Vlador
Di kamar Triana, ia hanya memperhatikan gadis itu menangis tersedu-sedu.
“Aku sudah membunuh seseorang. Aku membuat empat orang anak kehilangan ibu mereka. Aku adalah kriminal. Aku pembunuh.” Tangis Triana.
Menghela panjang, Vlador melirik sapu tangan yang basah kuyup di tangan Triana. “Matahari sudah terbenam. Kau ingin menangis sampai kapan?”
“Aku… tidak bisa berhenti.” Jawab Triana dengan napas terengah. “Aku benar-benar merasa bersalah, Tuan Vlador. Aku ketakutan.”
“Itu hanya satu orang yang mati dari puluhan orang yang sambuh. Tidakkah kau terlalu berlebihan?”
Kening Vlador mengkerut saat Triana menatapnya tajam dengan mata sembabnya. “Satu orang, katamu? Ia mungkin hanya satu orang bagi orang-orang yang tidak mengenalnya, namun ia adalah segalanya bagi keluarganya.”
“Itik,” Vlador menghela panjang. “Wanita itu sudah mati. Ia tidak akan hidup kembali meski kau menangisinya sepajang hari. Kau hanya membuang-buang waktu dan menghabiskan tenangamu. Kau melakukan hal sia-sia dan tidak berguna.”
Terdiam, Triana menyipitkan matanya. “Kau tidak perlu memperjelas itu semua. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku!”
Menggertakkan giginya, Vlador mengangguk. “Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku. Kau, menangis saja hingga tubuhmu kering.”
Kemudian Vlador bangkit dari pinggir ranjang Triana dan keluar dari kamar gadis itu. Dengan rahang keras, ia masuk ke dalam kamarnya.
“Gadis itu,” Gumam Vlador seraya memijat keningnya.
Lalu ia melepas tangannya dari sana dan menatapnya tidak percaya. Untuk apa ia memegang keningnya yang bakan tidak terasa sakit. Ia pun tidak mengerti mengapa keningnya harus mengkerut.
“Tangisan gadis itu membuatku hampir gila. Seharusnya aku tidak pernah menemaninya dari awal.” Gumam Vlador sebelum menghampiri jendela.
Ia membuka pintu jendela tersebut untuk mendapatkan angin segar meski ia tahu bahwa angin itu juga akan mengacak-acak isi kamarnya. Sambil memejamkan mata, Vlador menghirup udara dingin yang berhembus kencang menerpa wajahnya.
“Bahkan penjara bawah tanah tidak semencekik kamar itik itu.” Gumam Vlador seraya membuka matanya perlahan.
Di saat itulah ia menyadari bahwa di hadapannya terdapat hamparan bintang yang menyelimuti langit. Itu bukanlah hamparan bintang biasa. Jumlahnya jauh lebih banyak dan memiliki beberapa warna berbeda hingga membentuk pola-pola seperti ular.
Senyum tipis merekah di bibir Vlador. Ia menutup jendelanya dan bergegas keluar dari kamar untuk mengunjungi kamar Triana lagi.
Tanpa ragu, ia membuka pintu kamar tersebut dan mendapati gadis itu masih duduk menangis di atas kasur sambil memeluk bantal.
“Kenapa kau tidak mengunci pintunya?” Tanya Vlador setelah menutup pintu.
“Kenapa kau tidak mengetuk pintu?” Balas Triana sambil mengusap air mata yang masih membanjiri matanya.
“Lupakan.” Sahut Vlador singkat. Lalu ia menggapai tangan Triana dan menariknya. “Turunlah.”
“Ada apa?” Tanya Triana seraya turun dari ranjang.
Vlador tidak menjawab. Ia hanya menuntun Triana menuju jendela. Angin besar dan dingin menyeruak masuk ke dalam kamar ketika ia membuka jendela itu.
“Akh!” Triana meletakkan lengannya di depan wajah dan menutup erat kedua matanya.
Menarik turun tangan Triana, Vlador berbicara di samping telinganya, “Buka matamu, Itik.”
“Apa yang kau-“ Kalimat Triana terhenti ketika ia benar-benar telah membuka matanya. Ia mengambil satu langkah maju dan menyondongkan tubuhnya keluar jendela. “Indah sekali!”
Memperhatikan Triana dari belakang, Vlador hanya bisa menghela panjang. Sesulit itu dan semudah itu membuatnya berhenti menangis. Setidaknya apa yang ia perkirakan benar terjadi.
Kemudian Vlador menggeser tubuh Triana dari jendela. Lalu ia melompat keluar dan bergelantungan di bingkainya.
“Tuan Vlador,” Triana menatap Vlador dengan mata membulat yang memantulkan cahaya bintang-bintang.
Menjulurkan tangannya, Vlador menatap Triana dengan kedua alis terangkat. “Kau bisa melihat lebih jelas di atas.”
Angin yang berhembus keras mengepakkan jubah hitam Vlador dan mengacak-acak rambutnya. Suhunya yang dingin membuat tubuh Triana sedikit bergetar. Itu mungkin bukan ide yang sangat bagus, mengingat Triana mudah sakit. Namun langit seperti itu tidak muncul setiap malam atau pun setiap bulan.
Tiba-tiba sebuah tangan kecil dan hangat mendarat di dalam telapak tangan Vlador. Di sampingnya, wajah Triana memberikan senyum yang kilauannya mengalahkan jajaran bintang di atas kepala mereka.
Sebuah senyum miring terbentuk di bibir Vlador. Tidak ada keraguan di mata Triana. Ia jelas perlahan-lahan telah mengembangkan keberanian atau kepercayaan.
“Bagus.” Gumam Vlador seraya meraih pinggang Triana. Lalu ia menarik tubuh gadis itu keluar dari jendela.
