Triana.
“Mereka bukan sekedar ingin menyiksanya. Mereka ingin memastikan ia memiliki hal yang mereka harapkan.” Ucap Shebsa.
“Apa hal itu?” Tanya Triana.
“Perasaan.”
Jawaban Shebsa membuat Triana termenung. Jadi selama ini Vlador menahan diri untuk tidak meminum darahnya? Sementara jika ia ingin, ia bisa saja meminum darah Triana tanpa membunuhnya.
Jika Triana memikirkannya kembali, belakangan ini Vlador tidak pernah menyebut ingin meminum darahnya.
Perasaan.
Apakah itu artinya Vlador memang memiliki perasaan peduli padanya?
Apakah Vampir Verdonix menganggap perasaan adalah kelemahan Vlador?
Triana mengangkat wajahnya kembali. “Aku harap aku bisa segera bertemu Tuan Vlador. Aku sangat mengkhawatirkannya dan… ingin melihatnya.”
“Mungkin salah satu dari saudari kita ada yang bersedia mengantarmu setelah makan.” Ucap Shebsa, menatap para penyihir muda yang saling menoleh.
“Yah, karena aku adalah yang paling pemberani di sini, aku akan mengantarmu.” Ucap penyihir yang duduk di sebrang Triana. “Namun apa kau benar-benar yakin ingin menemuinya sekarang?”
Triana mengangguk. “Aku sangat ingin bertemu Tuan Vlador. Ada hal yang harus aku katakan padanya.”
“Baiklah jika itu keinginanmu.” Penyihir itu kembali melahap makanannya.
“Terima kasih.” Ucap Triana pelan. Ia harus mengatakan hal itu pada Vlador sebelum kutukan mereka diangkat.
***
Triana.
“Dia berada di balik pintu ini.”
Triana menatap pintu di hadapan mereka. Ia menoleh ke belakang dan sekeliling, mendapati mereka berada di ujung lorong yang cukup panjang.
“Aku akan membukanya.” Ucap Triana sebelum mendorong pintu tersebut.
Pupil mata Triana melebar. Ia tidak menyangka akan menemukan kegelapan dan hembusan udara yang tidak nyaman di balik pintu tersebut.
Penyihir itu mengambil salah satu tongkat panjang yang tersusun di samping pintu tersebut. Lalu ia mencubit kristal di ujung tongkat itu untuk membuatnya memijarkan cahaya putih.
“Gunakanlah ini sebagai sumber cahaya.”
Menerima tongkat cahaya itu, Triana bertanya ragu, “Apa kau yakin Tuan Vlador berada di dalam?”
“Ia memang berada di dalam. Kau hanya perlu berjalan mengikuti lorongnya hingga menemukan ruangannya.” Jawab penyihir itu.
Kembali menatap lorong gelap di depannya, Triana meneguk liur. Lalu ia melangkah masuk dengan kecurigaan bahwa ia ditipu lagi. Namun entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa Vlador benar berada di dalam sana.
“Semoga beruntung.”
“Terima-“ Kalimat Triana terhenti saat ia menoleh ke belakang dan mendapati pintu ruanganya sudah tertutup. Kini ia dikelilingi oleh kegelapan.
Dengan jantung berdegub keras, Triana melangkah semakin dalam. Itu adalah perjalanan sepuluh menit yang terasa sangat lama hingga ia bertemu sebuah ruangan besar dengan sedikit cahaya dari beberapa obor yang menggantung di dinding.
Jika para penyihir itu memberikan ruangan untuk Vlador, ia rasa ruangan itu cocok untuknya. Berada di sana mengingatkan Triana pada kastil Vlador yang menyeramkan di tengah hutan.
Namun satu hal yang menarik seluruh perhatian Triana adalah sebuah bak mandi bundar yang terletak di tengah-tengah ruangan, membuat ruangan itu terasa semakin aneh.
