita berhasil menaiki kapal ini berkatmu. Kau sudah bekerja sangat keras, dan aku menghargai itu. Uang-uang itu adalah hasil kerjamu juga.” Ucap Vlador.

Masih dengan mata membulat, Triana menaikkan pandangannya untuk menatap Vlador. Jantungnya seakan berhenti ketika ia bertemu dengan sepasang mata keemasan yang menatapnya dengan tidak biasa.

Tidak ada ruang dingin di sana.

“Kita memang harus berhemat, namun kau tidak perlu menahan diri untuk membeli satu atau dua hal yang kau inginkan.” Lanjut Vlador.

Terimakasih sudah membaca! Support author terus ya! 💜💜

Hijab >>>

Lip Tint >>>



Komentar