Triana.
Burung biru itu berkilau di dalam genggamannya. Matanya mengerjap sambil memandanginya.
Perhiasan cantik bukanlah hal luar biasa yang pernah Triana sentuh. Ia memiliki berpeti-peti perhiasan dan pernak-pernik cantik dan mewah di kastilnya. Namun sebuah bros yang dijual di kios pasar Harbour itu berbeda. Itu bukan cantik, melainkan indah.
“Aku tidak tahu ia memperhatikanku,” Gumam Triana. Senyum tipis merekah di bibirnya.
Bangkit dari kursi, Triana menghampiri jendela dan membukanya lebar-lebar. Angin laut berhembus keras menerbangkan rambut panjangnya.
Laut nampak megah dan menyatu dengan birunya langit. Padahal mereka baru saja meninggalkan daratan, namun kelihatannya angin yang kencang mendorong kapal mereka semakin cepat.
Mengangkat bross burungnya ke atas, Triana kembali tersenyum saat menyamai warna biru dari bross tersebut dengan warna laut dan langit. Semakin lama, semakin ia menyadari bahwa Vlador bukan pria kejam yang dikatakan orang-orang. Jika ia menjaga Triana karena kutukan mereka, bross indah itu tidak mungkin berada di tangannya.
Jika saat itu Triana tidak datang ke penyihir, jika ia tidak datang ke kastil Vlador, ia tidak akan berada di kapal sekarang. Vlador pun kemungkinan besar masih terkurung di penjara bawah tanah kastilnya.
“Sebenarnya kutukannya tidak seburuk itu.” Gumam Triana tanpa sadar.
Kemudian matanya membesar. Ia melangkah mundur. “Tidak, Triana.” Ucapnya seraya menutup jendela di depannya.
“Kau tidak boleh berpikir seperti itu. Kutukan adalah hal yang sangat buruk.” Lanjutnya seraya duduk di pinggir ranjang dan menggantungkan wajahnya. “Jika ada yang merasa mendapat manfaat baik dari kutukan ini, itu hanyalah dirimu. Tuan Vlador merasakan sebaliknya. Ia harus terus menjagamu dan tidak bisa menikmati kebebasan yang ia impikan.”
Meremas brossnya, Triana menggelengkan kepala seraya mengusap keningnya sejenak. “Kenapa aku seperti ini?”
Lalu ia menoleh ke arah dinding yang memisahkan kamarnya dengan kamar Vlador. Itu adalah pertama kalinya mereka tidak berbagi kamar yang sama sejak pertama kali mereka bertemu.
“Aku seharusnya malu pada diriku sendiri.” Gumam Triana.
Kekosongan yang melanda dadanya menyadarkannya bahwa ia memang menyukai keberadaan Vlador di sekitarnya. Ia tidak tahu apakah itu karena ia tidak memiliki siapa pun lagi yang ia kenal selain pria itu, atau ia memang sudah jatuh hati pada Vlador.
“Aku harap aku salah.” Gumam Triana seraya menyambar sebuah buku dari atas meja nakas dan membukanya.
Ia baru saja berpisah dari Vlador dan sudah merasa sangat bosan. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi hari-hari berikutnya di atas kapal.
***
Vlador.
Ia memandangi cermin kosong di hadapannya. Sudah ratusan tahun lamanya sejak terakhir ia ingin melihat bagaimana rupa dirinya sendiri.
Mendecak, Vlador menghampiri ranjang dan duduk di pinggirnya. Sebenarnya apa isi lain kutukan itu hingga membuatnya kehilangan arah?
Menatap telapak tangannya, Vlador bergumam, “Apakah kutukan ini juga membangkitkan bagian dari diriku yang seharusnya sudah mati?”
Kemudian Vlador mengepalkan tangannya. “Akan aku pastikan penyihir es sialan itu juga mendapat ganjarannya.”
