Langsung ke konten utama

71. Pengangkatan Kutukan // Dikutuk Bersama Tuan Vampir

    Banner Novel Seri

Triana

 

Matanya mengerjap cepat, seakan ingin meruntuhkan bulu mata lentiknya seperti ranting pohon menggugurkan daunnya di musim gugur.

“Bukankah tidak sopan membuat Shebsa menunggu seperti ini?” Ucap Vlador sebelum memegang kedua pundak Triana dan memutar tubuhnya.

Vlador membawa Triana kembali menghadap Shebsa yang menyambut mereka dengan senyum lembut. Sementara itu, Triana berusaha mengendalikan wajahnya yang terasa panas.

“Kelihatannya kalian sudah selesai. Ikutlah denganku.” Ucap Shebsa.

Kemudian wanita dengan gaun lurus yang menyapu lantai es itu mengantar mereka pada sebuah altar yang berada di tengah-tengah sarang Elix. Altar itu adalah titik yang mendapatkan cahaya paling terang di tempat itu.

“Ini adalah pertanyaan terakhirku.” Ucap Shebsa, berdiri di hadapan Triana dan Vlador. “Apakah kalian ingin mengangkat kutukan yang mengikat kalian?”

Pertanyaan Shebsa menumbuhkan duri di kerongkongan Triana. Dengan leher agak kaku, ia menoleh pada Vlador dan menyadari pria itu juga tengah menatapnya.

Tidak ada tatapan dingin pada kedua mata Vlador. Bahkan Triana tidak tahu kedua mata itu bisa memberikan tatapan yang begitu lembut, seakan sedang mencoba meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.

“Jawabanmu adalah jawabanku, Triana.”

Mendengar Vlador menyebut namanya, menumbuhkan keberanian dan ketenang di hati Triana. Kalimat itu membuatnya memutuskan untuk mempercayai pria itu sepenuhnya.

Triana mengangguk dua kali, lalu menatap Shebsa. “Kutukan ini harus diangkat.”

“Maka itulah yang akan terjadi.” Ucap Shebsa.

Kemudian, pemimpin penyihir Elix itu melangkah mundur seraya mengangkat kedua tangannya. Mulutnya terus bergerak merapalkan mantera yang tidak Triana pahami artinya.

Perlahan, cahaya hijau berbentuk asap menyeruak keluar dari lantai yang dipijak oleh Vlador dan Triana. Setelah itu satu tangan Vlador terangkat ke depan. Melihat ekspresi pada wajah pria itu, Triana yakin ia tidak melakukannya dengan sengaja.

“Dendam telah dihapuskan. Ikatan darah tidak lagi diperlukan.” Ucap Shebsa lantang.

Kemudian, Shebsa membentangkan kedua tangannya ke dapan, menghadap Triana dan Vlador.

“Dengan upacara ini, Vlador Lev Dracount tidak lagi bergantung nyawa pada Triana Rexa Galev. Begitu pula sebaliknya.”

Sambil terus menatap Vlador, Triana menahan air pada kedua matanya yang membuat pandangannya kabur.

Seharusnya Triana bersyukur kutungan mereka akhirnya diangkat setelah perjuangan berat dan perjalanan panjang. Namun ia tidak dapat menyangkal sisi di hatinya yang enggan melepas kutukan itu. Sisi lain dirinya merasa takut.

Tidak lama, dari ujung jari telunjuk Vlador, setetes darah terjatuh ke atas lantai dan menghilang dalam satu kedipan mata. Bersama dengan itu, cahaya hijau yang berada di kaki mereka menguap ke atas dan turut lenyap.

Vlador menarik tangannya dan menekan dadanya sendiri. Keningnya mengkerut keras dan ia tertegun. Namun itu tidak berlangsung lama hingga ia menoleh pada Triana.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Vlador.

Triana mengangguk dan ia tidak dapat menahan air matanya untuk menetes.

“Tenanglah.” Vlador langsung meraih tubuh Triana yang bergetar dan mendekapnya erat. “Kau baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Kalimat Vlador seakan melepaskan tali tambang yang melilit dada Triana. Ia merasa lega, namun hal itu malah membuat tangisannya semakin keras.

