Langsung ke konten utama

55. Kota Verxic // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Vlador.

"Membalas budi." Jawab Triana, mengerjapkan matanya.

Menarik napas panjang, Vlador menjawab, "Tarik tanganmu kembali. Aku membutuhkanmu untuk melakukan hal lain selain memberi darahmu."

"O-oh," Triana menarik lengannya. Jantungnya mulai berdebar keras hingga ia harus berdehem. "Apa hal yang kau butuhkan lebih dari... darah?"

"Ajari aku bahasa-bahasa yang kau tahu; Contohnya bahasa yang digunakan oleh dua pria yang membuatmu menangis itu." Jawab Vlador.

"Oh," Triana terkekeh. "Tentu. Aku akan dengan senang hati mengajarkanmu, Tuan Vlador."

"Bagus. Sekarang, menyingkirlah dari sana." Perintah Vlador sembari bangkit berdiri. Lalu ia melangkah menghampiri ranjang.

Berdiri sesuai perintah Vlador, Triana tidak bisa berhenti tersenyum. Dengan mengajarkan Vlador bahasa-bahasa yang ia tahu, ia tidak akan merasa bosan selama berada di atas kapal. Sebaliknya, itu akan sangat menyenangkan.

Fokus Triana teralihkan saat ia menyadari Vlador sedang mengangkat kasurnya dan meletakkannya di samping perapian.

"Maaf, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Triana.

"Perapiannya kecil dan udara dari luar semakin dingin. Kau harus tidur di samping perapian agar tubuhmu lebih hangat." Jawab Vlador.

Sebuah senyum lembut kembali terukir di wajah Triana. Vlador adalah pria yang sangat perhatian dan bisa diandalkan.

"Kau benar. Terima kasih." Ucap Triana.

Vlador melempar bantal ke atas kasur di samping kakinya. "Cepatlah istirahat. Aku ingin melihatmu sudah sehat besok."

"Aku yakin aku sudah sehat besok karena tubuhku dan perasaanku terasa nyaman sekarang." Jawab Triana sambil menatap Vlador.

***

Triana.

Berada di atas kapal, Triana memenuhi permintaan Vlador untuk mengajarinya bahasa-bahasa yang ia ketahui. Selain itu, mereka juga sering mengelilingi kapal dan memandangi langit dari geladak kapal meski udara semakin dingin.

Di pertengahan perjalanan menuju Kota Verxic, salju mulai turun dan beberapa batu es terlihat mengambang di laut.

Seperti yang Vlador katakan, kapal mereka singgah di pelabuhan sebuah kota kecil untuk menurunkan penumpang dan mengisi ulang bahan makanan. Di sana, mereka berkeliling dan membeli beberapa pakaian yang lebih tebal dan mencoba makanan yang kebanyakan belum pernah Triana lihat.

Hari yang membosankan di kapal ternyata tidak pernah Triana rasakan. Meski suhu semakin rendah dan salju turun semakin lebat, hatinya justru menghangat karena Vlador terus berada di sampingnya.

Waktu yang menyenangkan itu berlalu begitu cepat. Di hari ke tujuh belas, kapal mereka berlabuh di Kota Verxic.

Angin berhembus kuat, membawa butiran salju yang berakhir mendarat di topi hangat dan mantel bulu Triana.

"Ini giliran kita."

Suara Vlador menyadarkan Triana dari lamunannya. Sebuah tangan besar dan pucat terbuka di hadapannya.

"Oh, terima kasih." Ucap Triana seraya meletakkan tangannya yang terbungkus sarung tangan putih di sana.

"Perhatikan langkahmu. Kayunya licin." Vlador mengingatkan.

Mengangguk sekali, Triana mulai melangkahkan kakinya di atas papan kayu yang menghubungkan pintu keluar kapal dengan dermaga.

"Kota ini ditutupi salju tebal." Ucap Triana ketika mereka menginjak dermaga.

"Kota kecil bersalju abadi. Itu adalah sebutan untuk Verxic." Jelas Vlador.

"Dan kota ini lebih sepi dari yang aku kira." Ungkap Triana seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling dalam langkah pelan mereka.

"Ini adalah kota paling aktif di dataran ini." Sahut Vlador.

Tiba di jalan utama, Vlador mengangkat satu tangannya untuk memanggil jasa kereta kuda. "Antar kami ke penginapan yang berada di pusat keramaian." Pintanya pada sang kusir.

Kereta berukuran kecil itu melaju di atas jalan yang tertutup salju tipis. Tidak lama, mereka tiba di depan sebuah bangunan tiga lantai.

"Ini adalah salah satu penginapan terbaik di Kota Verxic. Tidak banyak pelancong singgah di kota ini, sehingga tidak banyak penginapan juga." Jelas kusir kereta.

"Itu adalah kemajuan yang cukup besar karena terakhir aku melihatnya, kota ini hanya memiliki sedikit rumah." Vlador memberi tahu Triana.

"Kau pernah datang ke sini?" Tanya Triana, setengah berbisik.

"Aku hanya melihat sebentar saat kapal perang kami singgah sejenak di kota ini." Jawab Vlador.

Kemudian Triana kembali menatap sekeliling. Kondisi jalanan yang sepi dan uap es yang mengganggu jarak pandang menghadirkan ketidaknyamanan di dadanya. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Vlador.

Setelah Vlador membayar jasa antar, mereka masuk ke dalam penginapan itu.