Bangkit berdiri, Vlador menghampiri jendela yang terbuka. Langit semakin meredup dan ia tidak mendengar sedikit pun gangguan dari Triana sejak mereka berpisah di depan pintu. Seharusnya gadis itu sudah harus meminum darahnya kemarin, namun ia nampak baik-baik saja. Kutukannya semakin aneh.
“Sepertinya ia sedang tidur.” Gumam Vlador seraya memegang dinding yang membatasi kamarnya dengan milik Triana.
Tiba-tiba sensasi menusuk muncul di dalam dadanya dan membuat keningnya mengkerut. Matanya membesar. Lalu ia keluar dari jendela hanya dalam satu lompatan.
Kaki Vlador mendarat di dalam sebuah kamar yang bukan miliknya. Ia adalah vampir yang memiliki pergerakan bagai petir, dan ia menggunakannya di luar medan perang.
Matanya terpaku pada sosok Triana yang sedang tidur di atas ranjang. Namun ia yakin gadis itu tidak memiliki tidur yang nyenyak karena keningnya mengkerut keras dan memiliki butir-butir keringat di permukaannya.
“Ugh…” Ringkih Triana dalam tidurnya. Kepalanya bergerak sedikit-sedikit ke kanan dan kiri, layaknya seseorang yang sedang menahan sakit.
Tidak beranjak dari tempatnya berdiri di belakang jendela, Vlador hanya memperhatikan Triana dalam diam. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya adalah, bagaimana Triana masih tidur dalam kondsi kesakitan.
Apakah tubuhnya memang bermasalah atau ia sedang pingsan seperti sebelumnya?
Meringis, Vlador memegangi dadanya yang terasa ditikam dari dalam. “Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama.”
Kemudian ia menghampiri ranjang Triana dan duduk di pinggirnya. Ia hendak membangunkannya, namun gerakannya terhenti sejenak saat ia hendak menepuk pipi Triana.
Sekali lagi, wajah itu memang cantik. Tidak mengherankan jika orangtua Triana yang bersifat serakah menggunakan gadis itu untuk mendapat keuntungan besar. Para pria manusia tidak akan bisa menolak kecantikan itu.
Tiba-tiba Triana membuka matanya, membuat Vlador reflek menarik tangannya kembali.
“Apa yang-“ Pertanyaan Vlador terhenti ketika air mata mengalir dari kedua mata Triana.
“Jangan meninggalkanku.” Bisik Triana dengan suara serak dan kedua mata menatapnya lekat.
Vlador terdiam. Ia tahu Triana sedang melindur karena tubuhnya sudah membutuhkan darah. Itu adalah fenomena yang sama seperti sebelumnya.
Namun kenapa ia merasa aneh?
Kenapa ia tidak bisa mengabaikan air mata itu?
“Jangan membuangku juga,” Lanjut Triana sambil terisak.
Mengerutkan keningnya, Vlador melepas pandangannya dari kedua mata Triana. Ia menggigit pergelangan tangannya hingga menimbulkan luka sebelum meraih punuk Triana untuk mengangkatnya duduk.
“Minumlah.” Ucap Vlador seraya memberikan pergelangan tangannya ke mulut Triana.
Tanpa satu kata lain pun, Triana menyambar tangan Vlador dan menempelkan pergelangan tangan itu pada mulutnya yang terbuka. Kemudian ia meneguk darah Vlador seperti vampir kehausan.
Perlahan, rasa sakit pada jantung Vlador menghilang. Tidak lama kemudian, Triana berhenti meminumnya dan melepaskan tangannya dengan kepala menunduk.
Memperhatikan Triana, Vlador menunggu apa yang akan gadis itu katakan, namun bukan hanya tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, tubuhnya pun membatu dengan posisi wajah menatap ke bawah.
“Sampai kapan kau akan menggantung wajahmu?” Tanya Vlador, membuat Triana tersentak.
Masih dengan wajah tergantung, Triana terburu-buru membersihkan air mata dan darah pada mulutnya dengan punggung tangan.
Berdehem, Triana mengangkat wajahnya tanpa berani menatap Vlador. “Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu mengapa aku menangis. Aku tidak tahu apa yang aku bicarakan. Sepertinya aku mengalami demam tinggi.”