“Jangan pernah meninggalkanku. Berjanjilah.” Isak Triana.

 

***

 

Vlador.

 

“Ia bersinar seperti bintang.”

Vlador mengalihkan pandangannya dari Triana yang sedang bercanda bersama para penyihir muda. Ia tersenyum tipis sebelum menambahkan kalimat Shebsa,

“… di kelamnya langit malam.”

“Keretanya sudah dimanterai. Angin dinginnya pun sudah mulai mereda. Kalian akan selamat sampai di kota selama jendelanya tidak dibuka.” Ucap Shebsa.

“Aku tidak tahu apa yang pantas aku berikan untuk membalas pertolonganmu. Aku pasti akan kembali lagi untuk membayar semuanya.” Ucap Vlador.

“Jika buakan karena leluhurku yang menciptakan kutukan darah ini, kalian tidak akan menjadi salah satu korbannya. Bisa menyelamatkan kalian adalah bentuk tebusan yang aku lakukan demi meringankan beban kesalahan leluhur Elix.”

Vlador mengangguk mengerti. “Maaf jika sebelumnya aku berperasangka buruk terhadap klan kalian.”

“Kewaspadaanmu wajar, mengingat apa yang salah satu saudari kami lakukan pada kalian. Namun aku menyarankan agar kau tetap waspada untuk ke depannya. Ia bukan seorang penyihir yang mudah menyerah.” Jelas Shebsa.

“Aku berencana membawa Triana ke kota yang sangat jauh. Tempat di mana salju langsung mencair begitu menyentuh tanahnya.” Jawab Vlador.

“Itu adalah keputusan yang bijak.” Shebsa mengangguk sekali. “Sihir kami melemah di tempat hangat.”

Kemudian Vlador berdehem sekali. “Sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.”

Shebsa mengerjap dan mengangguk sekali.

Diam sejenak, Vlador mulai berbicara, “Apakah mungkin seorang mortal hidup selamanya bersama immortal tanpa mengalami konsekuensi?”

“Aku yakin itu bukanlah pertanyaan yang perlu aku jawab.” Jawab Shebsa.

“Tunggu sebentar,” Vlador menggelengkan kepalanya kasar sambil memejamkan matanya erat. Kemudian ia mengganti pertanyaannya, “Bagaimana cara mengubah seorang mortal menjadi immortal tanpa memiliki efek samping?”

“Pangeran Vlador, sejak ratusan tahun yang lalu, satu-satunya cara mengubah mortal menjadi immortal adalah dengan upacara Coocon yang hanya bisa dipraktekkan oleh penyihir. Kami, Penyihir Elix, adalah salah satu yang mampu mempraktekkannya. Namun hingga detik ini, kami belum menemukan cara menghilangkan efek sampingnya yang bahkan berbeda-beda pada setiap orang. Ritual ini hanya pernah dipraktekkan pada segilintir orang adalah hal yang juga harus kau ingat.”

Penjelasan Shebsa membuat Vlador terdiam. Ia tidak mampu mengendalikan tatapannya untuk terjatuh ke tanah.

“Hidup bersama mortal, artinya kau harus siap menyaksikan raganya digerogoti waktu dan menghadapi kematian yang tak terelakkan. Cinta yang bertumbuh besar selama itu akan menyengsarakanmu ketika ia pergi untuk selamanya. Kau harus menahan musim duka yang sangat panjang.”

“Aku tidak berkata aku mencintainya.” Ucap Vlador, setengah bergumam. Lalu ia mengangkat pandangannya. “Aku adalah vampir. Aku tidak mencintai.”

“Kau tidak mengatakannya, namun kau merasakannya.” Sahut Shebsa dengan tenang.

Kalimat itu membungkam mulut Vlador.

Merasakan cinta? Ia bahkan tidak tahu apa itu cinta.

“Keretanya sudah siap. Terix akan mengantar kalian sampai ke kota Verxic. Seharusnya semua perbekalannya cukup untuk kalian gunakan sampai ke kota yang jauh.” Ucap Shebsa.

Vlador mengangguk. “Aku akan membalas jasa kalian. Itu adalah sumpahku.”

 

***

 

Vlador.