“Berpegangan pada leherku.” Ucap Vlador seraya mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang Triana.
“M’m.” Triana mengangguk dan memeluk leher Vlador.
“Kita naik.” Ucap Vlador sebelum memanjat ke atas atap kapal hanya dengan satu tangan.
Sampai di atap, Vlador menurunkan Triana dalam posisi duduk. “Anginnya keras. Berhati-hatilah.”
Mendongakkan wajahnya ke atas dan tanpa mempedulikan angin yang menerbangkan rambut panjangnya, Triana berucap, “Itu terlihat seperti hamparan berlian. Aku tidak pernah melihat langit yang seperti ini!”
Kemudian Triana menurunkan pandangannya dan menoleh pada Vlador dengan mata berbinar-binar. Senyum lebar merekah di bibir merahnya. “Terima kasih telah menunjukkan hal menakjubkan ini padaku, Tuan Vlador.”
Diam sejenak, Vlador menjawab, “Kita semakin dekat dengan negri es. Udara semakin dingin dan salju akan segera turun. Setelah ini, kita tidak akan bisa naik ke atap lagi.”
Triana mengangguk-angguk kecil. Pipi dan hidungnya yang memerah di tengah-tengah kulitnya yang mulai membeku menggelitik perut Vlador.
“Maaf sudah mengganggumu dengan tangisanku, Tuan Vlador.” Ucap Triana pelan seraya menurunkan pandangannya meski senyum tipis masih tersisa di bibirnya. “Sepertinya perjalananku untuk menghilangkan sifat cengengku masih terlalu panjang.”
Terdiam sejenak, Vlador menjawab, “Aku dapat melihat kau sudah berusaha cukup keras. Aku tidak akan menghakimimu tentang itu.”
Lalu ia mencopot jubahnya dan meletakkannya di depan kedua tangan Triana. “Namun kau tidak akan menangis separah itu jika kau tidak terlalu mempedulikan orang lain.”
Tersenyum getir, Triana membungkus tubuh menggigilnya dengan jubah hitam itu dan mengancingkan bagian lehernya. “Aku bisa belajar untuk tidak mudah menangis, namun soal tidak mempedulikan orang lain, aku tidak yakin.”
“Maka kau yang akan menderita nantinya.” Sahut Vlador.
Triana menggeleng. “Dalam waktu dekat ini, aku tidak takut tentang hal itu.”
“Kenapa?” Vlador mengerutkan kening.
Sebuah senyum lebar kembali muncul di wajah Triana. Tiba-tiba ia bangkit berdiri, membuat Vlador menyambar lengannya.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin terjatuh?” Omel Vlador.
Namun Triana tetap tersenyum, bahkan mengeluarkan gelak tawa. Ia menggelengkan kepala lagi. “Karena kau ada di sini, bahkan menderita pun aku tidak takut.”
Mata Vlador membesar. Rahangnya terkunci dan lidahnya membeku.
Sementara itu, Triana mengalihkan wajahnya menatap ke depan dan merentangkan satu tangannya. Tawanya terus mengalir di kala angin berhembus melewatinya dan mengepakkan jubah kebesarannya.
***
Triana.
Gemertak kayu kering yang perlahan dilalap api dan hawa panas yang memancar dari tungkunya membuat kedua matanya terasa semakin berat. Ia memeluk kedua lututnya lebih erat dan menarik selimut yang membungkusnya lebih ketat.
“Mereka tidak punya susu atau coklat panas. Berterimakasihlah untuk segelas teh mint ini.”
Sebuah gelas melayang di dekat kepala Triana. Ia tersenyum tipis dan menyelipkan tangan dinginnya keluar dari selimut untuk menerima gelas tersebut.
“Tentu aku sangat berterimakasih, Tuan Vlador.” Ucap Triana sebelum menyeruput teh panasnya.
Vlador turut duduk di depan perapian, berhadapan satu langkah dari Triana. “Berkatmu, aku harus mencari air panas di dapur kapal malam-malam begini.”
“Aku sudah mengatakan terima kasih padamu. Tapi aku pasti akan membalas kebaikanmu jika ada kesempatan.” Sahut Triana.
“Habiskan tehnya sebelum dingin.” Ucap Vlador, lalu menghela singkat. “Tubuhmu sangat lemah. Siapa yang menyuruhmu berlama-lama berdiri di atap kapal seperti layar?”
Terkekeh kecil, Triana menjawab dengan suara seraknya, “Maaf. Langitnya terlalu menakjubkan. Aku pikir aku akan merasa bosan di atas kapal, tapi ternyata ada hal semenarik itu.”
“Perjalanan akan memakan waktu lebih dari sembilan hari. Tapi nantinya kita akan singgah di satu kota sebelum mencapai Kota Verxic. Di sana, awak kapal akan mengisi ulang bahan makanan dan air bersih.” Jelas Vlador.
“Apakah itu artinya kita bisa berkeliling?” Tanya Triana dengan nada meninggi dan mata membulat.
Vlador mengangguk. “Ya, kita bisa.”
“Itu bagus!” Triana bertepuk tangan kecil sebelum mengeratkan selimutnya. “Terima kasih sudah membuat perasaanku menjadi lebih baik, Tuan Vlador.”
“Itu tidak gratis, Itik.” Sahut Vlador, lalu tersenyum tipis. “Tadi kau berkata akan membalas budi, ‘kan?
“Kau benar,” Triana mengangguk, lalu mengeluarkan tangannya dari dalam selimut dan merentangkan pergelangannya ke depan Vlador.
Trimakasih banyak sudah membaca guys!! 💜💜🥰🥰
![]() |
| Cardigan >>> |
![]() |
| Paket Skincare Remaja >>> |


Komentar
Posting Komentar