“Hm,” Vlador bergumam, lalu meletakkan telapak tangannya di kening Triana selama sedetik karena gadis itu langsung memundurkan tubuhnya.
“Suhu tubuhmu normal cenderung dingin.” Ucap Vlador seraya menurunkan tangannya.
Triana hanya mengatupkan kedua bibirnya dengan wajah memerah, yang mana tidak mengherankan karena ia pasti malu sudah menangis seperti anak kecil.
“Kau meracau karena tubuhmu membutuhkan darahku. Itu karena kutukannya, seperti sebelumnya.” Ucap Vlador.
“Benar!” Jawab Triana seraya membenahi rambutnya. “Aku yakin kau benar, Tuan Vlador. Tadi aku tidak bisa mengendalikan diriku. Kebalikannya, aku merasa seakan ada sesuatu yang mengendalikanku.”
Menghela panjang, Vlador bertanya, “Apa kau sudah lapar?”
“Aku?” Tanya Triana, lalu menyentuh perutnya. “Sejujurnya aku melewati makan siang karena aku tertidur, dan sekarang aku memang kelaparan.”
“Cucilah wajahmu. Aku akan membawamu mencari makan di ruang makan.” Ucap Vlador seraya bangkit berdiri.
“Tunggu,” Triana menangkap tangan Vlador.
Berhenti, Vlador menatap sepasang tangan kecil dan sejuk yang tengah membungkus tangannya. Lalu ia beralih menatap kedua mata biru Triana.
“Ma-maaf,” Triana segera melepas tangan Vlador. “Aku…” ia mengambil sarung tangan dari sakunya. “Tolong setidaknya biarkan aku membersihkan pergelangan tanganmu sebagai ucapan terima kasih, Tuan.”
Memutar tangannya, Vlador mendapati pergelangan tangannya memang masih kotor oleh darah. Lalu ia beralih menatap Triana yang sedang memandang ke arah lain.
“Aku menerima rasa terima kasihmu.” Jawab Vlador seraya menyodorkan tangannya.
Tersenyum, Triana bangkit ke atas kedua lututnya. Lalu ia meraih tangan Vlador dan mengusap pergelangan tangannya dengan sapu tangan. “Permisi,”
Menatap wajah Triana yang sudah berubah cerah, Vlador menurunkan tubuhnya untuk duduk di pinggir ranjang. “Duduklah dengan benar.”
Triana tersenyum dan mengangguk. “Sebenarnya ada hal lain yang ingin aku tanyakan, Tuan Vlador.”
“Apa itu?” Tanya Vlador, memperhatikan Triana yang masih sibuk mengusap pergelangan tangannya hingga menodai sapu tangannya.
“Apakah aku sudah bisa mengenakan pakaian prempuan kembali”
“Kita sudah mendapatkan apa yang kita butuhkan dan menaiki kapal. Kau bisa kembali pada identitasmu yang asli sekarang.” Jawab Vlador, lalu mengangkat satu alisnya. “Tapi aku pikir kau lebih nyaman mengenakan pakaian laki-laki?”
Terdiam sejenak, Triana mengembalikan tangan Vlador perlahan. “Itu benar, namun bagaimanapun, aku lebih suka mengenakan pakaian perempuan dan berias.”
Vlador mengangguk. “Baiklah. Lagipula kita telah membeli pakaian-pakaian perempuan untuk kau kenakan di Verxic. Kau bisa mengenakan apa pun yang kau suka.”
Senyum cerah merekah di wajah Triana. Ia menatap Vlador dengan mata berbinar. “Senang mendengarnya.”
Terdiam sejenak, Vlador bangkit dari duduknya dan menghampiri jendela. “Aku akan mengetuk pintumu.” Ucapnya sebelum melompat keluar.
Dalam sekejap, ia sudah kembali di dalam kamarnya dengan kening mengkerut.
![]() |
| Eyelash >>> |
![]() |
| 3in1 Sunscreen >>> |


Komentar
Posting Komentar