 

Tangan Triana melambai di balik jendela. Bahkan hingga para penyihir itu sudah tidak terlihat, ia masih mengintip keluar.

“Kau akan memecahkan kacanya dengan kedua matamu. Apa kau seenggan itu pergi dari sana?” Tanya Vlador sambil memperhatikan Triana. Pipinya bersandar pada punggung jarinya yang mengepal.

Menutup tirai jendela, Triana berdehem, lalu menjawab, “Mereka adalah penyihir yang paling menyenangkan yang pernah aku temui.”

Mendapati Triana terus menundukkan wajahnya, Vlador bertanya, “Apa kau mulai menyesali keputusanmu?”

“Keputusan apa?” Triana menaikkan pandangannya untuk menatap Vlador, lalu segera mengalihkannya ke jendela.

“Untuk mengikutku dan menjadi milikku.” Jawab Vlador.

Triana kembali menatap Vlador, lalu menggeleng cepat. “Tentu saja tidak.”

“Lalu kenapa kau terus menunduk dan terlihat murung?” Tanya Vlador.

Triana kembali menunduk, lalu menekan kedua bibirnya. “Aku hanya… hanya,”

“Hanya apa?” Tanya Vlador tidak sabar.

“Aku hanya bingung. Aku bingung karena kau berkata bahwa aku adalah…” Triana berdehem. “… milikmu.”

Kalimat Triana membuat Vlador menarik napas panjang dan melipat lengannya di depan dada. Ia memperhatikan Triana yang masih menundukkan wajah. Dari rona pada pipinya dan jemari kedua tangannya yang saling mengasah, ia tahu gadis itu merasa tidak nyaman. Triana adalah gadis polos.

Vlador tidak melupakan apa yang terjadi di bak darah saat itu. Ia memang mencium Triana, cukup lama dan intens. Ia akui ia tidak pernah kehilangan kendali seperti itu. Ia merasa dunia di sekelilingnya berputar dan berpusat pada Triana. Bibir gadis itu seakan menariknya kuat, dan saat ia mencobanya, rasa lapar yang tidak dapat ia jelaskan membuatnya ingin menelan gadis itu.

Jika bukan karena Triana kehilangan kesadaran, ia mungkin sudah bertindak lebih jauh.

Triana melepaskan tekanan pada kedua bibirnya, membuat Vlador tanpa sadar mengeratkan rahangnya.

Mulut Vlador membentuk senyum miring. “Syarat untuk mengikutku adalah menjadi milikku. Apakah kau keberatan?”

Triana kembali menggeleng, namun agak pelan.

Kedua alis Vlador berkedut.

Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran Triana? Apakah ia takut? Atau ia menyesal tapi tidak mau mengakuinya?

“Dengan menjadi milikmu, tugas apa yang harus aku lakukan?” Tanya Triana.

“Tugas?” Ulang Vlador.

“Aku sudah berjanji akan menjadi berguna untukmu dan menghasilkan banyak uang. Saat ikut denganmu, aku akan menjadi wanita berdaya.” Triana menatap Vlador dan membuat senyum tipis.

Menyipitkan matanya, Vlador bertanya, “Jadi kau memilih ikut denganku agar menjadi wanita berdaya?”

Triana mengangguk. “Sesuai janjiku.”

Vlador terdiam beberapa saat. “Jadi kau…” ia kembali terdiam.

Lalu Vlador mengangguk dan tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya, “Maka kau akan menjadi berguna. Tenju saja.”


Teman2!! Trimakasih banyak masih support dan setia baca cerita ini! Maaf ya kalau aku masih suka lama updatenya 🙏🙏


Lihat Produk (Klik)

Lihat Produk (klik)





Komentar

  1. Thorrrr akhirnyaaaaaa update🥳🥳🥳🥳🥳

    BalasHapus
  2. SEMANGATT KAKK, TERIMAKASII SUDAA UPDATEE🫶🏻💓💓🌷

    BalasHapus
  3. SEMANGAT KAK!!! AKAN DITUNGGU TERUS UPDATE SELANJUTNYA 😆😆😆😆💪💪

    BalasHapus
  4. yeayyy, terimakasih update annya kakaaaaaa, semangatttt🤩🤩🤩

    BalasHapus

Posting Komentar