Langsung ke konten utama

65. Penangkapan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana.

 

“Dia di sini.”

Kalimat Elijah membuat Triana menoleh ke belakang. Matanya membesar melihat Vlador melangkah cepat menuju ke arahnya.

“Apa yang terjadi padamu?” Tanya Vlador.

Triana terdiam, tanpa sadar menelisik wajah kalut Vlador yang hampir tidak pernah ia lihat. Namun selain itu, pria tersebut juga terlihat berantakan, yang ia tahu mengapa.

“Hei, apa kau baik-baik saja?” Vlador memegang kedua pundak Triana dan mengguncangnya sedikit hingga mendapatkan fokusnya.

Meneguk liur, Triana menggelengkan kepalanya yang tegang.

Bibir Vlador mengatup, namun kedua matanya memperhatikan Triana dan kaki hingga kepala dan berhenti di kedua matanya, membuat Triana harus mengalihkan pandangannya ke samping.

Triana melangkah mundur, melepaskan kedua pundaknya dari cengkraman Vlador. “Maaf, aku mendapat mimpi buruk jadi aku terbangun.”

Masih memperhatikan Triana dengan mata menyipit dan kening sedikit mengkerut, Vlador bertanya pelan, “Apa kau… mungkin baru saja datang dari suatu tempat?”

Triana menjatuhkan pandangannya ke lantai dan menggeleng.

“Tuan Vlador,” Ucap Triana pelan sebelum mengangkat wajahnya untuk menatap mata pria itu. “Apa kau sudah menemukan cara bertemu penyihir Elix? Aku berharap bisa segera pulang ke rumah.”

“Rumah?” Ulang Vlador.

Triana mengangguk. “Aku merindukan keluargaku. Aku ingin segera pulang, menjalani kehidupan normalku yang dulu. Jika ada satu saja permintaanku yang bisa kau kabulkan, aku memohon padamu untuk memulangkanku ke keluargaku di kastil Galev.”

Permintaan Triana mendapatkan kesunyian dari Vlador selama beberapa detik. Ia dapat melihat rahang pria itu mengeras, namun ia tidak melihat kemarahan di kedua mata coklatnya. Ia tidak bisa membaca apa yang ada di dalam sana.

“Aku hampir berhasil.” Ucap Vlador, lalu tersenyum tipis. “Jangan khawatir. Aku pasti akan memulangkanmu ke keluargamu dan kau akan menjalani kehidupanmu yang normal seperti sebelumnya.”

Tiba-tiba angin dingin berhembus keras dari ujung lorong dan jendela-jendela, membuat mereka menoleh ke jendela terdekat untuk menyaksikan salju berterbangan menyamping.

“Angin musim dinginnya. Itu sudah datang.” Ucap Elijah dengan suara sedikit bergetar.

“Aku harus pergi sekarang. Waktu kita tinggal sedikit.” Ucap Vlador.

Triana mengangguk. “Aku akan kembali ke kamar. Tuhan menyertaimu, Tuan Vlador.”

Ketika Triana berbalik badan untuk kabur ke kamarnya, Vlador menahan kedua pundaknya dan membuatnya kembali berbalik.

Ia menatap Vlador bingung. Ada hal yang ingin ia katakan, namun ia tidak tahu apa, sehingga rasanya mengganjal di kerongkongannya. Ia tidak tahu mengapa, namun ia melihat kesedihan di kedua mata coklat bersinar itu.

“Maaf.”

Kata tak terduga yang keluar dari mulut Vlador membuat Triana terdiam. Namun ia segera menyadarkan dirinya dengan berdehem pelan dan mengangguk sekali.

“Aku segera kembali. Jaga dirimu.” Vlador melepaskan tubuh Triana.

Lalu ia beralih pada Elijah. “Dampingi dia sampai aku kembali.”

“Baik, yang mulia.” Jawab Elijah, membuat Vlador benar-benar pergi meninggalkan mereka dengan langkah cepat.