Dengan napas berat, Triana menghampiri bak mandi itu dan mendapatinya berisi air berwarna merah pekat. Ia berlutut di sampingnya dan menyentuh air itu dengan ujung jari telunjuknya.
Ia menyeka jarinya dan mengendusnya. Matanya terbelalak. “Darah?”
Tiba-tiba sesuatu keluar dari dalam bak darah itu dan mencengkram tangan Triana yang sedang bertengger di pinggir bak. Napasnya tercekat mendapati bahwa benda itu adalah sebuah tangan besar dengan kuku hitam dan runcing seperti cakar.
Tubuh Triana mematung. Lidahnya kelu melihat gelembung udara muncul menggetarkan kolam darah di hadapannya. Kemudian sebuah wajah timbul di tempat yang sama, disusul oleh kepala, lalu tubuh pria besar berlumur darah.
“Tu-tuan… Vlador,” Gumam Triana, tidak yakin karena pria di hadapannya tertutup oleh gelapnya merah darah.
Mata pria itu terbuka, menampakkan sepasang mata merah yang menyala menembus darah yang menetes dari bulu matanya.
“Kenapa kau ada di sini?”
Suara dingin Vlador membuat Triana bisa bernapas lagi. Ketegangan di pundak dan lehernya mereda. Meski perasaannya sudah tenang, ia masih berusaha mengendalikan jantungnya yang sempat terkejut melihat wujud Vlador yang mengerikan.
“A-aku mencarimu,” Ucap Triana.
“Kenapa?” Tanya Vlador.
“Ada yang ingin aku katakan padamu.”
“Kau bisa menunggu daripada harus menghampiriku sekarang.” Ucap Vlador dingin.
“Shebsa berkata kau terluka parah. Aku khawatir dan tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat keadaanmu dengan mata kepalaku sendiri.” Jelas Triana.
“Dan beginilah keadaanku.” Desis Vlador, lalu tersenyum miring. “Bukankah menurutmu ini mengerikan?”
“Jika ini yang tubuhmu butuhkan untuk pulih, aku rasa itu tidak apa. Aku akan mengerti. Bahkan jika kau membutuhkan darahku, aku akan memberikannya padamu.” Ucap Triana seraya berusaha mengendalikan napasnya karena bau sekolam darah tepat di depan hidungnya mulai membuatnya mual.
Vlador diam sejenak menatap wajah Triana. Wajah Vlador yang berlumur darah membuat Triana kesulitan membaca pikirannya.
Tiba-tiba Vlador mendekatkan wajahnya pada wajah Triana. “Gadis manusia, enyahlah dari hadapanku.”
Kalimat Vlador membuat Triana meneguk liur. Ia segera menyahut, “Aku minta maaf, Tuan Vlador. Karena kebodohanku kau jadi terluka parah. Aku akan melakukan apa saja jika itu bisa meredakan amarahmu terhadapku.”
Vlador memundurkan wajahnya sedikit, lalu menjawab, “Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Segera, kutukan yang mengikat kita akan dicabut. Di saat itu juga kita tidak perlu melihat satu sama lain. Aku akan terbebas darimu dan kau terbebas dariku.”
“Tuan Vlador.” Panggil Triana, tanpa sadar dengan suara sedikit meninggi dan agak bergetar. “Aku memiliki permohonan,”
Vlador hanya diam menatapnya.
Triana menggelengkan kepala pelan seraya menyembunyikan wajahnya dengan menunduk, menahan air mata. “Setelah kutukannya dicabut, aku mohon agar aku bisa ikut denganmu. Aku berjanji tidak akan merugikanmu lagi. Aku akan menurut pada apa saja yang kau katakan.”
“Bukankah kau sudah pernah menanyakan hal bodoh itu?” Pertanyaan Vlador membuat tubuh Triana kaku. “Jawabanku sudah jelas, bukan? Aku tidak mau menampung parasit.”