"Syukurlah, di sini jauh lebih hangat," Gumam Triana saat sudah berada di dalam. Ia pikir ia harus terus menggigil kedinginan selama berada di kota itu.

"Kami akan memesan kamar." Ucap Vlador setelah meletakkan kopernya di depan meja resepsionis.

Seorang pria dengan hidung besar dan lemak tebal di lehernya menyambut mereka. "Selamat datang. Berapa kamar yang ingin kalian pesan?"

"Apa kalian mempunyai satu kamar dengan dua ranjang?" Tanya Triana langsung sebelum Vlador sempat menjawab pertanyaan sang penjaga penginapan.

Vlador menoleh pada Triana dengan satu alis terangkat. Sementara itu, Triana hanya menatapnya balik seraya meneguk liur.

"Tuan Vlador, aku pikir aku akan mengganggumu sedikit di kota sepi ini." Bisik Triana.

"Kalian beruntung. Kami memilik sisa satu kamar kosong dengan dua ranjang." Jawab petugas penginapan itu.

Vlador mengalihkan pandangannya pada pria di balik meja tamu. "Kalau begitu, kami ambil yang itu."

Kemudian mereka diantar menuju kamar yang terletak di lantai tiga. Itu adalah kamar berukuran cukup kecil dengan dua ranjang kayu untuk satu orang yang membuatnya semakin sempit.

"Maaf. Aku merasa agak tidak nyaman dengan suasana kota ini. Aku merasa takut." Ucap Triana seraya duduk di pinggir ranjangnya.

Ikut duduk di ranjang miliknya yang hampir berdempetan dengan milik Triana, Vlador bertanya, "Kenapa?"

"Aku tidak yakin." Jawab Triana pelan, lalu melanjutkan, "Mungkin karena kota ini terlalu sepi dan dingin. Semuanya tertutup salju putih. Aku merasa ada sesuatu yang tiba-tiba akan muncul dan menerkamku."

Vlador terdiam sejenak, lalu mengangguk sekali. "Kalau begitu, tetaplah berada di dekatku."

Mata membesar, Triana menatap Vlador selama beberapa saat. Lalu ia menurunkan pandangannya untuk menahan rasa panas di kedua pipinya.

"Kenapa?" Tanya Triana.

"Apanya yang kenapa?" Vlador membalas bertanya.

"Biasanya kau selalu membantahku dan bahkan mengomel setiap aku berkata bahwa aku takut. Kenapa sekarang kau bicara seakan kau tidak terganggu dengan sifat penakutku?"

"Benarkah aku seperti itu?" Vlador mengusap dagunya, membuat Triana mendengus.

"Aku memang mencium adanya sedikit kejanggalan pada kota ini." Lanjut Vlador.

Triana memajukan duduknya dan menyondongkan tubuhnya ke depan. "Tapi kau bilang kau pernah datang ke sini, 'kan?"

"Itu benar. Dan saat itu, aku tidak merasakan hal janggal seperti sekarang." Jawab Vlador.

Menoleh ke jendela yang mengarah ke jalanan, Triana meneguk liur seraya memperhatikan salju yang turun di luar. "Ternyata ini bukan perasaanku saja,"

"Semakin lama berkeliaran di luar akan mempertajam instingmu terhadap bahaya." Ucap Vlador.

Lalu pria itu bangkit dari duduknya. "Aku akan turun untuk bertanya beberapa hal pada pegawai penginapan ini."

"Aku juga ikut." Triana melompat turun dari ranjang. "Tapi apakah aku boleh sekalian memesan minuman panas di kedai?"

"Aku sudah tahu." Jawab Vlador, membuat Triana tersenyum.

***

Vlador.

"Ini susu panasnya." Seorang wanita paruh baya dengan celemek meletakkan sebuah cangkir di hadapan Triana.

"Terima kasih." Ucap Triana sambil memberikan senyum ramah.

"Jadi ini termasuk minggu teramai?" Tanya Vlador pada pria tua yang bekerja di balik meja bar. Namanya adalah Rextov.

"Jarang sekali kamar di penginapan ini hampir penuh seperti hari ini. Orang datang ke Kota Verxic hanya untuk urusan yang sangat penting. Kota ini tidak memiliki sumber daya lain selain tambang es bersih dan ikan Redgre yang melimpah di perairannya." Jelas Rextov.

"Ikan Redgre yang melimpah seharusnya cukup untuk membuat kota ini ramai disinggahi nelayan atau pedagang. Aku dengar ikan itu memiliki nilai jual yang cukup tinggi, benar?" Tanya Vlador.

"Kau benar, namun jika ada pun, mereka lebih memilih berlabuh di pulau lain atau bermalam di kapal mereka sendiri. Hal yang paling besar yang mereka lakukan di sini hanyalah mengisi air dan mengisi ulang bahan makanan saja." Jawab Rextov.

"Penginapan bukan bisnis yang baik di sini." Wanita yang baru saja mengantar minuman Triana, ikut duduk dalam obrolan. "Terlebih, pulau ini cukup terkenal tidak aman. Dataran luas bersalju tebal dan hutan rapat yang dikelilingi perbukitan menjadi sarang nyaman bagi binatang-binatang buas."

"Itu benar." Rextov mengangguk. "Pemburu kami sering menghilang dimakan mereka. Aku menyarankan agar kalian tidak bermain terlalu jauh dari kota ini."

Trimakasih sudah membaca!! 💜💜💜

Hijab >>>

Kuteks >>>



Komentar