 

***

 

Triana.

 

Langkahnya terburu-buru namun berhati-hati.

Suara angin badai di luar tidak lagi terdengar, hanya langkah mereka yang menggema di lorong sempit itu.

“Elijah, apa kau yakin kita tidak perlu tinggal di kamar saja? Aku pikir kamar tidak sedingin itu.” Tanya Triana dalam langkah cepatnya. “Maksudku, aku bisa menahan suhunya jika tetap duduk di depan perapian.”

Gadis itu tidak menoleh, hanya tetap melangkah dengan satu tangan mengangkat lentera di depan dahinya. “Itu adalah pemikiran yang salah, lady. Aku tahu tempat yang lebih aman dan akan memberitahu Pangeran Vlador ketika ia kembali.”

Perlahan, kening Triana mengkerut sementara ia terus menatap punggung Elijah.

“Elijah, apa mungkin terjadi sesuatu padamu? Maaf, tapi aku merasa kau jadi agak pendiam tiba-tiba.” Tanya Triana.

Tiba-tiba langkah Elijah berhenti, membuat Triana nyaris menabrak tubuh gadis itu. Kemudian gadis itu berbalik untuk menghadap Triana sambil tersenyum lebar.

Mata Triana terbelalak ketika tiga pria bermata merah menyala muncul dari kegelapan di belakang Elijah.

“E-Elijah, apa yang terjadi?” Gagap Triana seraya melangkah mundur.

“Kau akan tahu nanti, lady bodoh.” Ucap Elijah bersama cahaya biru yang keluar dari kedua kakinya dan menyeruak ke atas.

Sedetik kemudian, cahaya dingin itu bergerak memutari Triana hingga membuat tubuhnya mati rasa dan tidak dapat digerakkan. Bersama dengan itu, kegelapan menyelimuti pandangannya dan ia kehilangan kesadarannya.

 

***

 

Vlador.

 

Ia masuk ke ruangan Frederick tanpa mengetuk pintu, lalu memanggil nama pria itu dengan suara keras.

“Frederick!”

Tidak lama, sosok yang ia tunggu muncul dari kegelapan.

“Ini adalah berita buruk untukmu, pangeran. Badainya sudah datang dan aku harus menarik orang-orangku kembali.” Ucap Frederick.

“Aku tahu.” Jawab Vlador, lalu menghampiri Frederick dengan langkah cepat. “Lupakan itu semua. Ada hal yang lebih penting yang harus kau lakukan.”

“Apa itu, pangeran?”

“Mansionmu ini pernah ditempati oleh penyihir Elix. Mereka bahkan mengetahui sesuatu tentang kakek dan ayahku.” Jelas Vlador cepat, lalu melanjutkan, “Kita harus menggeledah mansion ini dan mencari jika ada pintu rahasia. Aku yakin mereka bersembunyi di sini.”

“Ah…” Frederick mengangguk-angguk kecil, lalu merapatkan kedua bibirnya dan melangkah mundur.

“Tapi, pangeran…” Ucap pria itu, membuat Vlador mengerutkan kening. “Sayangnya aku harus menolak perintahmu itu.”

Mengeratkan rahangnya, Vlador mengangguk sekali. “Aku akan mempertimbangkan permohonanmu itu jika aku berhasil bertemu penyihir Elix. Apa aku perlu mempertegasnya lagi?”

“Tidak, tidak.” Frederick menggeleng. “Namun itu bukan sebuah permohonan lagi, pangeran.”

Menatap Frederick, mata Vlador melebar saat ia menyadari ada hal yang aneh. Ia tidak dapat merasakan jantung Triana lagi.

“Sayang sekali, aku tidak bisa berharap kau akan membangkitkan pasukan vampirnya dengan sukarela, bahkan meski kau berjanji sekali pun, pangeran.” Ucap Frederick, lalu menatap Vlador dengan ujung matanya dan tersenyum tipis.

