Langsung ke konten utama

53. Pembunuh // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana.

Ia menggerai rambut panjangnya sambil menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia masih tidak mengerti mengapa ia menangis dan mengatakan hal-hal aneh tadi.

Memejamkan matanya erat, Triana berusaha mengingat-ingat apa yang ia mimpikan hingga membuatnya mengigau.

“Itu adalah mimpi buruk. Aku masih dapat merasakan kesedihan dan ketakutan dari mimpi itu,” Gumam Triana, lalu membuka matanya kembali. “Tapi aku sama sekali tidak ingat apa isi mimpi itu.”

Mendecak, Triana menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, tidak ada gunanya juga mengingat isi mimpi itu. Seperti yang Tuan Vlador katakan, itu hanya efek dari kutukannya.”

Kemudian Triana merendam kedua tangannya ke dalam air yang ada di dalam baskom yang terletak di bawah cermin. Ia nyaris memekik karena suhu air itu seakan membekukan tangannya. Meski begitu, ia tetap menggunakannya untuk membasuh wajah.

Selesai menyegarkan wajahnya, Triana mengganti pakaian laki-lakinya dengan gaun wanita hangat. Itu memang gaun sederhana, namun tentu jauh lebih cantik dibandingkan setelan celana dan kemeja longgar pria.

Sebuah senyum mengembang di bibir Triana saat ia memandangi pantulan dirinya yang telah kembali menjadi seorang gadis cantik.

Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari pintu kamar Triana. Ia segera menghampiri pintu tersebut dan membukanya.

“Ayo pergi,” Ucap Vlador.

Kembali tersenyum lebar, Triana menjawab, “Kau datang tepat saat aku selesai berias, Tuan Vlador.”

“Gaunnya bertugas dengan benar.” Ucap Vlador sambil menatap Triana dari kaki hingga kepala. Lalu ia melangkah pergi menyusuri lorong kapal.

Triana mengikuti langkah lebar Vlador dengan larian kecil. “Kau benar. Gaunnya sangat mudah digunakan. Itu adalah kelebihan dari bentuknya yang sederhana. Terima kasih sudah menyarankan gaun ini untukku di pasar.”

Di bagian kanan kapal besar itu terdapat sebuah ruang makan yang menyerupai kedai di penginapan yang memiliki banyak meja makan. Tidak terlalu banyak penumpang yang terlihat mengisi meja-meja itu karena waktu makan malam belum tiba.

“Hanya satu menu?” Tanya Vlador, memperhatikan papan menu di atas meja.

“Makanan yang lain masih disiapkan. Hanya ini yang tersedia jika kalian datang di waktu seperti ini.” Sahut juru masak bertubuh kurus dan memiliki rambut dan janggut terkepang.

“Aku baik-baik saja, Tuan Vlador.” Ucap Triana, lalu menatap sang juru masak. “Aku akan memesan yang ada saja, Tuan. Terima kasih.”

“Baiklah, Nona.” Juru masak itu melempar senyum pada Triana sebelum kembali ke bilik dapur.

“Mereka sengaja bersikap sesuka hati karena kita tidak memiliki pilihan lain di atas kapal.” Ucap Vlador sambil melipat lengan di depan dada.

Tertawa canggung, Triana berusaha menenangkan pria itu. “Aku sangat kelaparan, jadi stew dan roti pun sangat cukup bagiku. Tolong jangan marah hanya karena hal sepele seperti ini, Tuan Vlador.”

Mengerutkan keningnya, Vlador menatap Triana dengan mata menyipit. “Kau pikir aku marah karena kau hanya mendapat makanan sederhana itu?”

“Eum… ya?” Triana mengangguk ragu.

“Jangan membuatku tertawa.” Desis Vlador, lalu mengembalikan wajahnya ke depan. “Aku tidak peduli pada apa yang kau makan. Namun sikap mereka melukai harga diriku.”

“Oh, aku mengerti,” Triana menggidik bahu. Lagi-lagi ia salah berprasangka. Seharusnya Vlador juga sudah terbiasa dengan kebiasaannya itu.

Tiba-tiba Vlador berdehem, membuat Triana menoleh padanya. Lalu pria itu bicara dengan pandangan masih lurus ke depan. “Di kapal ini, setiap penumpang hanya mendapatkan jatah dua kali makan sehari. Aku tidak memakan makanan-makanan itu, jadi kau bisa mengambil jatahku.”

“Baiklah. Terima kasih.” Ucap Triana, lalu kembali menatap bilik dapur di depan.

Tidak lama, juru masak keluar dengan sebuah nampan berisi semangkuk stew panas, potongan roti, dan segelas air. Tanpa bicara apa pun, Vlador mengambil semua itu dan pergi menuju salah satu meja makan.

“Apakah ia adalah pasanganmu?” Tanya si juru masak. “Sebaiknya ia tidak bersikap kurang ajar seperti itu pada gadis seramah dirimu, Nona.”

Triana hanya bisa tersenyum kecut. “Tolong maafkan sikapnya. Sepertinya kondisi hatinya sedang kurang bagus, namun ia sebenarnya adalah pria yang baik.”

“Ya, kau tidak terlihat seperti sedang menutupi sesuatu,” Sahut pria itu, lalu beranjak. “Selamat makan, Nona.”