“Aku mohon,” Triana mengangkat wajahnya dan menatap Vlador dengan mata berkaca-kaca. “Aku akan menjadi pengikut yang berguna dan tidak menyusahkan. Bawalah aku bersamamu. Aku mohon.”
Senyum tipis menggores wajah Vlador. Lalu ia memegang rahang Triana dengan cakarnya. “Apa kau seketakutan itu atas hidupmu? Kau lupa janjiku? Aku tidak akan menelantarkanmu begitu saja. Aku bisa membangunkanmu kehidupan baru yang nyaman di kota besar atau mengembalikanmu pada orangtuamu. Kau hanya perlu memilih-“
“Segalanya yang aku inginkan adalah berada di sisimu.” Triana memotong kalimat Vlador. “Aku tidak butuh kehidupan baru atau kembali pada orangtuaku. Aku hanya ingin ikut denganmu.”
“Setelah kau hampir mati karena para vampir yang mengejarku? Apa kau terlalu bodoh hingga tidak bisa menilai bahwa berada di sekelilingku adalah ancaman untuk keselamatanmu?” Tanya Vlador, masih tersenyum meremehkan.
Nada bicara Vlador yang merendahkan dirinya membuat Triana menekan kedua bibirnya. Lalu ia menjawab, “Aku tidak bodoh, Tuan Vlador. Jika aku benar bodoh, aku tidak akan menyadari bahwa kau berusaha menyingkirkanku karena kau mengkhawatirkan keselamatanku.”
“Ha.. Ha ha ha,” Tawa Vlador menggema di ruangan dingin itu. Ia menegapkan tubuhnya hingga setengah pinggulnya keluar dari air, membuat Triana refleks menundukkan wajah.
“Triana si ititk bodoh yang dibuang oleh keluarganya berakhir menganggap pemangsanya sebagai pelindung. Kau adalah parasit yang sangat sulit disingkirkan.” Ucap Vlador.
Kemudian Vlador meraih rahang Triana lagi dan mengakat dagunya, memaksa wajah Triana mendongak ke atas.
“Lihatlah apa yang ada di atas kepalamu, Itik.” Ucap Vlador.
Triana menyipitkan matanya. Bukankah yang menggantung di atas sana adalah dekorasi langit-langit biasa?
Namun setelah berusaha melihat lebih jelas, pupil Triana bergetar. Ia terjatuh duduk ke belakang, tanpa sengaja memperjelas sudut pandangnya pada apa yang berada di atas mereka dalam kegelapan.
Lima pria digantung dengan posisi kaki diikat pada sebuah besi bundar. Kepala mereka berada di bawah dan leher mereka memiliki luka sayat besar.
Mata Triana kembali menatap Vlador. Darah yang memenuhi bak mandi itu, darah yang melumuri seluruh tubuh Vlador, dan bahkan yang menempel di rahang Triana adalah darah kelima pria itu.
“Bagaimana, Triana? Apakah kau takut?” Tanya Vlador dengan seringai di wajahnya.
“Inilah diriku. Aku bermandikan darah dan memakan manusia, kaummu. Aku adalah pembunuh yang keji. Aku adalah monster.”
Kalimat Vlador membuat Triana termenung. Rasa takutnya perlahan menguap. Vlador benar bahwa ia adalah monster. Seharusnya Triana takut padanya, namun entah sejak kapan, ia telah memandang Vlador dengan cara yang berbeda.
Apapun yang Vlador lakukan dan tunjukkan padanya, Triana hanya memiliki satu perasaan untuknya.
“Aku mencintaimu, Tuan Vlador.”
![]() |
| Tumbler >>> |
![]() |
| Ootd >>> |


Semangat lagi kak up nyaa🥰🥰😁
BalasHapusTrimakasihhh!!
Hapussemangatt kakakkk, ditunggu update selanjutnya
BalasHapusMakasihhhh kakk.. sudah update yaa
Hapus