“Aku tidak yakin kau bersedia membalas para manusia dan membinasakan mereka karena gadis manusia itu berkata bahwa ia ingin pulang pada kaumnya.” Lanjut Frederick.

Rahang Vlador semakin mengeras. “Apa yang terjadi?”

Senyum Frederick semakin melebar. “Bagaimana jika aku memberitahu hal yang lebih bagus, yaitu apa yang akan terjadi?”

Kuku-kuku pada jemari Vlador memanjang dan kedua matanya berubah merah. “Sepertinya kau berharap klanmu punah dari muka bumi ini.”

“O-ho… Sebaiknya kau tidak perlu terburu-buru, pangeran.” Frederick menggoyangkan kedua telapak tangannya di depan dada. “Mungkin kau akan lebih marah jika gadis kecilmu mengalami hal menakutkan yang membuatnya lebih memilih mati.”

Menahan geram, Vlador tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Triana, ia tidak bisa merasakan detak jantungnya lagi. Namun yang pasti, mereka sudah mengetahui bahwa Triana sangat penting untuknya; hal yang ia khawatirkan selama ini.

“Di mana Triana sekarang?” Tanya Vlador.

“Kau akan segera bertemu dengannya, pangeran. Tenang saja, kami tidak akan membunuhnya karena nyawa kalian saling terhubung, benar?” Frederick tersenyum.

Mata Vlador berkedut. Dari mana mereka bisa mengetahui tentang kutukan itu?

Meski banyak pertanyaan dan spekulasi berterbangan di kepalanya, Vlador tetap berusaha mengendalikan emosi. Keadaan tidak akan membaik jika ia mengamuk sekarang.

“Jadi kau berpikir sudah menemukan cara mengendalikanku? Apakah seratus tahun membuatmu lupa siapa aku dan apa yang bisa aku lakukan?” Tanya Vlador.

Daripada menjawab Vlador, Frederick menjentikkan jarinya sambil terkekeh. Kemudian, lima penjaga vampir muncul dan mengelilingi Vlador.

“Justru karena aku mengenalimu, Pangeran Vlador, putra dari Raja Dracount, maka aku yakin aku bisa mendapat apa yang aku inginkan.”

Suara rantai membuat Vlador menoleh pada tangan para penjaga.

“Tolong menurutlah, pangeran. Atau gadis manusiamu akan kehilangan kedua bola matanya dan mungkin juga lidahnya.” Ucap Frederick dengan nada sopan.

Tidak dapat melawan, Vlador membiarkan kelima penjaga itu memasang pasung rantai di kedua tangan, kaki, dan lehernya.

Ia menatap Frederick geram. Apa yang pria itu rencanakan? Ia harus segera menyelamatkan Triana.

 

***

 

Vlador.

 

Menutup matanya adalah hal percuma, namun para vampir rendahan itu begitu takut hingga tetap mengikat kain hitam di atas mata Vlador.

Mereka membawanya turun jauh ke bawah tanah mansion itu. Tangga berputar yang lembab dan dingin membawa mereka ke aula bawah tanah besar yang diterangi oleh obor-obor di dindingnya.

Sebuah kandang berjeruji besi telah disiapkan di tengah-tengah tempat itu.

“Kalian tidak tahu apa yang sedang kalian lakukan.” Ucap Vlador, memberi tawa kecil sementara ia dimasukkan ke dalam kandang itu.

“Maaf telah menyakiti harga dirimu, pangeran. Kami tidak memiliki cara lain.” Ucap Frederick dengan tangan terlipat di depan dada.

“Kau pikir kau bisa membuatku membangkitkan pasukan vampir itu dengan melakukan ini? Jangan bermimpi.” Desis Vlador.

“Aku, kami, cukup yakin.” Frederick tersenyum, menyaksikan kedua tangan Vlador di rantai ke kiri dan kanan seperti binatang buas.

“Gadis mortal itu yang akan mewujudkannya untuk kami.” Lanjut Frederick.

Tissu >>>

Kemeja >>>



Komentar

Posting Komentar