Menarik napas panjang, Triana menghampiri meja yang telah Vlador tempati, dan duduk di samping pria itu. “Terima kasih telah membawakan makanannya untukku.”

“Cepatlah makan agar aku bisa kembali ke kamarku.” Ucap Vlador.

“Baik.” Jawab Triana sebelum mulai menyantap makanannya yang terasa agak keasinan.

Ketika makanan Triana sudah habis setengah, ruang makan itu semakin ramai. Dua pria datang duduk di meja yang sama dengan mereka. Keduanya hanya mengambil sedikit jarak lebih jauh sebagai pembatas.

Dari penampilan dan aroma parfum kedua pria itu, Triana dapat menebak bahwa mereka berasal dari negri timur. Ketika mereka mulai berbicara dengan satu sama lain, perkiraannya benar karena mereka menggunakan salah satu bahasanya.

“Sayang sekali ia tidak selamat.” Ucap pria beralis tebal yang duduk di samping Triana. “Mereka yakin itu karena ramuannya, dan aku juga berpikir demikian. Dokter Garven dan asistennya sendiri yang memberikan itu pada Natali.”

Kening Triana seketika mengkerut. Ia tidak menoleh pada kedua pria itu, melainkan pada Vlador, namun Vlador terlihat tidak bereaksi. Mungkin ia tidak memahami bahasa mereka.

“Ternyata sebutan tangan dewa tidak bisa dipercaya sepenuhnya.” Sahut pria satunya yang memiliki janggut tebal.

“Tidak ada yang bisa melawan kehendak Tuhan.” Ucap pria beralis tebal.

“Itu adalah alasan klise yang diucapkan dokter-dokter yang tidak kompeten. Sekarang, empat orang anak kehilangan ibu mereka. Padahal aku dengar sakitnya tidak separah itu.”

“Ya, itu memang sangat disayangkan. Sekarang Andreas harus mengurus peternakan sebesar itu dan empat orang anak. Tentu saja itu tidak akan mudah. Aku menyesal tidak bisa hadir di pemakamannya hari ini.”

Di samping mereka, Triana hanya tertegun menatap mangkuk stewnya. Kelihatannya kedua pria itu tidak mengenali wajahnya dan wajah Vlador, namun Triana jelas mengenali orang yang sedang mereka bicarakan.

Ia mengenal wanita yang mereka katakan telah meninggal itu.

Natali, istri seorang pemilik peternakan kuda di perbatasan kota. Ia adalah seorang wanita keibuan yang murah senyum. Saat itu, ia datang pada Triana dan Vlador dengan keluhan sakit dan sensasi terbakar pada tenggorokannya.

Dua hari sebelum mereka menaiki kapal, Triana memberinya herbal untuk tenggorokan yang terbuat dari sari lemon dan cuka. Jadi ia telah salah memberinya herbal hingga membuatnya meninggal?

Bangkit dari duduknya, Triana berbisik pada Vlador dengan wajah tertunduk. “Aku permisi ke toilet.”

Dengan langkah cepat dan lutut lemas, Triana menyusuri lorong kapal yang mengarahkannya menuju toilet. Namun ia menghentikan langkahnya ketika melihat ada beberapa orang di sana, dan berbelok menuju lorong lain yang kosong.

“Tidak,” Gumamnya sambil bersandar di dinding kayu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata merembes dari sela-sela jemarinya.

“Apa yang telah aku lakukan?” Lirihnya tipis.

Seorang ibu telah mati dan empat anak baik terlantar. Semua itu karena ia menipu mereka dengan berpura-pura menjadi dokter untuk kepentingan pribadinya. Jika ia tidak mengobati wanita itu, dokter sungguhan akan datang mengobatinya dengan benar. Ia tidak akan mati.

Menurunkan kedua tangannya, Triana menatap kedua benda gemetar itu. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat sebelum menggunakan mereka untuk menekan kedua matanya agar tidak terus mengalirkan air.

Lalu ia membalikkan tubuhnya dan melangkah kembali hanya untuk menabrak sesuatu yang keras. Awalnya ia berpikir itu adalah dinding. Namun sepasang tangan yang menangkap kedua bahunya membuat ia menyadari bahwa itu adalah seseorang.

Triana menurunkan tangannya dan mengangkat pandangannya. Itu adalah wajah yang ia kenal.

“Apa yang terjadi padamu?” Tanya Vlador.

Wajah itu, tatapannya, bagaimana keningnya mengkerut, dan suaranya yang terdengar seperti omelan namun terdapat kekhawatiran di dalamnya membuat Triana tertegun.

“Apa ada yang mengganggumu lagi?” Tanya Vlador lagi seraya menoleh ke sekeliling lorong kosong. Lalu ia kembali menatap Triana. “Itik?”

Mata Triana terbakar. Dalam hitungan detik, air mata memburamkan pengelihatannya hingga wajah Vlador tidak lagi terlihat jelas sebelum air mata itu terjatuh di pipinya.

“Tuan Vlador,” Adu Triana dengan suara begetar seraya menyandarkan keningnya di dada pria itu, lalu menangis tersedu di sana.

Workout Outfit >>>

Outfit >>>



Komentar